Results 1 to 8 of 8

Thread: Lima Belas Abad berlalu

Threaded View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #5
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Jadi begitulah ceritanya… gosip-nya sudah beredar sejak lama tapi saya yang jadi subyek gosip justru menjadi yang terakhir tahu… Kejadiannya tiga minggu yang lalu. Pagi itu adalah hari pertama saya masuk ke kantor pusat di Jakarta setelah kira-kira tiga bulan terlibat dengan proyek di luar kota. Semua orang berebut menyalami saya untuk memberi selamat.

    “Ulang tahun–ku nanti pas bulan puasa, kok,“ jawab saya sambil nyengir. “Jadi nggak ada acara traktiran…”

    “Bukan gitu goblok!” boss berteriak dari dalam ruangannya. “Baca e-mail sanah!!!”

    Setelah proses panjang menyalakan komputer (karena segala macam security setting yang harus naik ke memory), saya menemukan e-mail yang dimaksud. Kepala-kepala bermunculan di belakang pundak saya. Hembusan nafas mereka membuat tengkuk saya terasa geli.

    “Kalian yang cowok KLUARRRRRR!!! Bau rokokkkk!!!”

    Jadi hanya ditemani para staff perempuan, saya membaca e-mail yang menghebohkan itu. Sebuah e-mail resmi dari perusahaan, menggunakan template HTML dengan logo perusahaan di sebelah kiri atas, dan beberapa artwork untuk pemanis di sisi kiri kanan.

    Congratulation ya, Mas… “ sekretaris saya memberi tepukan lembut di pundak. “Kali ini Mas gak bisa nolak lagi. Full recommendation tuh!”

    “Aku akan tetap nolak kalau kau nggak boleh aku bawa.”

    Tepukan berubah jadi cubitan.

    ***

    Sejak tiga tahun terakhir saya sudah dua kali menolak promosi, dan tiga kali menolak tawaran dari perusahaan lain. Semua karena satu alasan, saya tidak ingin pekerjaan menyita waktu saya bersama dengan istri dan anak-anak. Untungnya semua menghormati keputusan itu, di tempat saya bekerja kami punya doktrin bahwa setiap karyawan berhak mengejar pilihan hidupnya masing-masing.

    Tapi kali ini ceritanya lain.

    Kira-kira empat bulan lalu kantor saya merekrut lagi sekelompok management trainee, lulusan terbaik dari universitas ternama dari dalam dan luar negeri, dan saya bertugas menjadi mentor bagi dua diantara mereka.

    Sungguh suatu pengalaman menarik. Bila mentee saya sebelumnya berasal dari latar belakang kelas menengah-bawah, yaitu anak-anak cemerlang yang tidak akan bisa masuk universitas kalau tidak terbantu oleh bea-siswa dan ketekunan mereka berusaha, maka anak didik saya kali ini berasal dari kalangan yang cukup berada. Yang satu adalah anak seorang pengusaha yang lumayan berhasil, sementara yang satu lagi adalah anak dari direktur sebuah bank nasional.

    Harus saya akui bahwa saya biasanya skeptis dengan “anak-anak orang kaya”. Tapi dua anak ini merupakan pengecualian (atau saya memang terlanjur jadi korban stereotip).

    Mereka cerdas, tentu saja, kalau tidak mereka tidak akan bisa lulus dari program perekrutan kami yang cenderung biadab dan kejam, tapi yang mengagumkan saya adalah mereka merupakan kombinasi yang luar biasa manis antara etos kerja, disiplin, budi pekerti, dan gejolak kemudaan.

    Maksudnya?

    Kinerja mereka luar biasa bagus, tentu saja. Pemahaman mereka tentang kehidupan juga mengagumkan. Mereka membaca Shakespeare, Injil dan Qur’an, bisa diajak diskusi soal Nietsche, JK Rowlings, Arundhati Roy, SH Mintardja, Dee, Gober Bebek, dan beberapa nama yang belum pernah saya dengar. Jika tetap di kampus, mereka akan jadi professor yang hebat. Lucunya mereka juga penggemar Lady Gaga, Beyonce, NKOTB, Bboys, dan nama-nama lain yang tidak ingin saya dengar… gadget mereka yang terbaik dan termahal, dengan kemampuan untuk membeli layanan paling premium, dan kecerdasan untuk menggunakan gadget itu secara optimal. Dalam hal ini saya selalu merasa ketinggalan jaman.

    Jadi apa yang aneh?

    Saya tidak pernah membayangkan bahwa dari keluarga yang sibuk bisa dihasilkan anak-anak cemerlang seperti itu. Khususnya dari segi kematangan emosi. Apa yang saya pelajari dari pengalaman saya bertahun-tahun pacaran dan menikah, ternyata sudah mereka kuasai dengan baik. Oke-lah belum semua, bagaimanapun perbedaan umur tetap jadi faktor penentu, tapi pemahaman dasar mereka soal membina rumah tangga sungguh membuat saya salut. Di mata saya, pacar-pacar mereka adalah orang yang beruntung, mereka bahkan lebih bijaksana dari beberapa orang sebaya saya yang saya kenal.

    Jadilah saya bertanya-tanya bagaimana mereka dibesarkan, apalagi mengetahui bahwa orang tua mereka adalah individu yang luar biasa sibuk, yang kalau dalam film Indonesia picisan adalah sumber dari lahirnya generasi broken-home.

    Setelah melalui berbagai sesi ngobrol yang panjang, sekian banyak traktiran-traktiran makan siang dan malam, join operations dan sebagainya… saya menarik kesimpulan bahwa bagaimanapun juga hubungan antara orang tua dan anak adalah hubungan emosional yang kuat dan harus kuat, lepas dari jumlah pertemuan mereka dalam seminggu. Baiklah si ayah sibuk sekali dan jarang bertemu, tapi para anak-anak itu menghargai sekali usaha sang ayah untuk meluangkan waktu bersama mereka, memberi perhatian penuh ketika sedang bersama-sama, mengobrol soal ini-itu, menjadi tempat curhat, dan sebagainya. Tidak ketemu muka? Ada telpon gitu loh… salah satu mentee saya bercerita ketika dia sedang patah hati, si ayah yang saat itu sedang tengah malam di London mau mendengarkan dia curhat habis-habisan selama satu jam lebih…

    Mereka juga menyadari bahwa orang tua mereka tidak sempurna, ada kesalahan di sana-sini, kadang ada janji yang terpaksa tidak bisa ditepati, tapi semua itu kecil artinya dibandingkan usaha yang ditunjukkan oleh para orang tua untuk bisa menjadi bagian indah dalam kehidupan anak-anak mereka. Dari kedekatan emosional itu, anak-anak itu selalu punya keinginan kuat untuk mematuhi aturan-aturan yang diterapkan oleh orang tua mereka, bahkan tanpa pengawasan sekalipun.

    … dan hasilnya adalah anak-anak muda luar biasa yang saat ini menjadi anak didik saya.

    ***

    Kalau biasanya tawaran promosi akan berakhir mudah dengan saya mengirim jawaban penolakan, kali ini saya memberi pertimbangan serius. Selama beberapa malam saya hanya tidur beberapa jam karena sibuk menimbang-nimbang dan melakukan kilas balik.

    Satu pemahaman baru membuat saya harus betul-betul merombak ulang konsep diri saya selama ini. Jika selama ini saya merujuk pada pola pendidikan yang saya dapat dari orang tua, kali ini saya perlu memasukkan pola asuh dari anak-anak didik saya itu. Saya akhirnya menyadari bahwa bagaimanapun juga saya dibesarkan dalam tradisi ekonomi agraris, yaitu ketika orang tua yang petani memiliki waktu dua puluh empat jam sehari untuk anak-anak mereka. Sawah letaknya dekat dari rumah, dan kebanyakan paman, bibi, kakek, nenek, sepupu dan lain-lain berkumpul di wilayah yang sama. Akibatnya hanya pola asuh itulah yang saya ketahui, selalulah dekat dengan anak-anak.

    Masalahnya, saya sendiri adalah manusia yang telah meninggalkan tradisi agraris dan masuk ke tradisi industri. Saya tidak bisa selalu dekat dengan anak-anak. Pilihannya adalah keluarga atau karir.

    Dari percakapan saya dengan anak-anak didik saya itu, saya melihat contoh orang-orang yang telah lebih dulu melangkah ke tradisi industri dan membesarkan anak-anaknya dalam tradisi itu, dan hasilnya tetap generasi penerus yang membanggakan, tanpa orang tua harus kehilangan karir mereka.

    Percakapan dengan istri-pun mengerucut ke arah yang sama.

    “Aku bersyukur kamu punya perhatian ke keluargamu, tapi bagaimanapun juga kamu tetap cowok brengsek yang nggak mau kalah dan keras kepala yang aku kenal sejak lama. Ambisimu besar, energimu meluap-luap, dan kamu puas sekali kalau berhasil melakukan yang orang lain tidak sanggup.”

    “Jadi kau nggak masalah kalau aku bakal sibuk abis? Ini jabatan level regional loh…”

    “Seperti biasa, kita nyebur dulu, apapun yang terjadi nanti kita hadapi bersama.”

    ***

    Jadi demikianlah, dengan menyadari bahwa saya melangkah ke dalam sebuah ketidakpastian, tiga minggu lalu tawaran itu saya terima. Efektif Bulan Juli nanti saya akan mengepalai sebuah divisi baru yang beroperasi di beberapa negara sekaligus, masuk dalam board of executives yang bertugas menyusun strategi kami di Asia Pasifik, punya suara dalam menentukan karir staff kami di Indonesia (termasuk boss saya saat ini), dan mungkin harus meluangkan waktu dua puluh delapan jam sehari untuk pekerjaan.

    Beberapa malam ini saya mengamati anak-anak ketika mereka sedang tidur, dan secara khusus menekankan dalam doa saya, semoga saya mampu membimbing mereka menjadi manusia yang berguna dan bahagia ketika mereka dewasa nanti.

    … dan mungkin bakal jarang banget posting
    Last edited by Alip; 24-06-2012 at 12:02 AM.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •