Hari ini Dhan mengucapkan sepatah kata birthday untuk salah seorang kawannya. Kawan yang ternyata masih satu kampus dengannya. Meski tidak di tahun yang sama. Itu yang Dhan temukan di postingan kawannya.
Tapi ucapan itu salah. Masih dua hari lagi rupanya... .


Dhan malam ini masih terjaga. Dengan kuping yang disumpal earphone mendengarkan lagulagu agar malam terdengar riuh. Malam sudah jarang tampak oleh kerlip bintang. Ritual menengadahkan kepala masih saja dilakukan Dhan. Hanya saja, ia selalu menemukan desau dan tubuh pesawat yang melayang gagah di angkasa. Tidak hanya siang, bahkan malam pun Dhan hanya menemukan pesewat yang sesekali melintas di saat Dhan pulang kerja. Dhan tak habis mengerti. Mengapa bintang kini menjadi angkuh seperti bulan yang dibencinya? Kemanakah bintang yang dahulu memiliki kesan ramah?


Dhan memejamkan matanya sejenak. Dia masih ingat betul sahabat karibnya pernah tibatiba menelponnya.
"Da, kamu di mana? Jakarta?"
"Nggak lah Dhan. Aku masih di Bandung ini."
"Oh.. kirain seperti kebiasaan kamu. Kamu selalu tibatiba sudah di Jakarta lalu mengajakku ke TIM atau pertemuan lainnya yang senada dan tak pernah jauh dari pentas Theater."
"Hahahhahahhhah,"


Tawa lepasnya begitu dirindukan Dhan. Manusia asal Bandung yang setiap perjumpaan hampir tak pernah luput dari perjalanan kereta api. Manusia yang mungkin paling paham segala diam milik Dhan. Manusia yang memiliki chemistry yang sama dengan Dhan. Karena kisah yang barangkali boleh dibilang serupa mereka miliki.


"Kamu itu betulbetul seorang adventure!"
Katakata milik kawannya itu betulbetul membuat Dhan terkesiap.
"Sudahlah... Jangan pedulikan katakata orang lain. Selagi kamu masih memiliki waktu. Lakukanlah terbaik," imbuhnya.


Terbaik? Meski terbaik tak selalu menjadi yang terbaik. Meski yang terbaik akan menjadi suatu hal yang konyol. Sampaisampai ketika kelak masa kini itu akan berubah menjadi masalalu. Seperti yang sudahsudah Dhan akan berkata dengan lugasnya, "Aku tak tahu, dan aku tak kan peduli dengan hal yang satu itu."


Katakata yang mungkin terdengar angkuh tapi sebetulnya adalah rapuh. Tapi memiliki keengganan untuk melihat sebuah masalalu. Sekali pun mungkin masa lalu itu datang dan akan menjadi sebuah masa yang akan datang kelak. Entahlah. Dhan tak mau terlalu mereka-reka semuanya itu. Tapi diamdiam Dhan sudah menyiapkan sebuah perpisahan.