Page 2 of 3 FirstFirst 123 LastLast
Results 21 to 40 of 56

Thread: Imunisasi, Bahaya atau tidak?

  1. #21
    coba-coba
    Join Date
    Dec 2011
    Posts
    11
    Berita yang memuat hasil temuan LPPOM Majelis Ulama Islam Sumatera Selatan yang menyimpulkan bahwa Vaksin Meningitis mengandung enzim porchin dari babi ternyata berbuntut panjang. Bagaimana tidak, sebab Vaksin Meningitis diharuskan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi bagi calon jamaah haji Indonesia, bahkan seluruh jamaah haji sedunia. Anggota Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara' (MPKS) Departemen Kesehatan (Depkes), Prof Jurnalis Udin berkata: ''Pemerintah berniat melindungi rakyat, karena Pemerintah Arab Saudi mewajibkan calon jamaah haji harus divaksin supaya tidak terserang meningitis.'' (Koran Republika Kamis, 30 April 2009 pukul 23:27:00) Mau berangkat melaksanakan ibadah malah disyaratkan untuk dimasukkan terlebih dahulu zat najis ke dalam tubuh para hamba Allah tersebut..! Kalau kita ikuti pemberitaan soal kasus ini -di harian yang sama- ternyata pendapat yang muncul saling kontra satu sama lain. Ada sementara fihak yang terkesan meringan-ringankan masalahnya dan ada fihak lainnya yang tampak sangat peduli dan prihatin.

    Pertama, hasil temuan LPPOM Majelis Ulama Islam Sumatera Selatan tersebut sudah melewati forum diskusi dengan para pakar, diantaranya pakar farmakologi Prof Dr T Kamaluddin Ketua Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya (Unsri), pakar penyakit dalam dan pakar dokter anak. Artinya, ini bukan sekedar suatu lontaran yang diajukan oleh sekumpulan ulama yang hanya bergerak di bidang ilmu agama Islam semata. Ternyata mereka dengan penuh tanggung-jawab sudah melibatkan fihak yang memang membidangi urusan terkait. Sehingga sangat tidak pantas jika Departemen Kesehatan (Depkes) meragukan dugaan temuan LPPOM MUI Sumatra Selatan tentang kandungan enzim babi dalam vaksin meningitis (radang selaput otak) yang biasa digunakan jamaah haji dan umrah Indonesia. Jadi apa yang mereka sampaikan tentang vaksin meningitis yang mengandung enzim babi bukan tanpa melalui kajian. (Republika Newsroom Senin, 27 April 2009 pukul 11:42:00)

    Sekretaris MUI Sumsel KH Ayik Farid berkata: ”Dalam Rakernas MUI sudah kami sampaikan bahwa proses pembuatan vaksin meningitis tersebut menggunakan enzim porchin dari binatang babi. LPPOM MUI Pusat juga sudah mengakui itu, namun karena sudah ada kontrak pengadaan vaksin tersebut selama lima tahun maka penggunaannya tidak bisa diganti.” (Republika Newsroom Senin, 27 April 2009 pukul 11:42:00)

    Benarkah hanya karena terlanjur sudah ada kontrak pengadaan vaksin selama lima tahun, maka penggunaannya tidak bisa diganti? Walaupun itu berarti mewajibkan terus-menerus jamaah haji untuk memasukkan ke dalam tubuhnya –lebih tepatnya ke dalam darahnya- zat najis yang tentunya bisa merusak ke-mabrur-an ibadah hajinya?

    Kedua, ternyata kasus vaksin meningitis mengandung enzim babi ini merupakan kasus lama. Pemerintah –dalam hal ini Depkes dan Depag- sudah mengetahui hal ini sejak lama. Bahkan Direktur LPPOM MUI, Nadratuzzaman, mengatakan bahwa pemerintah sendiri sudah mengetahui kasus ini, tapi hanya mendiamkan saja. Laa haula wa laa quwwata illa billah...! Jadi, ini bukan suatu kasus yang baru terdeteksi sekarang. Ia sudah diketahui sejak lama. ”Nadratuzzaman menyayangkan sikap pemerintah yang hanya berdiam diri, padahal mereka sudah tahu masalah ini sejak lama. Pihaknya mengaku telah mengirimkan surat berkali-kali ke Departemen Kesehatan agar mengganti vaksin yang mengandung enzim babi itu. "Tapi, tidak ada balasan. Mereka hanya menganggap kita membuat resah masyarakat," ujarnya menegaskan.” (Koran Republika Rabu, 29 April 2009 pukul 23:41:00)

    Mengapa kasus yang demikian besar pengaruhnya bagi ke-mabrur-an jamaah haji dibiarkan berlarut-larut oleh pemerintah cq Depkes dan Depag?

    Ketiga, pejabat tertinggi di kedua departemen yang paling bertanggungjawab dalam masalah ini tidak memberikan respon sebagaimana mestinya. Malah terkesan mengelak atau menyalahkan fihak lain. Menteri Kesehatan misalnya malah membantah tanpa pikir panjang bahwa vaksin Meningitis mengandung enzim babi. ”Depkes pernah melakukan penelitian kandungan vaksin itu dan ternyata negatif mengandung enzim babi. ''Tidak ada itu, tidak betul tuh,'' ujar Menteri Kesehatan (Menkes), Siti Fadilah Supari, dalam pesan singkatnya yang diterima Republika, Senin (27/4).” (Republika Newsroom Senin, 27 April 2009 pukul 16:52:00)

    Tanggapan Menteri Agama bahkan terdengar lebih aneh dan cenderung menyalahkan fihak lain: ''Saya sangat kecewa dan menyayangkan cara penyampaiannya yang dilakukan MUI. Mestinya, cukup disampaikan kepada kami, Menteri Agama dan Menteri Kesehatan. Sehingga, tidak membuat gelisah calon jamaah haji,'' papar Menag. (Koran Republika Selasa, 28 April 2009 pukul 23:33:00)

    Apakah respon kedua petinggi ini mencerminkan sikap bertanggung-jawab? Apakah mereka berdua tidak memahami efek syar’i yang ditimbulkan sebagai akibat adanya kandungan enzim babi di dalam vaksin Meningitis bagi jamaah haji? Ataukah keduanya memang sudah terikat dengan sebuah ”protap” yang harus dipatuhi sehingga mereka terkesan menganggap remeh perkara ini?

    Keempat, selama ini pemerintah berlindung dibalik status hukum ”darurat” sehingga vaksin yang mengandung zat najis tetap diberikan kepada jamaah haji kita. Pemerintah berdalih bahwa vaksin Meningitis sangat penting untuk mencegah terjadinya penularan penyakit mematikan radang selaput otak sedangkan vaksin dengan kandungan enzim babi tersebut merupakan satu-satunya solusi untuk mengatasinya. Jadi, dalam rangka menghindari suatu kemudharatan yang lebih besar maka diambillah kemadharatan yang lebih kecil, yaitu memandang ”halal” apa yang asalnya ”haram” .

    Namun Sekretaris Umum MUI Pusat Ichwan Syam berkata: ''Tapi setelah kita yakin ada gantinya, apalagi saya dengar Malaysia sudah menggunakan vaksin dari sapi, tentunya lain masalahnya.” Lebih lanjut Ichwan Syam menegaskan bahwa pemerintah harus proaktif mencari pengganti vaksin tersebut. (Republika Newsroom Jumat, 01 Mei 2009 pukul 11:35:00)

    Senada dengan itu Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ali Mustafa Yakub menuturkan, penggunaan vaksin meningitis berenzim babi diperbolehkan dengan syarat: pemakaian vaksin itu diharuskan dan bisa berbahaya bagi keselamatan jiwa, bila tak menggunakannya, sedangkan vaksin halal tak ada. Hal itu disebutnya sebagai kondisi darurat. ''Namun, jika setelah ada solusi, maka vaksin yang mengandung enzim babi itu harus diganti.'' (Koran Republika Sabtu, 02 Mei 2009 pukul 23:37:00)

    Kelima, ternyata bukan hanya vaksin Meningitis yang mengandung enzim babi. Tetapi banyak vaksin lainnya mengandung enzim babi serupa. Hal ini jelas diutarakan oleh Direktur LPPOM MUI Nadratuzzaman. Ia berkata: "Ini masalah lama, kita tahu, Depertemen kesehatan juga tahu. Banyak vaksin yang mengandung enzim babi, bukan hanya vaksin meningitis saja.” (Republika Newsroom Selasa, 28 April 2009 pukul 19:29:00).

    Masalah vaksinasi dengan kandungan enzim babi merupakan masalah khusus bagi umat Islam. Umat lainnya tidak peduli dengan halal-haramnya vaksinasi. Namun perlu diketahui bahwa bagi mereka yang bukan muslim vaksinasi juga merupakan masalah, sebab dari segi kesehatan fisik ternyata juga mengandung mudharat. Dan tentunya jika secara fisikpun ia membawa mudharat, bararti bagi ummat Islam lengkaplah sudah alasan untuk meninggalkan vaksinansi sepenuhnya. Vaksinasi haram secara tinjauan syar’i dan ia mudharat secara tinjauan medis.

    Dalam sebuah situs bernama information liberation:The news you’re not suppose to know terdapat sebuah video yang menjelaskan bahaya vaksinasi bagi ummat manusia. Video tersebut melibatkan para dokter medis, peneliti dan pengalaman beberapa orang tua dalam hal vaksinasi. Video tersebut bernama Vaccination:the Hidden Truth (Vaksinasi: Kebenaran yang Disembunyikan). Sudah banyak orang menjadi sadar untuk meninggalkan budaya vaksinasi sesudah menonton video ini. Bagi yang berminat silahkan click http://www.informationliberation.com/?id=13924 . Di dalam situs itu ditulis:
    “Find out how vaccines are proven to be both useless and have harmful effects to your health and how it is often erroneously believed to be compulsory.” (Temukan bagaimana vaksin terbukti sia-sia belaka dan malah mengandung efek berbahaya untuk kesehatan Anda dan bagaimana ia sering keliru diyakini sebagai wajib)


    Keenam, benarkah vaksin Meningitis merupakan suatu persyaratan yang tidak bisa tidak bagi setiap calon jamaah haji? Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ali Mustafa Yakub mensyaratkan dua hal untuk menetapkan suatu keadaan darurat, yaitu: (1) pemakaian vaksin itu diharuskan dan bisa berbahaya bagi keselamatan jiwa, bila tak menggunakannya; serta (2) vaksin halal tidak tersedia.

    Baiklah, andai kita asumsikan bahwa memang vaksin halal bisa diperoleh, lalu apakah itu sudah cukup alasan untuk mewajibkan jamaah haji diberikan ”vaksin Meningitis halal” tersebut? Pernahkah para pakar medis benar-benar melakukan penelitian untuk membuktikan bahwa keselamatan jiwa terancam bila vaksin tersebut tidak diberikan? Benarkah selama ini vaksin Meningitis memang efektif untuk mencegah penularan penyakit radang selaput otak? Apakah tidak ada satupun jamaah haji Indonesia yang mencapai duaratus ribuan orang lolos masuk ke tanah suci tanpa diberikan vaksin Meningitis? Lalu kalau benar ternyata ada yang lolos pernahkah kita mendengar kabar jamaah Haji Indonesia meninggal lantaran penyakit mematikan tersebut, padahal setiap tahunnya ada saja jamaah kita yang meninggal di musim haji?

  2. #22
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Setahu gw, Babi itu haram dimakan atau dimanfa-
    atkan bagi pemenuhan kebutuhan manusia, tetapi
    dalam kondisi darurat halal dimakan.

    tinggal loe-loe yang merasa muslim, menurut loe
    immunisasi/vaksinasi terhadap penyakit epidemik
    itu termasuk darurat atau bukan?

    ---------- Post added at 09:08 PM ---------- Previous post was at 09:03 PM ----------

    Meningitis itu penyakit berbahaya, bro Syamil. Almh.
    Giscka Sahetapy wafat dalam usia muda karena
    meningitis. Gw punya kenalan yang putri nya ter-
    kena meningitis saat berusia 9 bulan dan meski se-
    lamat, namun pertumbuhan kecerdasannya terham-
    bat, dan kini meski berusia 15 tahun, kecerdasannya
    setara anak TK.

    Baru tahu gw, mabrur haji dapat rusak karena jamaah
    menggunakan vaksin yang mengandung porchine. Nah
    loe sendiri sebagai muslim, apa punya tekad dan itikad
    untuk membangun riset dan penelitian untuk membuat
    Vaksin bebas porchine?

    ---------- Post added at 09:12 PM ---------- Previous post was at 09:08 PM ----------

    satu hal lagi, jangan lupakan penyakit cacar api
    alias Small-Pox, yang selama ribuan tahun jadi
    momok bagi umat manusia diseluruh dunia. Pilihan
    nya hanyalah mati atau bertubuh bopeng. Namun
    berkat Izin Allah melalui Vaksinasi dapat dilenyap
    kan dari muka bumi sejak akhir tahun 70an.

    Yakin loe siap hidup dengan resiko terkena Cacar
    Small-Pox, bila seandainya Vaksin tidak digunakan
    untuk peningkatkan kualitas kesehatan manusia?

    Yang pasti, member di KM pada mual waktu gw
    post 1 foto penderita Small-Pox, sampai-sampai
    tuh foto harus di-spoiler

  3. #23
    coba-coba
    Join Date
    Dec 2011
    Posts
    11
    Selain mengandung zat haram, ternyata vaksin juga beresiko menyebabkan berbagai penyakit berbahaya:

    Vaccination Causes Autism – Say US Government & Merck’s Director of Vaccines

    Vaccines mempunyai efek samping yang serius - Kata Institute of Medicine (badan peneliti resmi pemerintah Amerika)

    Japanese & British Data, Show Vaccines Cause Autism

    Dr Jane Orient dari Asosiasi Dokter Amerika dan Bedah (AAPS) bersaksi kepada Kongres Amerika mengenai bahaya kesehatan yang parah yang berhubungan dengan inokulasi hepatitis B, yang menyatakan: "Bagi kebanyakan anak, risiko reaksi vaksin yang serius mungkin 100 kali lebih besar daripada risiko terjangkit penyakit hepatitis B. " . Kesaksian lengkap lihat di: http://articles.mercola.com/sites/ar...part-four.aspx

    ---------- Post added at 10:23 PM ---------- Previous post was at 10:14 PM ----------

    Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa pemberian vaksin hepatitis B untuk bayi laki-laki yang baru lahir mempunyai resiko lebih dari tiga kali lipat terkait dengan gangguan spektrum autisme.

    Abstrak penelitian diterbitkan pada September, 2009 pada jurnal Annals of Epidemiology. Di dalamnya, Carolyn Gallagher dan Melody Goodman dari Program Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat di Stony Brook University Medical Center, NY, menulis bahwa, “anak laki2 yang menerima vaksin hepatitis B pada bulan pertama kehidupannya mempunyai peluang 2,94 kali lebih besar terkena gangguan spektrum autisme dibandingkan anak laki-laki yang tidak divaksinasi. “Para penulis menggunakan sampel probabilitas yang diperoleh dari National Health Interview Survey (NHIS), AS, dataset antara 1997-2002 ..

    Kesimpulan menyatakan bahwa: “Temuan menunjukkan bahwa anak laki-laki AS yang divaksinasi dengan vaksin hepatitis B mempunyai risiko 3 kali lipat lebih besar terkena autisme; risiko terbesar untuk anak laki-laki non-kulit putih.”

    sumber: http://www.ageofautism.com/2009/09/d...fant-boys.html

    ---------- Post added at 10:36 PM ---------- Previous post was at 10:23 PM ----------

    tentang sejarah manfaat Vaksinasi Small Pox (cacar air) mungkin ada benarnya, tapi bagaimana jika ternyata itu hanyalah sebuah sejarah dusta:
    silahkan anda baca artikel kontroversial mengenai sejarah vaksin small pox ini di THE SMALLPOX VACCINATION HOAX
    Last edited by syamil; 04-12-2011 at 11:47 PM.

  4. #24
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    banyak penelitian yang membuktikan tidak ada hubungan antara vaksinasi dan autisme.
    dan hasil penelitian dipublikasikan di jurnal ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan
    tapi untuk mau atau tidak menggunakan vaksin/imunisasi itu pilihan pribadi

    The Vaccine-Autism Connection: A Public Health Crisis Caused by Unethical Medical Practices and Fraudulent Science
    by Dennis K Flaherty, PhD⇓, Associate Professor
    Ann Pharmacother October 2011 45:1302-1304;


    In 1998, Dr. Andrew Wakefield, a British gastroenterologist, described a new autism phenotype called the regressive autism-enterocolitis syndrome triggered by environmental factors such as measles, mumps, and rubella (MMR) vaccination. The speculative vaccination-autism connection decreased parental confidence in public health vaccination programs and created a public health crisis in England and questions about vaccine safety in North America. After 10 years of controversy and investigation, Dr. Wakefield was found guilty of ethical, medical, and scientific misconduct in the publication of the autism paper. Additional studies showed that the data presented were fraudulent. The alleged autism-vaccine connection is, perhaps, the most damaging medical hoax of the last 100 years.

  5. #25
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by syamil View Post

    [/COLOR]tentang sejarah manfaat Vaksinasi Small Pox (cacar air) mungkin ada benarnya, tapi bagaimana jika ternyata itu hanyalah sebuah sejarah dusta:
    silahkan anda baca artikel kontroversial mengenai sejarah vaksin small pox ini di THE SMALLPOX VACCINATION HOAX
    kekeke.. ujung-ujungnya punahnya Small-Pox di
    anggap hasil dari peningkatan sanitasi dan gaya
    hidup sehat, dengan menafikan peran vaksin

    foto yang pernah gw upload itu dari Bangladesh,
    apakah Bangladesh termasuk negara dengan ting-
    kat sanitasi baik?

    Atau India?

    ---------- Post added at 11:10 PM ---------- Previous post was at 11:07 PM ----------

    Quote Originally Posted by itsreza View Post
    banyak penelitian yang membuktikan tidak ada hubungan antara vaksinasi dan autisme.
    dan hasil penelitian dipublikasikan di jurnal ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan
    tapi untuk mau atau tidak menggunakan vaksin/imunisasi itu pilihan pribadi
    memang benar, itu pilihan pribadi, namun dampak
    buruknya bukan lagi terbatas pada pribadi terse-
    but.

    Contohnya, seorang jemaah haji yang tidak mau
    menerima vaksinasi meningitis saat berangkat haji
    dengan alasan keharaman vaksin, lalu terjangkit
    meningitis, kemudian kembali ke Tanah Air, maka
    ia akan membawa wabah penyakit meningitis ke
    Indonesia, padahal meningitis tergolong penyakit
    yang jarang muncul di Indonesia.

    pilihan pribadinya tidak hanya berefek buruk pada
    dirinya, namun juga pada banyak orang lain.

  6. #26
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    maka
    ia akan membawa wabah penyakit meningitis ke
    Indonesia, padahal meningitis tergolong penyakit
    yang jarang muncul di Indonesia.
    ada benarnya dan sangat mungkin terjadi
    tapi pada intinya buat saya vaksin itu upaya
    untuk memperkecil risiko untuk menangkal
    penyakit tertentu, jadi tujuannya baik.

    Sampai saat ini saya belum membaca hasil
    penelitian ilmiah yang menemukan hubungan
    kuat vaksin menyebabkan autisme, bahkan
    pada artikel yang diposting oleh syamil. kesimpulan
    dari artikel tersebut berbeda dengan dari jurnal
    yang dirujuknya.

  7. #27
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by itsreza View Post
    ada benarnya dan sangat mungkin terjadi
    tapi pada intinya buat saya vaksin itu upaya
    untuk memperkecil risiko untuk menangkal
    penyakit tertentu, jadi tujuannya baik.

    Sampai saat ini saya belum membaca hasil
    penelitian ilmiah yang menemukan hubungan
    kuat vaksin menyebabkan autisme, bahkan
    pada artikel yang diposting oleh syamil. kesimpulan
    dari artikel tersebut berbeda dengan dari jurnal
    yang dirujuknya.
    Salah satu dampak negatif dari Internet, adalah
    ketika muncul satu isu, maka akan bermunculan
    ribuan artikel yang membahas isu tersebut, dan
    ratusan link yang merujuk pada isu tersebut.

    Namun, ketika isu tersebut diklarifikasi dengan
    dukungan data dan fakta yang kuat dan akurat,
    bahwa isu tersebut tidak benar, paling banter
    hanya akan ada puluhan artikel tentang itu,
    dan ratusan link yang merujuk pada fakta ter-
    sebut. Dampak dari isu tidak terbendung, bah-
    kan ketika fakta tersebut dibuka.

    Satu fakta yang sulit dibantah adalah seiring
    dengan menguatnya gerakan menolak Immuni-
    sasi dan vaksinasi ini, meningkat pula jumlah
    kasus-kasus penyakit urdu yang seharusnya
    dapat ditekan, bahkan dipunahkan lewat pro-
    gram Immunisasi dan Vaksinasi.

  8. #28
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    buat yang pake jurnal2 ilmiah sebagai acuan, pernahkah kamu jalan2 ke desa2 terpencil...dimana penyakit lumpuh layu bukan lagi penyakit, tapi wabah?

    Mereka rata2 tidak diimunisasi polio karena berita bahwa vaksin itu sumbernya haram. Ketika penyakit itu terdeteksi, jadinya sudah sangat terlambat diobati. AKhirnya sepanjang hidup mereka, harus pake alat bantu

    Itu baru lumpuh layu

    Bagaimana kalau smallpox muncul lagi?

    Bagaimana kalau anak2 kita terserang TB karena ortu ngeyel gak mau kasih imunisasi BCG?

    Bagaimana kalau anak kita terkena hepatitis A?

    Bagaimana kalau anak kita terkena maningitis?

    Saya sebagai ibu, lihat anak batuk pilek saja yang gak sembuh2 sampe 1 minggu bisa panik luar biasa

    Saya pernah stress cuma gara2 naomi diinfus, karena dia positif thypus

    Syamil, kamu bisa mengeluarkan data tentang barang2 yang dianggap haram pada vaksin. Tapi ada kah kamu punya solusi untuk kesehatan anak2 Indonesia?

    Jangan hanya meributkan vaksin itu haram. Coba bantu kami para ibu, aga anak2nya tetap sehat

  9. #29
    coba-coba
    Join Date
    Dec 2011
    Posts
    11
    Hidup Sehat Tanpa Vaksin

    Pada tahun 1942, Leslie Owen Bailey, pendiri sekaligus donator Natural Health Society of Australia mendapatkan hak asuh atas 85 anak terlantar. Mereka dirawat di Hopewood House di Bowral, New South Wales dan dibesarkan sesuai prinsip kesehatan alami. Mereka kemudian dikenal sebagai anak-anak Hopewood. Kebanyakan anak-anak ini adalah bayi kecil, karena tidak mungkin mendapatkan ASI, mereka diberi susu kambing sebagai pengganti. Sedangkan anak-anak yang lebih dewasa awalnya diberi susu sapi yang belum di pasteurisasi. Akan tetapi karena sebagian anak alergi terhadap susu tersebut, maka buah-buahan dan sayuran segar diberikan sebagai gantinya.

    Sejak usia 2 tahun diet anak-anak ini terdiri dari buah segar, sayuran hijau, umbi-umbian, salad, telur, nasi, bubur, roti segar, biscuit, buah-buahan kering, mentega tanpa garam, kacang-kacangan, kacang kedelai dan sebagainya. Disela-sela waktu makan, mereka hanya diberi buah segar atau jus buah. Mereka diharuskan minum cukup air dari sumber yang bersih dan bebas fluoride. Kepada mereka juga diberikan manisan Hopewood yang terbuat dari carob, kelapa, buah kering dan madu.

    Lembaga kesehatan anak mendesak agar mereka mengonsumsi daging, namun ketika dihidangkan mereka enggan memakannya. Kemudian ahli gizi dari Universitas Sydney menganalisa kandungan dalam diet Hopewood dan hasilnya menunjukan kadar protein, karbohidrat, lemak dan mineral yang cukup bahkan lebih baik dari diet biasa.

    Setelah hasil pengujian ini diumumkan lembaga kesehatan anak tidak lagi mendesak memberikan daging pada anak-anak itu. semua anak-anak itu tidak pernah mengalami penyakit serius, tidak pernah menjalani pembedahan, tidak pernah memakan obat dan tidak pernah menerima suntikan vaksin. Satu-satunya serangan penyakit yang pernah terjadi ketika 34 orang diantara mereka terkena cacar. Mereka diistirahatkan di kamar isolasi dengan hanya diberi air atau jus buah segar. Mereka dapat sembuh dengan cepat tanpa meninggalkan bekas. Setelah diteliti kasus tersebut terjadi karena pihak sekolah mengganti menu makan siang mereka dengan makanan biasa yang kurang bergizi, sehingga wabah tersebut tidak terlalu mengagetkan.

    Dr. N.Z Golds Worthy seorang dokter dan ketua Institute of Dental Research di Sydney ingin meneliti kesehatan gigi anak-anak Hopewood. Beliau beserta timnya melakukan tinjauan meluas terhadap kesehatan gigi anak-anak itu dalam waktu 10 tahun. Tinjauan ini menunjukkan anak-anak Hopewood memiliki tingkat kerusakan gigi 16 kali lebih kecil dari anak-anak Sydney yang memiliki indeks kerusakan gigi sebesar 9,5 seperti gigi tanggal atau berlubang. Sedangkan indeks anak-anak Hopewood hanya 0,58.

    Menurut dr. Golds hasil pengamatan itu tidak terlalu mengherankan. Karena anak-anak Hopewood sebelumnya banyak mendapatkan pujian karena memiliki standar kesehatan gigi tertinggi yang pernah diketahui. Bahkan melebihi anak-anak New Guinea yang memiliki standar kesehatan gigi terbaik di dunia. Para ahli kesehatan Austalia juga tertarik dengan perkembangan tubuh anak-anak Hopewood. Sir Lorimer Doods dan dr. D. Clements mengawasi kesehatan mereka selama 9 tahun. Setelah memeriksa tonsil dan adenoid anak-anak itu. Mereka menyatakan tidak pernah melihat suatu komunitas yang bebas dari masalah tersebut seperti anak-anak Hopewod.

    Pakar psikologi anak, Zoe Benjamin yang hidup bersama anak-anak Hopewood merasa kagum melihat kemandirian dan rasa tanggung jawab dalam komunitas anak-anak itu. yang paling menakjubkan adalah kebanyakan anak-anak ini mewarisi kesehatan yang buruk karena sejarah penyakit dan kurangnya nutrisi ibu-ibu mereka. Namun di Hopewood mereka dapat tumbuh berkembang menjadi anak-anak yang kuat dan tidak bergantung pada orang lain. Anak-anak Hopewood dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi orang tua yang berminat untuk membesarkan anak-anak mereka secara alami tanpa obat dan vaksin. Mereka terbukti dapat tumbuh besar dengan sehat secara alamiah.

  10. #30
    coba-coba
    Join Date
    Dec 2011
    Posts
    11
    Panduan Bagi Orang Tua (Sebagian Penyakit Anak-Anak Membawa Manfaat)

    Anak-anak yang mendapatkan vaksinasi biasanya menunjukkan efek yang aneh dengan mengidap Campak, Gondok dan banyak masalah lain. Suatu manivestasi dari penyakit yang seharusnya dicegah oleh vaksin. Maka lebih baik membiarkan proses terjadi secara alamiah tanpa interfensi yang malah membahayakan. Vaksinasi dengan memasukkan penyakit secara langsung ke dalam aliran darah (melompati proses alami melalui barier nodus limpa, timus dan system limpa) tidak akan mengatasi penyakit. Sebaliknya akan mendorong penyakit pada tingkat kronis dan jauh ke dalam tubuh yang kemudian dapat menyerang organ-organ vital.

    Mencegah campak dengan cara ini sebaliknya malah mengakibatkan kanker dan berbagai penyakit autoimun lain. (Viera Scheibner, Ph.D dalam Vaccination: 100 Years of Ortodox Research Shows that Vaccines Represent a Medical Assault on The Immune System).

    Beberapa penyakit mempunyai manfaat tersendiri. Karena itu pencegahan penyakit tidak selalu baik untuk anak-anak. Campak misalnya, digunakan di Negara-negara Scandinavia untuk mengobati penyakit autoimun seperti eksim contohnya. Banyak penelitian yang menunjukkan anak-anak yang tidak pernah terkena Campak berkemungkinan besar menderita kanker ketika dewasa. Penelitian terbaru menunjukkan penyakit yang biasa menjangkiti anak-anak bisa membantu menguatkan system imun dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh vaksin. Ini berarti anak-anak memiliki kemungkinan yang kecil terkena penyakit alergi atau autoimun seperti asma dan diabetes seperti yang terjadi saat ini.

    Sebagai tambahan, Ibu yang mendapatkan vaksin tidak dapat memberikan kekebalan pasif kepada anaknya meskipun mereka mengidap penyakit yang ganas. Kekebalan ini biasanya melindungi bayi selama satu bulan sehingga satu tahun pertama ketika mereka mudah terserang penyakit. Saat ini para Ibu yang mendapatkan vaksin akan melahirkan anak yang muda terkena penyakit, padahal sebelum sang ibu mendapatkan vaksin biasanya anak mereka memiliki kekebalan.

    Imunisasi alami adalah fenomena kompleks yang melibatkan banyak organ dan sistem. Proses ini tidak dapat ditiru dengan sempurna oleh rangsangan buatan dengan menggunakan antibodi. Seperti yang dijelaskan oleh Jamie Murphy, penulis buku What Every Parents Should Know About Immunization: “Apabila anak-anak mendapatkan penyakit secara alami seperti campak, tubuh akan memberikan reaksi dengan cara tersendiri. Kuman menuju ke bagian tubuh tertentu melalui kerongkongan dan memasuki organ sistem imun. Kemudian tubuh akan melawan penyakit itu secara alami.” Terdapat berbagai reaksi kekebalan tubuh yang akan terjadi, reaksi radang, makrofag dan berbagai sel darah putih digunakan untuk melawan kuman tersebut. Bersin dan batuk juga bekerja untuk menyingkirkan kuman penyakit.

    Sejauh ini yang biasa menyerang anak-anak tidak berbahaya dan terbatas. Ia juga dapat memberikan kekebalan seumur hidup, sedangkan vaksin hanya memberikan kekebalan sementara. Vaksin kurang efektif jika dibandingkan proses imunisasi tubuh alami. Vaksin tidak seperti penyakit pada anak-anak yang memberikan kekebalan tubuh permanen. “ Tegas Murphy

    Para praktisi kesehatan tidak mengetahui berapa lama vaksin mampu bertahan, karena ia adalah kekebalan tiruan. Jika seseorang terserang campak secara alami 99% dari penderita akan mempunyai kekebalan seumur hidup. Peluang diserang campak atau batuk rejan dua kali sangat tipis dan sulit dipercayai. Sebaiknya kekebalan yang bersifat sementara dari vaksin dapat menimbulkan keadaan yang lebih berbahaya untuk masa depan anak. Contohnya, pada pertengahan tahun 90-an vaksin cacar air baru yang dilisensikan dan direkomendasikan oleh pemerintah AS diperkirakan hanya bertahan 6-10 tahun. Jika vaksin masih bekerja, ia akan menangguhkan serangan pernyakit sampai mereka dewasa dimana risiko kematian menjadi 20 kali lebih besar.

    Di AS sekitar setengah kasus campak yang muncul akhir tahun 80-an terjadi pada usia remaja dan dewasa. Mereka semua telah mendapatkan vaksinasi ketika masih kecil dan suntikan yang diwajibkan itu mungkin hanya memberi perlindungan kurang dari 6 bulan. Sebagai tambahan, sebagian ahli kesehatan khawatir terhadap virus cacar air yang mungkin aktif kembali dikemudian hari dalam bentuk Herpes Zoster atau gangguan system imun lain. Sebenarnya kebanyakan penyakit tidak berbahaya, bahkan memiliki peranan penting dalam membangun system imun yang kuat dan sehat. Orang yang tidak pernah terserang campak akan mengalami banyak masalah kulit, keropos tulang dan jenis tumor tertentu. Begitu juga dengan penyakit anak-anak. Statistic konservatif CDC AS bagi Pertusis tahun 1992-1994 menunjukkan tingkat kesembuhan sebesar 99,8%. Sebenarnya ketika ratusan kasus Pertusis terjadi di Ohio dan Chicago pada musim gugur tahun 1993, pakar penyakit menular rumah sakit anak Cincinnati berkata: “Penyakit penduduk tersebut sangat sederhana, tidak ada kasus kematian dan tidak ada yang perlu di opname.”

    Sebenarnya, bahaya penyakit yang biasa terjadi pada anak-anak sengaja di besar-besarkan untuk menakut-nakuti orang tua agar memenuhi program yang bermasalah namun menghasilkan provit tersebut


    Apa Yang Harus Dilakukan Orang Tua?

    Vaksin adalah barang konsumsi, orang tua seharusnya memeriksa terlebih dahulu produk ini dengan teliti ketimbang produk lain, karena nyawa anak-anak mereka menjadi taruhannya. Randal Neustaedler, OMD dalam The Vaccine Guide: Making an Informed Choice.

    Membuat keputusan tentang penggunaan vaksin adalah salah satu pilihan paling penting yang harus anda lakukan sebagai orang tua, demi kepentingan anak anda. Anda harus membuat keputusan yang teliti berdasarkan semua informasi yang tersembunyi. Jika anda memilih untuk melakukan vaksinasi, ambillah langkah berjaga-jaga dan perhatikan langkah berikut:

    Panduan Dasar:
    1. Dapatkan vaksin dengan jenis yang berbeda secara terpisah, jangan mengambil vaksin gabungan dari beberapa penyakit.
    2. Jangan izinkan anak anda diberi vaksin lebih dari 1 penyakit pada hari yang sama
    3. Jangan biarkan anak Anda mendapatkan vaksinasi ketika sedang sakit atau baru sembuh dari penyakit.


    Anak-Anak Yang Beresiko Tinggi Mengalami Efek Buruk jika divaksinasi:


    Anak-anak yang mengalami efek samping ketika mendapatkan vaksin sebelumnya, anak yang memiliki saudara atau keluarga yang memiliki efek samping terhadap suatu vaksin. Sejarah pribadi atau keluarga yang mengalami kejang atau gangguan neurologi, penyakit, system imun, alergi, eksim, asma atau alergi terhadap susu sapi. Anak yang sedang sakit termasuk flu, infeksi telinga, mencret dan lain sebagainya atau baru sembuh dari penyakit dalam masa kurang dari satu bulan sebelum vaksinasi. Anak-anak yang lahir premature atau dengan berat badan yang kurang. Anak-anak yang mengalami gangguan otak ketika proses persalinan (seperti trauma kepala karena kesulitan proses persalinan, meningitis, menjerit-jerit dengan nada tinggi dengan badan melengkung dan lain-lain).

  11. #31
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    gimane mencegah polio?

    small pox?

    tanpa vaksin

  12. #32
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by syamil View Post
    Hidup Sehat Tanpa Vaksin

    Pada tahun 1942, Leslie Owen Bailey, pendiri sekaligus donator Natural Health Society of Australia mendapatkan hak asuh atas 85 anak terlantar. Mereka dirawat di Hopewood House di Bowral, New South Wales dan dibesarkan sesuai prinsip kesehatan alami. Mereka kemudian dikenal sebagai anak-anak Hopewood. Kebanyakan anak-anak ini adalah bayi kecil, karena tidak mungkin mendapatkan ASI, mereka diberi susu kambing sebagai pengganti. Sedangkan anak-anak yang lebih dewasa awalnya diberi susu sapi yang belum di pasteurisasi. Akan tetapi karena sebagian anak alergi terhadap susu tersebut, maka buah-buahan dan sayuran segar diberikan sebagai gantinya.

    Sejak usia 2 tahun diet anak-anak ini terdiri dari buah segar, sayuran hijau, umbi-umbian, salad, telur, nasi, bubur, roti segar, biscuit, buah-buahan kering, mentega tanpa garam, kacang-kacangan, kacang kedelai dan sebagainya. Disela-sela waktu makan, mereka hanya diberi buah segar atau jus buah. Mereka diharuskan minum cukup air dari sumber yang bersih dan bebas fluoride. Kepada mereka juga diberikan manisan Hopewood yang terbuat dari carob, kelapa, buah kering dan madu.

    Lembaga kesehatan anak mendesak agar mereka mengonsumsi daging, namun ketika dihidangkan mereka enggan memakannya. Kemudian ahli gizi dari Universitas Sydney menganalisa kandungan dalam diet Hopewood dan hasilnya menunjukan kadar protein, karbohidrat, lemak dan mineral yang cukup bahkan lebih baik dari diet biasa.

    Setelah hasil pengujian ini diumumkan lembaga kesehatan anak tidak lagi mendesak memberikan daging pada anak-anak itu. semua anak-anak itu tidak pernah mengalami penyakit serius, tidak pernah menjalani pembedahan, tidak pernah memakan obat dan tidak pernah menerima suntikan vaksin. Satu-satunya serangan penyakit yang pernah terjadi ketika 34 orang diantara mereka terkena cacar. Mereka diistirahatkan di kamar isolasi dengan hanya diberi air atau jus buah segar. Mereka dapat sembuh dengan cepat tanpa meninggalkan bekas. Setelah diteliti kasus tersebut terjadi karena pihak sekolah mengganti menu makan siang mereka dengan makanan biasa yang kurang bergizi, sehingga wabah tersebut tidak terlalu mengagetkan.

    Dr. N.Z Golds Worthy seorang dokter dan ketua Institute of Dental Research di Sydney ingin meneliti kesehatan gigi anak-anak Hopewood. Beliau beserta timnya melakukan tinjauan meluas terhadap kesehatan gigi anak-anak itu dalam waktu 10 tahun. Tinjauan ini menunjukkan anak-anak Hopewood memiliki tingkat kerusakan gigi 16 kali lebih kecil dari anak-anak Sydney yang memiliki indeks kerusakan gigi sebesar 9,5 seperti gigi tanggal atau berlubang. Sedangkan indeks anak-anak Hopewood hanya 0,58.

    Menurut dr. Golds hasil pengamatan itu tidak terlalu mengherankan. Karena anak-anak Hopewood sebelumnya banyak mendapatkan pujian karena memiliki standar kesehatan gigi tertinggi yang pernah diketahui. Bahkan melebihi anak-anak New Guinea yang memiliki standar kesehatan gigi terbaik di dunia. Para ahli kesehatan Austalia juga tertarik dengan perkembangan tubuh anak-anak Hopewood. Sir Lorimer Doods dan dr. D. Clements mengawasi kesehatan mereka selama 9 tahun. Setelah memeriksa tonsil dan adenoid anak-anak itu. Mereka menyatakan tidak pernah melihat suatu komunitas yang bebas dari masalah tersebut seperti anak-anak Hopewod.

    Pakar psikologi anak, Zoe Benjamin yang hidup bersama anak-anak Hopewood merasa kagum melihat kemandirian dan rasa tanggung jawab dalam komunitas anak-anak itu. yang paling menakjubkan adalah kebanyakan anak-anak ini mewarisi kesehatan yang buruk karena sejarah penyakit dan kurangnya nutrisi ibu-ibu mereka. Namun di Hopewood mereka dapat tumbuh berkembang menjadi anak-anak yang kuat dan tidak bergantung pada orang lain. Anak-anak Hopewood dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi orang tua yang berminat untuk membesarkan anak-anak mereka secara alami tanpa obat dan vaksin. Mereka terbukti dapat tumbuh besar dengan sehat secara alamiah.
    hehehe.. 85 anak-anak diisolasi dari dunia luar.
    begitu kena Cacar Air, langsung 34 berjatuhan.
    Kebayang kalau kena Cacar Api, bisa mampus
    keseluruhannya.

    Satu orang saja terimbas TBC, dijamin semua
    nya kena. Ini tidak ubahnya tanaman pertanian
    monokultur, yang bibitnya berasal dari satu sel
    yang dikembangbiakkan lewat kultur jaringan.
    Begitu diserang hama penyakit, tanpa ampun
    ribuan hektar tanaman musnah tak berbekas.

    anda salah memahami konsep immunisasi/vak-
    sinasi terhadap penyakit endemik/epidemik
    yang kekebalan terhadapnya hanyalah dengan
    memperkenalkan tubuh terhadap penyakit ter-
    sebut, sehingga tubuh membangun sistem im-
    mun spesifik terhadap penyakit tersebut.

  13. #33
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by syamil View Post
    Panduan Bagi Orang Tua (Sebagian Penyakit Anak-Anak Membawa Manfaat)

    Anak-anak yang mendapatkan vaksinasi biasanya menunjukkan efek yang aneh dengan mengidap Campak, Gondok dan banyak masalah lain. Suatu manivestasi dari penyakit yang seharusnya dicegah oleh vaksin. Maka lebih baik membiarkan proses terjadi secara alamiah tanpa interfensi yang malah membahayakan. Vaksinasi dengan memasukkan penyakit secara langsung ke dalam aliran darah (melompati proses alami melalui barier nodus limpa, timus dan system limpa) tidak akan mengatasi penyakit. Sebaliknya akan mendorong penyakit pada tingkat kronis dan jauh ke dalam tubuh yang kemudian dapat menyerang organ-organ vital.

    Mencegah campak dengan cara ini sebaliknya malah mengakibatkan kanker dan berbagai penyakit autoimun lain. (Viera Scheibner, Ph.D dalam Vaccination: 100 Years of Ortodox Research Shows that Vaccines Represent a Medical Assault on The Immune System).

    Beberapa penyakit mempunyai manfaat tersendiri. Karena itu pencegahan penyakit tidak selalu baik untuk anak-anak. Campak misalnya, digunakan di Negara-negara Scandinavia untuk mengobati penyakit autoimun seperti eksim contohnya. Banyak penelitian yang menunjukkan anak-anak yang tidak pernah terkena Campak berkemungkinan besar menderita kanker ketika dewasa. Penelitian terbaru menunjukkan penyakit yang biasa menjangkiti anak-anak bisa membantu menguatkan system imun dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh vaksin. Ini berarti anak-anak memiliki kemungkinan yang kecil terkena penyakit alergi atau autoimun seperti asma dan diabetes seperti yang terjadi saat ini.

    Sebagai tambahan, Ibu yang mendapatkan vaksin tidak dapat memberikan kekebalan pasif kepada anaknya meskipun mereka mengidap penyakit yang ganas. Kekebalan ini biasanya melindungi bayi selama satu bulan sehingga satu tahun pertama ketika mereka mudah terserang penyakit. Saat ini para Ibu yang mendapatkan vaksin akan melahirkan anak yang muda terkena penyakit, padahal sebelum sang ibu mendapatkan vaksin biasanya anak mereka memiliki kekebalan.

    Imunisasi alami adalah fenomena kompleks yang melibatkan banyak organ dan sistem. Proses ini tidak dapat ditiru dengan sempurna oleh rangsangan buatan dengan menggunakan antibodi. Seperti yang dijelaskan oleh Jamie Murphy, penulis buku What Every Parents Should Know About Immunization: “Apabila anak-anak mendapatkan penyakit secara alami seperti campak, tubuh akan memberikan reaksi dengan cara tersendiri. Kuman menuju ke bagian tubuh tertentu melalui kerongkongan dan memasuki organ sistem imun. Kemudian tubuh akan melawan penyakit itu secara alami.” Terdapat berbagai reaksi kekebalan tubuh yang akan terjadi, reaksi radang, makrofag dan berbagai sel darah putih digunakan untuk melawan kuman tersebut. Bersin dan batuk juga bekerja untuk menyingkirkan kuman penyakit.

    Sejauh ini yang biasa menyerang anak-anak tidak berbahaya dan terbatas. Ia juga dapat memberikan kekebalan seumur hidup, sedangkan vaksin hanya memberikan kekebalan sementara. Vaksin kurang efektif jika dibandingkan proses imunisasi tubuh alami. Vaksin tidak seperti penyakit pada anak-anak yang memberikan kekebalan tubuh permanen. “ Tegas Murphy

    Para praktisi kesehatan tidak mengetahui berapa lama vaksin mampu bertahan, karena ia adalah kekebalan tiruan. Jika seseorang terserang campak secara alami 99% dari penderita akan mempunyai kekebalan seumur hidup. Peluang diserang campak atau batuk rejan dua kali sangat tipis dan sulit dipercayai. Sebaiknya kekebalan yang bersifat sementara dari vaksin dapat menimbulkan keadaan yang lebih berbahaya untuk masa depan anak. Contohnya, pada pertengahan tahun 90-an vaksin cacar air baru yang dilisensikan dan direkomendasikan oleh pemerintah AS diperkirakan hanya bertahan 6-10 tahun. Jika vaksin masih bekerja, ia akan menangguhkan serangan pernyakit sampai mereka dewasa dimana risiko kematian menjadi 20 kali lebih besar.

    Di AS sekitar setengah kasus campak yang muncul akhir tahun 80-an terjadi pada usia remaja dan dewasa. Mereka semua telah mendapatkan vaksinasi ketika masih kecil dan suntikan yang diwajibkan itu mungkin hanya memberi perlindungan kurang dari 6 bulan. Sebagai tambahan, sebagian ahli kesehatan khawatir terhadap virus cacar air yang mungkin aktif kembali dikemudian hari dalam bentuk Herpes Zoster atau gangguan system imun lain. Sebenarnya kebanyakan penyakit tidak berbahaya, bahkan memiliki peranan penting dalam membangun system imun yang kuat dan sehat. Orang yang tidak pernah terserang campak akan mengalami banyak masalah kulit, keropos tulang dan jenis tumor tertentu. Begitu juga dengan penyakit anak-anak. Statistic konservatif CDC AS bagi Pertusis tahun 1992-1994 menunjukkan tingkat kesembuhan sebesar 99,8%. Sebenarnya ketika ratusan kasus Pertusis terjadi di Ohio dan Chicago pada musim gugur tahun 1993, pakar penyakit menular rumah sakit anak Cincinnati berkata: “Penyakit penduduk tersebut sangat sederhana, tidak ada kasus kematian dan tidak ada yang perlu di opname.”

    Sebenarnya, bahaya penyakit yang biasa terjadi pada anak-anak sengaja di besar-besarkan untuk menakut-nakuti orang tua agar memenuhi program yang bermasalah namun menghasilkan provit tersebut
    mendapatkan paparan penyakit secara alami?




    silahkan kalau anda hendak membiarkan anak-anak
    anda terpapar Cacar Api secara alami

  14. #34
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    Jadi kalau mau anak sehat tanpa vaksin harus hidup terisolasi ya?

  15. #35
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    sebenarnya ide mengenalkan tubuh terhadap suatu
    penyakit secara alami, merupakan ide dasar dalam
    membangun sistem kekebalan tubuh terhadap satu
    penyakit.

    persoalannya, kita tidak tahu kadar kemampuan
    tubuh, dan untuk beberapa penyakit "urdu", kita
    mengetahui bahwa selama ribuan tahun, manusia
    tidak cukup kebal secara alami untuk melawannya
    sehingga terjadilah tingkat kematian yang tinggi
    atau cacat yang juga tinggi.

    karena itulah, dikembangkan metoda untuk mem-
    perkenalkan tubuh dengan penyakit tertentu, na-
    mun resiko bagi tubuh dikecilkan, dengan melemah-
    kan penyakit tersebut terlebih dahulu.

    Lagipula, manusia memang dari dulu hidup dengan
    "menantang" alam dan menaklukkannya. Kalau saja
    lemur-lemur purba puas dengan hidup di pohon, me-
    reka tidak akan turun ke tanah, mencoba berdiri
    tegak, lalu belajar berjalan, menggunakan alat-alat
    untuk menutupi kekurangan alami pada dirinya untuk
    bertahan dari predator-predator yang diuntungkan
    oleh alam

  16. #36
    coba-coba
    Join Date
    Dec 2011
    Posts
    11
    Hidup memang terkadang mempunyai banyak pilihan. Dan setiap pilihan mempunyai resikonya sendiri-sendiri. Dan orang tua yang cerdas pasti akan memilihkan bagi anaknya resiko yang terkecil dari setiap pilihan yang dipilihnya.

    Bagi orang tua yang menganggap bahwa resiko terkena penyakit lebih besar jika tidak mengimunisasi anaknya, maka silahkan mengimunisasi anaknya. Dan tentunya harus siap dengan konsekwensi terkena efek samping vaksin.

    Dan bagi yang memilih untuk tidak mengimunisasi karena takut dengan efek samping vaksin, takut karena zat2 kandungan vaksin yang tidak halal atau menganggap resiko ketika anak di vaksinasi lebih besar daripada jika tidak divaksinasi, tentu juga harus siap dengan resiko terkena penyakit yang katanya bisa dicegah dengan vaksinasi.

    Silahkan memilih yang terbaik bagi anak anda menurut yang anda anggap terbaik untuknya, dan sayapun telah memilih yang terbaik menurut anggapan saya untuk anakku tercinta.
    Last edited by syamil; 06-12-2011 at 06:26 AM.

  17. #37
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Dan bagi yang memilih untuk tidak mengimunisasi karena takut dengan efek samping vaksin, takut karena zat2 kandungan vaksin yang tidak halal atau menganggap resiko ketika anak di vaksinasi lebih besar daripada jika tidak divaksinasi, tentu juga harus siap dengan resiko terkena penyakit yang katanya bisa dicegah dengan vaksinasi.
    ini nih, kalimat manis penggerak anti-vaksinasi n
    anti-immunisasi... It's all your choices n konseku-
    ensinya loe (dan anak loe) sendiri yang tanggung.

    gw kasih tahu loe ya, Kalau anak loe terpapar
    penyakit karena anak loe tidak di immunisasi n
    tidak di vaksinasi, maka anak loe bukan saja akan
    menderita penyakit, namun juga menjadi penyebar
    bahkan mungkin memutasikan penyakit tersebut
    menjadi strain atau varian baru. Artinya
    bukan cuma anak loe yang kena sakit akibat pi-
    lihan "bijak" loe sebagai orang tuanya, melainkan
    juga anak-anak lainnya disekitar loe!!!

  18. #38
    coba-coba
    Join Date
    Dec 2011
    Posts
    11
    Yang perlu diluruskan, anak-anak Hopewood House bukanlah anak2 yang diisolasi dari dunia luar, tapi mereka disolasi hanya saat terkena penyakit.

    gw kasih tahu loe ya, Kalau anak loe terpapar
    penyakit karena anak loe tidak di immunisasi n
    tidak di vaksinasi, maka anak loe bukan saja akan
    menderita penyakit, namun juga menjadi penyebar
    bahkan mungkin memutasikan penyakit tersebut
    menjadi strain atau varian baru.
    Ketika seorang anak terkena hepatitis, apakah dia akan menularkan penyakit hepatitis tersebut kepada anak yang lain?
    Ketika seorang anak terkena tetanus, apakah dia akan menularkan penyakit tetanus tersebut kepada anak yang lain?
    Bahkan ketika dua orang anak di jawa barat diberitakan terkena lumpuh layu, apakah anak anak yang lain disekitar mereka terkena juga?

  19. #39
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by syamil View Post
    Yang perlu diluruskan, anak-anak Hopewood House bukanlah anak2 yang diisolasi dari dunia luar, tapi mereka disolasi hanya saat terkena penyakit.
    esensinya, 85 orang itu hidup dalam controlable
    environment
    dengan gaya hidup yang diatur
    dan terkendali, layaknya lab-rat.

    itupun tidak mencegah mereka dari terpapar virus
    Chicken-Pox, 34 dari 85 anak, itu lebih dari 40%.

    Soal loe ngomong ngga ada bekas luka cacar, gw
    juga pernah kena cacar air, sembuh dalam 4 hari,
    tanpa diisolasi, tetap bermain keluar rumah, dan
    tanpa bekas luka cacar sedikit pun

    None of the facts make those Hopewood House's
    Children specials


    Ketika seorang anak terkena hepatitis, apakah dia akan menularkan penyakit hepatitis tersebut kepada anak yang lain?
    Ketika seorang anak terkena tetanus, apakah dia akan menularkan penyakit tetanus tersebut kepada anak yang lain?
    Bahkan ketika dua orang anak di jawa barat diberitakan terkena lumpuh layu, apakah anak anak yang lain disekitar mereka terkena juga?
    emang loe pikir penularan penyakit antar manusia
    harus membutuhkan perantara burung, kera, atau
    babi dulu?

    betewe kenapa hepatitis dan tetanus yang penul-
    larannya cukup rumit, yang berani loe jadiin contoh?
    polio, Dipteri, TBC, Chicken-Pox, Flu Burung, Flu-
    Babi, Meningitis ngga loe sebutin?

  20. #40
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    anak2 gue divaksin dan tidak mengalami efek samping yang syamil beberin, bahkan semua anak di lingkungan saya

    itu data ilmiah ngambil sampel dimana?

Page 2 of 3 FirstFirst 123 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •