-
wisdom of Manjushri
Pangeran Dharma Manjusri bertanya kepada Sang Buddha : "Bhagavan, kenapa dana-sila-ksanti (kesabaran) - virya (ketekunan) - dhyana (meditasi) dan Prajna (kebijaksanaan Agung) adalah rintangan ?"
Buddha memberitahu Pangeran Dharma Manjusri : "Hakekat sejati sarvadharma adalah tiada rintangan, namun insan awam yang tidak berpengetahuan dirinya sendiri menciptakan perbedaan, sehingga dana-sila-ksanti-virya-dhyana dan Prajna bisa menjadi sebuah rintangan bagi dirinya sendiri."
"Oleh karena itulah wahai Manjusri, saat insan awam yang dungu melakukan perbuatan berdana, dia akan kehilangan rasa menghargai terhadap orang yang pelit,oleh karena tidak ada rasa menghargai, maka timbullah kebencian dari dalam hatinya, karena timbul kebencian,maka ia merosot kedalam neraka besar."
"Dirinya sendiri mentaati sila, namun pada saat berjumpa dengan orang yang melanggar sila, timbul rasa angkuh dan meremehkan, menyebarkan kesalahan kesalahannya supaya orang lain yang mendengar juga ikut tidak menghargai pelanggar sila tersebut, oleh karena kehilangan rasa menghargai, maka merosotlah ia ke alam rendah."
"Diri sendiri menekuni ksanti (kesabaran), oleh karena ia mampu bersabar maka timbullah rasa tinggi hati seperti ini :
Aku adalah orang yang mampu bersabar, sedangkan orang - orang itu adalah orang biadab yang tidak punya kesabaran. Maka, kesabaran malah membuatnya lengah (sehingga tinggi hati), ketahuilah bahwa hal ini adalah akar dari semua pelanggaran."
"Dirinya mempraktekkan ketekunan, berjumpa dengan pemalas, dia berpikir demikian : Pemalas seperti itu seharusnya tidak pantas memakan pemberian orang, bahkan seharusnya menerima seteguk air-pun tidak pantas. Setiap dia memikirkan diri sendiri selalu timbul keangkuhan dan memandang rendah pada orang lain, ketahuilah bahwa ini merupakan perbuatan dungu dan tidak berpengetahuan."
"Dirinya menekuni dhyana (meditasi), saat berjumpa dengan orang yang masih berpikiran kacau, dia berpikir : Aku ini selalu latihan meditasi, bhiksu yang lain batinnya masih kacau, semua yang dibabarkan mereka adalah sesat. Orang yang seperti itu, masih sangat jauh dengan jalan kebenaran, bagaimana mungkin bisa mencapai Kebuddhaan, Saat ia berpikiran demikian, mengikuti tiap pikiran yang timbul merupakan satu kalpa menerima kembali kelahiran dan kematian, setelah mengalami kelahiran dan kematian, dia masih harus kembali lagi menekuni jalan Bodhi."
"Diri sendiri merasa banyak pengetahuan terhadap Dharma yang tidak diketahuinya, ia akan sembarangan membeda bedakan, melihat dirinya punya kelebihan timbullah kesombongan besar. Ketahuilah bahwa orang yang demikian sesungguhnya adalah sangat dungu dan tidak berpengetahuan, dia ditutupi oleh banyak perolehannya sendiri dan dia bukanlah seorang yang agung. Meskipun ia mendalami jalan Mahayana,namun dia mengatakan demikian :
"Aku ini yang paling hebat dan paling unggul." Ia tidak akan menghargai orang orang dari Sravakayana, Meremehkan mereka, memandang rendah dan membicarakan kesalahan kesalahannya, dengan penuh kebencian akhirnya ia mengeluarkan ucapan kasar dan menyakitkan, oleh karena itulah ia pasti merosot ke alam rendah."
Kemudian Pangeran Dharma Manjusri berkata kepada Sang Buddha : "Bhagavan, benar sekali bahwa seorang Bodhisattva tidak seharusnya menggunakan Buddha Dharma untuk menjelek jelekkan orang lain."
Buddha menjawab : "Tepat sekali , tepat sekali wahai Manjusri, kenapa demikian ? Bukankah seorang Bodhisattva seharusnya senantiasa berwelas asih dan mengasihani para insan. Bukan malahan memandang para insan dengan penuh kebencian dan rasa muak."
Manjusri menjawab, "Tepat sekali, Sang Bhagavan."
Oṃ A Ra Pa Ca Na Dhīḥ

-
-
Kalo esensi ini dimengerti orang di sampang, syiah dan sunni gak akan saling bantai
-
yah.. trend nya ga begitu pak e..
ini kan lagi nyontoh panutan, bangsa arab.. di sana, tempat asalnya, mereka sunni syiah jg ribut2, ya di sini musti lebih hebat dong...
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules