Jawaban anda bisa benar bisa salah tergantung argumen yang diberikan, walau saya setuju 100% dengan jawaban anda tsb, dengan dasar bahwa telur itu benda mati, ia tidak akan menghasilkan makhluk bernyata, berbeda dengan ayam ia adalah benda hidup, darinya lah muncul kehidupan selanjutnya.
Serupa dengan manusia, jika menilik konsep agama maka manusia adalah makhluq yang diciptakan Allah SWT dari tanah secara berpasangang (menilik konsep al-Qur'an), maka darinya dikembang biakan keturunan yang banyak. Serupa dengan manusia, semisal itu pulaha kehidupan lainnya.
You see, tanpa perlu belajar filsafat saya bisa memberikan jawaban yang sama dengan anda walau dengan argumen yang berbeda. Artinya .... tanpa filsafat, saya bisa menjawab pertanyaan tsb. Dengan demikian, filsafat bukanlah segala-galanya bagi saya, karena saya tidak bergantung kepada filsafat, tetapi saya bergantung pada informasi yang saya terima dari agama saya.
Adapun soal bahwa filsafat adalah seni berfikir, atau seni mempertanyakan, atau apalah namanya maka saya pun tidak bergantung pada ilmu filsafat tsb. Tanpa perlu mempelajari filsafat, saya bisa melakukan kajian atas suatu pertanyaan yang muncul berdasarkan pemahaman dan ilmu yang saya miliki.
Oleh karena itu, dikatakan bahwa filsafat adalah bapak segala ilmu
<<<< absurb, karena bagi saya bapak segala ilmu itu merupakan pembuka jalan dan pengatur ilmu, dimana semua ilmu bergantung kepadanya.
Ini serupa dengan paham bahwa "Nahwu (tata bahasa Arab) itu bapaknya ilmu dan ilmu Sharaf (tata cara pemebitukan kata dalam bahasa Arab) adalah ibunya ilmu" bahwa ia hanya terbatas pada bidang bhs Arab karena tanpa menguasai kedunya maka kita tidak bisa terampil berbahasa Arab dengan benar namun faham seperti in tidak menjangkau bidang keilmuan lain.
Maka bagi saya, filsafat bukanlah bapak segala ilmu apalagi ibunya ilmu karena ilmu itu tidak lahir dari filsafat semata. Bahkan saya melihat, pengkultusan filsafat dan diskusi soal filsafat adalah sia-sia.
