Pilih yang mana? dan kenapa?
Saat ini aku lagi bimbang, mau pindah dari rumah ortu, tapi ntar hegel siapa yang jaga?
Pilih yang mana? dan kenapa?
Saat ini aku lagi bimbang, mau pindah dari rumah ortu, tapi ntar hegel siapa yang jaga?
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Tiap keluarga beda2 kondisinya chan.
Kalo gw sih milih rumah sendiri, masalah anak bisa diatur.
kalau rumah ortu atau rumah sendiri, ya mendingan milih rumah sendiri yang dekat ama rumah ortu.. Jadi kalau minta tolong jagain deket, kita juga bisa belajar mandiri..
Beda banget saat kita berada di rumah ortu/mertua atau di rumah sendiri... Pelajarannya banyak banget...
aku pernah tinggal di rumah sendiri, terus pas hamil gede-skarang di rmh ortu.
lagi mikir2 untuk pindah ke rmh sendiri lagi.
cuman rumahku lingkungannya ga seenak di rumah ortu. sekeliling rumah petak, yang (maaf) tingkat pendidikan dan pekerjaannya kalangan bawah dan amat bawah. pinginnya pas siang anakku di rmh ortu, pas kita balik dari kerja, diambil.cuman ntar kesannya setengah2 pindah rumah.
tinggal di rmh ortu juga biaya tinggi, kita ga bisa nabung![]()
lagi bingung
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Tinggal di rumah ortu kok malah biaya tinggi? Bukannya justru bisa ngarep masih dikasih uang jajan sama ortu?
Anyway, pada akhirnya kita akan(/sebaiknya) punya rumah sendiri... kecuali kalau memang diwajibkan menunggui rumah pusaka. Masalahnya tinggal kapan.
Karenanya, IMHO sebaiknya pilih yang paling mendukung ke arah sana... misalnya, bisa nabung, dsb...
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
setiap orang punya kondisi masing2 yang orang lain mungkin tidak mengalami...
Saya "terpaksa" tidak ngontrak, pertimbangannya adalah secara kesehatan kedua ortu saya tidak stabil. Bapak gampang sakit semenjak gagal ginjal, begitu juga mama. Sebenernya saya di rumah juga gak efektif karena ada anak2 balita yang membutuhan perhatian ekstra...tapi kehadiran mereka secara kejiwaan mengurangi ketidakstabilan kesehatan mereka.
Saya tetap berencana bersama suami untuk pindah rumah, tapi ikut ke tempat suami kerja. Pertimbangannya ongkos PP banjarmasin-blora terlalu gede dan perusahaan cuma nanggung pulangnya ajah...sementara saya sedang berunding dengan adik2, harus ada yang jagain mereka dengan kondisi kesehatan mereka.
Saya gak mau mereka sendirian tanpa dijaga, sudah banyak contoh di deket rumah saya ortu hidup sendirian anaknya di luar kota semua, meninggal baru ketahuan 3 hari kemudian...mengerikan
iya um, soalnya untuk biaya makan aku yang nanggung. (termasuk beras, gas, sayur mayur, ikan, ayam dlsb dlsb)
masukannya dong, ini plus minusnya
rumah ortu
+lingkungannya enak, ada tempat bermain
+ada pembantu yang sudah biasa ngasuh anak di rumah, bisa masakin juga
+dekat orang tua
+ada adikku (4thn) jadi temennya
-ekonomi biaya tinggi, gaji habis, sering kurang *sigh*
-banyak sungkan2nya
-suami ga bebas, susah jadi kepala rumah tangga. kepala ga mungkin 2 kan?
-ga bebas milih2 kemauan kita. termasuk ngelola anggaran. ortu juga ga mungkin diajak hidup prihatin (makan tempe tahu doang)
rumah sendiri
+bisa bebas melakukan apa saja, punya pilihan2 sendiri
+suami juga lebih bisa bebas, jadi kepala keluarga seutuhnya
+bisa nabung
+sebagai orang tua, kami juga jadi lebih mandiri
-musti membiayai rumah sendiri, awal2 harus renovasi dulu (sekolahin SK aja?)
-masih bingung soal pengasuhan hegel. jadi penitipan anak? atau siang dititipin di rumah ortu? tapi ga enak kalo nitipin di rumah ortu
-jauh ama ortu, kalo ada apa2, ga jauh amat sih, sekitar 1,5 km
-lingkungan rumah, ga terlalu nyaman
lagi menimbang2
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
ini usulku, misah aja tapi mending cari lingkungan yang jauh dan sebaiknya tidak perlu menitipkan Hegel setiap hari, pas weekend boleh deh main2 ke rumah...istilahnya kalau mau mandiri, harus sekalian
kalau pindah, ya ke rumah sendiri itu bu. deket ama lapak ku sekarang. kalau cari tempat lain lagi, bingung alasan pindahnya, dan tujuan pindah juga biar bisa ngawasin usaha
emang lingkungannya ituh, dan kalo pindah pun ga bisa sekarang. harus renovasi dulu
kl kontrak, sayang duitnya *masih menimbang2*
makasih ya masukannya
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Kalau dilihat-lihat, ya UUD sih ya? Tapi kayaknya ada satu hal penting yang perlu dibenahi... kalau dimungkinkan, yaitu: Komunikasi sama orang tua.
Secara dalam kasus ini kayaknya orang tua berada pada posisi yang menghambat keputusan. Kalau tinggal bareng, biaya mahal. Nggak tinggal bareng, sungkan buat nitip anak.
Memungkinkan gak kalau hidup bareng tapi biaya nggak mahal, atau rumah sendiri, tapi bisa nitip anak? Kalau masalah ini sudah beres, kayaknya yang lain gampang deh.
Saya dulu keluar dari rumah orang tua ya karena memang berprinsip harus punya rumah sendiri. Keputusannya diambil dulu, baru bagaimana-nya belakangan.
... dan ternyata butuh tiga tahun untuk betul-betul bisa keluar. Tapi setidaknya selama tiga tahun itu kami fokus untuk bisa keluar, dan pelan-pelan jalannya makin kelihatan. Memang sih, ada banyak pengorbanan:
- Ngomong ke ortu bahwa kita mau mandiri, tapi
- sementara anak titip dijaga ya?
- soalnya, kami tiap weekend mau berburu rumah
- sudah gitu kami gak banyak bantu uang ya?
soalnya
- mau nabung buat DP rumah
- tapi sementara belum dapet, kami tetep di sini dulu ya?
Orang tua setuju... maka tiga tahun itu yang kami butuhkan untuk nabung dan keliling Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Ciawi, Parung dan sebagainya cari-cari rumah.
Itupun... mertua kami impor dari Jawa Timur untuk menjaga anak-anak
Ada kemauan ada jalan... plus sedikit komunikasi, negosiasi, dan muke tebel![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
wah mantap sarannya...
Kalau saya sih, pakai jasa khadimat... Termasuk kalau saya tinggal dinas beberapa hari, saya tinggal sama khadimat.
Awal2 pindah rumah memang sangat mencekik, gadai ini itu, hutang sana sini, pokoknya yang penting susu anak terpenuhi... Tapi alhamdulillah kesininya semua berjalan semakin enak..
Untuk sementara memang belum pengen nyari rumah soalnya masih berencana membangun rumah di arel kampung di rumah ortu di jogya. Dan rumah dinas sifatnya masih hak pakai sampai pensiun.
makasih udah berbagi pengalaman dan sumbangan sarannya
tadinya aku bener2 resah, bingung mau curhat di mana, eh disini malah jadi diskusi yang enak.. makasih ya
Sebenarnya kami sudah berusaha berkomunikasi.
Tapi lagi-lagi, kalau tinggal bersama, sulit untuk mengatur anggaran. Semisal menu masakan. Awalnya saya atur makanan sederhana (supaya irit) beras juga kelas menengah saja ga yang premium. Ga sampai tempe tahu doang lah, diselang seling sebenarnya.
Tapi ada protes, kenapa ga ada makanan bergulai, kenapa ga ada daging, kenapa ini dan itu.
Saya lebih banyak maklum, orang tua saya keduanya masih bekerja dan ingin menikmati hidup. Kesepakatannya ketika saya tinggal di sini memang membiayai makan dan turunannya (gas, beras dll)
Kalau usaha sedang bagus, sebenarnya tidak masalah, tapi kalau lagi diterpa badai begini terasa banget, kadang terpaksa ambil tabungan yang cuman sedikit
kalau tinggal sendiri tapi nitip anak, sebenarnya nitip pun sama pembantu di sini sih (pembantunya juga saya yang bayar, tapi makan tidur di rumah ortu) saya belum menjajaki kemungkinannya. Soalnya untuk pindah pun blm mewacanakan ke ortu. bulan depan mungkin baru pelan2 mengkomunikasikan
opsi lain, ke penitipan anak. tadi ada tempat yang cukup bagus. bisa menjadi alternatif.
rencana keluar juga ga serta merta , jangan sampai nanti dikira ada masalah apa tiba2.
mungkin setengah tahun lagi, rumah saya juga masih belum direnovasi, belum layak ditempati. Sambil jalan nabung buat renovasi
Soal komunikasi, ya memang bisa dibilang itu ada masalah juga. Ortu sedikit kurang cocok ama suami. Sudah coba kujembatani 2 tahun-an lebih (selama kami tinggal di sini) tapi sepertinya tetap sering ada miskom.
Bukan berarti mereka benci, atau suami bikin onar, tapi memang banyak hal, ketika suami melakukan A, maksud hati membantu malah disangka lain, atau melakukan B, tapi disangka akan menyulitkan (padahal kendala yang akan menangani kami)
Suami sebenarnya cuek2 saja, apalagi ortu kerja, jadi ga 24 jam ketemu terus, tapi saya yang diposisi tengah yang ga enak, ga enak ke keduabelah pihak.
Ini yang belum terpecahkan solusinya.
Kesannya melarikan diri dari masalahkah? atau ini memang solusi memecahkan masalah?
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
susah cari khadimat yang bagus di sinilagi pula rumahnya kecil, kayaknya ga cukup kalau ada khadimat
saya terinspirasi, ketika kami kemarin ke rumah teman, dia masih ngontrak, kerja serabutan, anak dua, tapi berani tinggal sendiri (nekat apa berani)
mungkin masalahnya kami kurang nekat aja, atau terlalu manja.
Harusnya lebih berani, tapi jangan sampai kelewat konyol saja
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
atau cari khadimat yang gak nginep kak chan, katanya sekitarnya termasuk golongan menengah kebawah kan? Sapa tahu ada yang bisa dimintai tolong untuk menjaga si kecil.
Menurut pengalaman saya, kita memang masih manja dan lemah untuk mandiri, tapi kita punya senjata yang ampuh, yaitu tetangga...
Alhamdulillah, komplek kecil kami seperti kantung, hanya 4rumah yang dihuni, dan semua punya anak kecil. Kebetulan di mulut gerbang komplek ada warung makan kecil yang dikelola oleh orang asli situ. Kita rengkuh semuanya, termasuk para satpam tower.
Saat aku bingung nyari tukang setrika, lewat ibu warung aku bisa dapat, butuh khadimat, lewat ibu warung juga dapat. Intinya sih, menyambung silaturahim.
Sekarang kekuatanku ya namanya tetangga...
kalau anak yang ditinggal sendiri, saya masih amat sangat menyarankan untuk tidak melakukannya.
Besar kecil anak, kalau masih dalam asuhan kita, bagaimanapun, harus kita awasi, jangan kita biarkan lepas dari pandangan, meski kita pakai pandangan bantuan, khadimat, tetangga, ortu, mertua, dll...
Selain dari segi keamanan, juga kasihan...
Eh iya loh chan. Ada dua kawanku yang tinggal bertiga aja, dia, suami dan anaknya yang masih umur 10 bulan. Bisa kok.
Betewe, iyaaaa... setuju banget. Tinggal sama ortu itu ternyata lebih boros
Jadi gak bisa mandiri. Dan segala keputusan jadi harus (entah kenapa) urun rembug sama ortu, padahal kami kan udah rumah tangga sendiri. Nabung pun ala kadarnya, bahkan sering habis.
Enaknya sih, ada banyak orang yang ngurus Ara, juga fasilitas rumah tangga sudah lengkap. Tetapi ya itu, secara finansial jadi lebih berat, dan juga belum bisa mengatur urusan rumah tangga sendiri.
Masalahnya adalah ortu sepertinya agak keberatan kalau pisah. Mungkin berat dengan adanya cucu, juga ada faktor masalah finansial. Tetapi, saya pribadi udah gak kuat. Pengennya segera tinggal sendiri, entah kontrak entah kredit rumah.
idealnya, dengan kondisi saya, memang pisah.
InsyaAllah sudah tekad mau pisah, tinggal masalah waktu
mau benerin rumah sendiri dulu, sekaligus ngumpulin duit buat dana perbaikannya![]()
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
KakakakakakakakkkkkkSoal komunikasi, ya memang bisa dibilang itu ada masalah juga. Ortu sedikit kurang cocok ama suami. Sudah coba kujembatani 2 tahun-an lebih (selama kami tinggal di sini) tapi sepertinya tetap sering ada miskom.
Bukan berarti mereka benci, atau suami bikin onar, tapi memang banyak hal, ketika suami melakukan A, maksud hati membantu malah disangka lain, atau melakukan B, tapi disangka akan menyulitkan (padahal kendala yang akan menangani kami)
Suami sebenarnya cuek2 saja, apalagi ortu kerja, jadi ga 24 jam ketemu terus, tapi saya yang diposisi tengah yang ga enak, ga enak ke keduabelah pihak.
Ini yang belum terpecahkan solusinya.
Kesannya melarikan diri dari masalahkah? atau ini memang solusi memecahkan masalah?
Sorry ketawa, tapi soalnya it is so damn familiar
Kayak gini memang masalah klasik, hubungan antara mertua dan menantu. Kenapa?
Karena mereka memang orang asing satu sama lain.
Pasangan suami istri adalah dua orang yang mulai dengan penjajakan, coba-coba, niat untuk memahami, usaha untuk memaklumi, dan ikatan untuk berkomitmen. Semua ini melalui proses bertahun-tahun, kadang putus kadang nyambung... kadang berantem kadang bertengkar, kadang ribut, tapi akhirnya mesra lagi. Indahnya proses pacaran.
Lalu ketika sampai pada titik tertentu kedua manusia ini merasa sudah cukup kompeten dan saling memahami untuk menikah. Maka jadilah (dengan empat tahun pertama pernikahan biasanya masih ada penyesuaian tahap kedua).
Mertua dan menantu?
Nggak ada proses itu. Kedua belah pihak tetap orang asing satu sama lain. Lah wong tau-tau gedubraks!!!... dapet menantu.
Dan yang bingung memang yang di tengah-tengah. Si anak yang paham betul watak orang tuanya dan sekaligus paham watak pasangannya akhirnya kebagian peran jadi penengah.
Spoiler for pengalaman pribadi:
Keluar dari rumah orang tua itu samasekali bukan lari dari masalah, karena mendirikan rumah sendiri adalah tugas perkembangan yang wajar dari seseorang, bisa menjadi mandiri dan bisa menentukan sikap sendiri. Gak ada buku teks psikologi yang dissenting opinion dalam hal ini.
Hanya kalau jaman dulu, sepasang pengantin baru lebih mudah untuk berumah tangga sendiri.
- Penganti baru suku bushman di Afrika sana (yang mungkin baru berusia 12 tahun) tinggal mengumpulkan kayu dari hutan dan membuat gubuk buat mereka sendiri...
- Di daerah saya dulu, sepasang pengantin baru akan dibantu penduduk sekampung untuk membabat sebagian hutan untuk dijadikan rumah dan ladang...
Sekarang rumah harus dicicil... jadi prosesnya agak susah dan lama... tapi kebutuhan untuk hidup sebagai keluarga mandiri adalah naluri alamiah manusia.
Go for it chan...![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
kalau udah mantap, sosialisasikan pelan-pelan aja chan...masalah Hegel siapa yang jaga kalau aku kog lebih concern sama penitipan anak...lebih aman, higienis dan kondusif...karena chan kan cerita tentang tingkat pendidikan dan lingkungan sosial di rumah milik chan yang nggak terlalu kondusif ya, daripada was-was tiap ekrja mikirin Hegel diurus dengan benar apa enggak sama khadimat harian yang mungkin dari daerah sekitar mending pake jasa penitipan anak
Mengenai masalah ortu vs david (kayak tinju ajah) mirip sama saya kog, yang pusing kita sebagai anak yang paham dengan karakter ortu dan suami sekaligus tapi repot mengkomunikasikannya. Biasanya saya memilih tutup kuping selama itu tidak mengganggu kestabilan rumah. Tapi ada kalanya saya membela suami saya kalau ortu saya sudah kebanyakan tuntutan yang menurut pandangan mereka baik sedang menurut kita tidak. Model tarik ulur sih...gak selamanya sukses, minimal meredam saja.
Memang lebih baik kalau sudah punya anak punya rumah sendiri. Karena kasusnya merembet ke pengasuhan anak juga juga masa depan anak-anak yang jadi tanggung jawab kita bersama
@papa alip
waduh diketawain, bingung antara mau ikut ketawa apa nangis
Aku sama suami, dari kenal sampe nikah ada masa perkenalan 1 tahun.
Saat ini aku udah nikah hampir 4 tahun, pasang surut pasti ada, tapi aku ngerasa itu biasa dalam sebuah hubungan.
Bener, kalo ortu ga ada masa2 itu, walau aku juga bisa mengerti, dengan adanya gegar budaya dengan suami yang pastinya dididik dengan cara yang amat beda dengan saya.
Papaku juga asalnya dari daerah sumatra selatan yang dianggap paling rawan, kalo bawa kendaraan, disarankan tidak melintas malam2(jangan2 kampungnya sama ama papa alip
)
saya sendiri sudah sangat keras tipikalnya, ke suami waktu dulu blm nikah kubilang, papaku 100x lebih keras lagi orangnya.
Suami orang jawa timur, walo dianggap jawa timur udah cukup keras, masih kalah kayaknya hehe.
Bagi keluargaku, suami terkesan lamban, berbelit2, kesannya nunut padahal ngga, itu karena didikan ortu saya selalu ngomong apa adanya, langsung, ga pake basa basi.
Ya susah lah kalau harus merubah budaya macam itu, sudah mendarah daging.
Memang paling tepat pindah, jadi bisa mulai lagi dengan lebih leluasa.
@BundaNa
wah saya juga sudah pake cara itu mba, seringnya cuekin. tapi ke depan bisa ga maju2 kalau gini terus.
masih mencari-cari cara terbaik pengasuhan hegel, kalau nanti jadi pindah, suami lapaknya pas di depan rumah, dah diskusi, kalau pun minta orang nunggu anak (siang saja) suami bisa ikut mengawasi. Sepertinya pelan-pelan solusi2 untuk apa yang aku usahakan terbuka.
mudah2an ada jalannya
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India