BELAJARLAH DARI MATAHARI
Belajarlah pada matahari. Ia tidak peduli berapa kali harus terbenam untuk terbit kembali.
Baginya adalah takdir untuk senantiasa mengabdi dan berkhidmat kepadaNya.
Seorang pembimbing (ulama, dai, guru) adalah penerus risalah Nabi. Ia harus senantiasa memancarkan cahaya kearifan bagi orang-orang disekitarnya. Dalam keadaaan apapun, ia mesti memancarkan ahlak seorang penerus Nabi. Kehidupannya adalah cerminan Alqur’an dan Sunah.
Meskipun dalam upaya meneruskan percikan cahaya petunjukNya, ia harus mengalami apa yang dialami orang-orang sebelumnya (Rosul, Nabi, Sahabat dan Orang Sholeh). Penderitaan, kesengsaraan dan goncangan demi goncangan baginya hanyalah bagian dari perjalanan menemukan pertolonganNya yang begitu dekat. (QS. 2 : 214) Ia senantiasa teguh menebarkan rahmat, meski hidupnya”melarat”.
Bahkan setiap ujian datang, ia makin ”bersemangat.” Ia memahami betul peran hidupnya sehingga tidak mudah terbawa oleh keadaan disekitarnya. Baginya kepuasan tak terhingga bila ia dapat “menularkan” hidayah meski hanya kepada seorang.
Ia tidak menghitung berapa yang mengikutinya. Sebagaimana para Rosul dan Nabi, ia tidak mengharapkan upah dan penghargaan apapun kecuali dari Allah. Ia tidak kenal kata henti kecuali bila mati. Kehidupannya terjaga dalam keterikatan abadi dengan Sang Khalik. Ia tidak mendengki mesti dicaci. Ia tidak memaki mesti tidak dipuji. Bagai matahari, ia mengerti kapan saatnya terbit dan kapan saatnya terbenam, karena, ia lebih mementingkan ”nilai kehadirannya dibumi.
(Matahatiku Matahariku Imam Sibawaih El-Hasany Zaman)
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)


Reply With Quote




