I'M NOT THE ONLY ONE


Sebuah tontonan Dance Theater ala Germany hasil besutan koreografer Constanza Macraz | Dorky Park. Mungkin jika sore itu seorang kawan bernama sireum tidak berkirim kabar melalui sms, aku tidak akan menonton Art Summit Indonesia 2007, International Festival on Contemporer Performance Arts pada tanggal 22-23 November 2007 di Graha Bhakti Budaya, TIM.



Sedikit kutipan dari brosur


Mengapa aku langsung berminat ikut begitu kudengar kabar tentang Theater? Iya. Mungkin sekedar angin segar dari penat keseharian yang begitu penuh. Ah itu salah. Bukan sekedar, tapi aku ingin betulbetul menciptakan nuansa yang berbeda. Meski tak harus teduh di tengah rimbunnya pohon. Tapi setidaknya ada malam yang pekat. Menikmati rasa bersama kawan. Jadi teringat dengan rasa pecel lele yang dikatakan kawanku. Yang mungkin ingin menandingi Tango rasa Susu Vanilla. Ini bukan sekedar ingin unjuk mengiklankan sesuatu. Tapi kami memang pernah punya cerita. Cerita sebuah ritual yang belum diulang lagi sampai sekarang. Aku, sireum dan namusha. Entahlah rasanya akan menyenangkan ketika kita bisa berbagi cerita bersama kawan.


Hmmm, waktu masih saja belum jenuh bercerita. Rutinitas kehidupan di sekeliling jalur rel yang begitu lurus kadang membuat ingin berteriak. Mencoba sesuatu yang berbeda dari yang kemarin-kemarin. Uh! Alangkah bebasnya mereka berekspresi dan berapresiasi. Hari pertama, ada: Knut Berger, Jill Emerson, Jared Gradinger, dan Hyoung-Min Kim bertampil begitu lugasnya. Terlalu jujur dan brutal barangkali.
Barangkali seperti tanya seorang teman kantor, "Ada pornonya ga?".
Lalu kujawab, "semi".
Bukan porno yang kutatap, tapi nuansa kebebasan expresinya. Dengan balutan art tentunya. Bukankah semua itu relatif. Bukankah ada beberapa yang memandang ciuman bibir termasuk porno?
Toh hidup tak bisa sekedar dipahami dan dijalani.
Bukankah kita belajar untuk memaknainya?


Hari kedua, Nabih Amaraoui, Nir De-Volff, Hyoung-Min Kim, Gail Sharrol Skrela, dan Tatiana Diara. Para pemain itu bermain brutal. Hahahhahha betapa tidak, bahkan perilaku anjing pun ditirukannya. Hmmmm, bukankah I'm not the only one?





Sisi A, brosur kecil tentang Constanza Macraz | Dorky Park





Sisi B, brosur kecil tentang Constanza Macraz | Dorky Park





Secuil tiket yang menyisakan pertemuan.


Jika mainstream itu tak dituruti, maka akan banyak warna. Seperti menatap malam yang tak hanya gelap. Bukankah masih ada kerlip bintang? Jika manusia bisa hidup dengan keteraturan? Bukankah hidup juga harus ditaklukkan? Sekalipun malam tak dikatakan bersahabat untuk perempuan. Sekalipun norma yang dipegang oleh sekeliling harus dihadang. Setidaknya perempuan yang kukenal itu berlaku 'benar' untuk menjalani harihari di hidupnya.


Aku ingin melihat pohon.
Sama seperti ketika aku dalam diam menatap keong yang sedang terjebak oleh pasir laut di pulau kecil yang bernama Karang Lebar, Kep. Seribu 9 Sept lalu.


Ah ya, aku masih ingin menatap hening. Sambil mengendapkan rasa.




Medio 28 Nov 2007 05:40 pm