Quote Originally Posted by purba View Post
Ok mbah Alip berpendapat tuhan menciptakan kejadian (genderless). Kemudian yg memilah2 kejadian ini jahat dan itu baik adalah manusia (aktor bias gender). Sampai di sini, tuhan masih selamat dari tuduhan pencipta kejahatan.
Nggak kok... saya melihat Tuhan memang sebagai pencipta kejahatan, tidak perlu diselamatkan. Seperti saya bilang di awal, saya tidak tertarik berurusan dengan Tuhan yang Omnipotent tapi cuma menciptakan separuh dari alam semesta

Quote Originally Posted by purba View Post
Tapi tuhan sendiri memberikan pengajaran melalui para utusannya bahwa yg ini jahat dan yg itu baik. Di sini, tuhan benar2 menjadi pencipta kejahatan.
Betulll... cocok dengan jawaban saya di atas kan? Beberapa hal sudah dilabeli sendiri oleh Tuhan sebagai kejahatan... anggaplah ini sebagai bantuan bagi kita supaya tidak memulai pendefinisian kita dari nol kecil


Quote Originally Posted by purba View Post
Juga peran tsb menjadi bertabrakan dgn peran aktor bias gender tadi. Gimana solusinya, mbah?
Nggak tabrakan kok? Kan memang beberapa hal secara obyektif menimbulkan kerusakan bagi kemanusiaan...

Quote Originally Posted by purba View Post
Ok tuhanlah pencipta kejahatan, tapi mengapa manusia yg disiksa di neraka nanti, padahal tuhan biangkeroknya?
Saya mungkin bakal dicegat oleh beberapa Theis yang saya kenal for saying this, Bagi saya neraka adalah sebuah alat. Suatu konsep sederhana untuk menggambarkan konsekuensi logis dari perilaku yang destruktif-nya dominan, apalagi kalau neraka dihubungkan dengan istilah 'siksaan'. Hey, it is just a bunch of burning fire, isn't it?

Saya memakai metode neraka untuk mendidik diri saya sendiri untuk misalnya, tidak berusaha memperkosa perempuan dengan rok mini, membunuhnya, dan get away with it. Katakanlah saya punya kemampuan hebat sehingga bisa melakukan semua kejahatan itu tanpa meninggalkan jejak forensik. Saya menggunakan metode neraka untuk mengingat konsekuensi yang akan saya terima di alam sana (karena di alam sini saya too damn good to get captured)... sayangnya the tool only work when you believe in it, so I took the first step and believe

Mengenai kebenaran obyektif tentang keberadaan neraka dan siksaannya... well... itu masalah keyakinan dan tentu pembicaraannya nggak nyambung dengan seorang atheis (two of my cousins are atheis, by the way, and we enjoy good companionship nevertheless). Saya memilih percaya, dan saya menggunakan beberapa penggambaran yang ada untuk memasukkan konsep baik buruk ke bawah sadar saya. Jadi tiap kali saya mau berbuat kejahatan, otomatis bulu tengkuk saya merinding... such a way to control my behaviour

Saya tidak keberatan dengan atheis yang pandai macam Eyang Purba, yang bisa memilah baik dan buruk secara obyektif dan kemudian menyusun perilaku sedemikian rupa agar bisa berkontribusi positif bagi masyarakat. You don't need the tool. Great. Saya tidak sependapat dengan keyakinan sebagian Theis yang mengatakan bahwa kaum Atheis karena tidak punya Tuhan, dus tidak punya aturan soal baik-buruk. Damn... many of the atheists are good and nice people. Kalau soal konsekuensi dari kepercayaan atau ketidakpercayaan kita terhadap Tuhan ... let's mind our own business...

Again... it is just me. Theis lain mungkin punya pandangan berbeda, dan bisa jadi mereka yang benar dan saya keliru besar.