Setuju
Tidak setuju
Sebenarnya tidak terlalu susah untuk mengatur negeri ini, asal kebutuhan yg paling minimal yaitu kebutuhan pangan terpenuhi, rakyat termiskin sekalipun minimal bisa makan 2 kali sehari lah, harga kebutuhan pokok dan biaya sumber energi tidak terlalu tinggi, tidak akan ada gejolak yg berarti
Kalian kira kenapa banyak orang yg mau berunjuk rasa? Karena dibayar, ada yg membiayai mereka, sesederhana itu
Jika orang sudah berada pada tingkat minimal ekonomi golongan menengah, saya jamin dia gak bakalan mau diajak demo
Kalian mau demo dengan hanya dibayar 50 ribu perak doang?
CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.
Dan semua urusan ini berada di tangan pemerintah, yang sama sekali tidak pernah berhasil dari dulu.
Banyak yang bilang gue terlalu sinis sama pemerintah. Tapi sampai sekarang, gak ada bukti juga kan pemerintah pernah beres ngurusin soal pangan, harga kebutuhan pokok, dan energi?
Soal pangan: apakah ada peranan signifikan dari Kementerian Pertanian untuk ngurusin persediaan pangan di Indonesia? Dari Bulog?
Kebutuhan pokok: ketika pemerintah saja mengatur harga gula, gimana masyarakat bisa membeli dengan harga murah? bandingkan saja harga gula di Indonesia dengan negara Asia Tenggara lainnya.
Energi: kalau ini juga sama kompleksnya. apalagi karena urusan energi juga diatur kartel macam OPEC. PLN? Tambang?
ini belum lagi urusan soal telekomunikasi, perumahan, dan lainnya.
Menurut gue, akan sangat aneh kalau masih percaya sama pemerintah dengan rekam jejak seperti ini. Terutama kalau percaya seorang tokoh dengan janji2 muluknya sebagai presiden, bisa membereskan semua permasalahan negeri ini. Jadi menurut gue sungguh gak rasional kita ngotot mendukung salah satu kandidat dengan mempercayai yang keluar dari mulut manisnya.
Biaya gonta ganti presiden itu mahal lho... Semakin banyak mantan presiden dan wakil-nya, semakin banyak pula tunjangan, hak pensiun dan biaya kesehatan yang harus dikeluarkan APBN tiap bulan untuk mantan presiden dan keluarganya.
Silahkan gonta ganti presiden tapi pastikan yang sudah uzur, supaya biaya perawatannya ndak lama. Kasihan Indonesia, makin bangkrut.
"The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain
Masalahnya, siapa figur yg benar-benar bisa menuntaskan semua masalah yg ada? Siapa?
Saya merasa seperti ini, siapapun yg jadi presiden pada awalnya percaya diri bisa menghandle, namun lambat laun perlahan tetapi pasti semuanya akan merasa keteteran, kedodoran dan lieur jangar sorangan
CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.
Menurut gue, gak akan ada orang yang bisa menyelesaikan masalah2 itu.
Presiden yang menurut gue realistis, akan menyelenggarakan kewenangan negara yang secara tegas diatur dalam UUD 1945. Di luar itu, seharusnya bisa diserahkan kepada mekanisme pasar.
Urusan makanan, ketika tidak ada regulasi harga dari pemerintah, pelaku usaha akan mampu untuk menyediakan makanan yang terjangkau bagi masyarakat. Ini adalah konsekuensi dari kompetisi pasar, yang akan membuat harga ditekan serendah2nya. Hal ini pula berlaku untuk kebutuhan pokok. Negara tak usah ikut campur dengan urusan harga (batas atas batas bawah). ketika ada kompetisi pasar, konsumen akan diuntungkan dengan harga yang terjangkau dan kualitas yang bagus.
Tapi untuk urusan ini akan beradu tafsir konstitusi terkait Pasal 33 (2) UUD 1945: Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Definisi "penting bagi negara" dan "menguasai hajat hidup orang banyak", sangat tergantung dengan diskresi dari penguasa untuk menerapkan sejauh mana.
Sementara untuk urusan energi, menurut gue mau gak mau harus dikendalikan oleh negara. Karena sudah kadung dicantumkan dalam Pasal 33 (3) UUD 1945. Meski menurut gue, tafsir konstitusinya pun masih bisa diperdebatkan, khususnya mengenai frasa "dikuasai oleh negara", yang bisa jadi dalam arti mengelola langsung, memberikan izin untuk dikelola swasta, atau hanya sebatas mengawasi.
Tapi gue mau mengambil contoh sektor2 yang akhirnya tidak lagi dimonopoli pemerintah. Sektor telekomunikasi, misalnya, yang dulu dikuasai oleh Telkom/Perumtel/dll. Layanan mereka sama sekali tidak berkualitas, sampai akhirnya harus digulung oleh penyedia jasa telekomunikasi swasta. Dulu punya pesawat telepon di rumah itu sudah barang mewah. sekarang? tukang becak pun bisa dipanggil lewat ponsel.
Pos Indonesia dulu berjaya. sekarang tergilas JNE, Tiki, RPX, dan entah berapa banyak lagi jasa kurir di Indonesia. Harga? terjangkau. Kualitas? ya bisa diterima, meski tetap ada komplain (namanya juga bisnis, pasti ada yang gak puas).
Sementara, sudah terlalu banyak sektor yang turut dilakukan pemerintah tapi nyatanya tidak bisa berkontribusi apa2. Bulog, Perumnas, KAI (udah mendingan sih).
Jadi, kalau ada calon yang mulai ngomong manis akan mempedulikan nasib masyarakat dan menjamin kehidupan mereka, lebih baik ditanggapi dengan waspada. Tibatan ngalegeg dukung ieu eta, pek teh sarua weh nasib mah hese meuli sangu.
Jelema nu belangsak mak keneh keneh kehed nya
CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.
ah, ieu pisan. K3. Keneh Keneh Kehed.
- - - Updated - - -
Sepakat om. Tapi kalau saya malah lebih ekstrim sih. Urusan yang gak perlu diurus pemerintah, ya gak usah diisi alias bubarin aja.
Ide bagus pas era Gus Dur, Depsos dibubarin. Bagus bukan karena Depsos-nya, tapi karena langkahnya untuk membubarkan departemen/kementerian.
Menurut gue, kalau masing2 pemprov/pemkot/pemkab sudah punya sudin/dinas untuk masalah tertentu, ya sudah tak usah lagi ada di tingkat nasional. \
Jadi di luar yang diamantkan UUD dan pembagian kewenangan (ada 7) antara pusat-daerah, Presiden gak usah ikut2 campur.
Ntar urusan selokan sumbat, bisa2 sampe ke Presiden.
Presiden sendirian gak akan sanggup mengatasi semua masalah di negeri kita meskipun dia punya kharisma atau wibawa selevel dewa sekalipun. Seorang presiden harus bisa, minimal, nyari pembantu/nyusun kabinet yg diisi orang-orang yg kompeten di bidangnya.
Soal pasal 33, saya setuju kalau pasal-pasal di UUD 45 direview lagi dan diamandemen seperlunya supaya relevan dengan kondisi sekarang. minimal diamandemen utk meminimalisir salah/multi tafsir.
Yang saya harap, siapapun presidennya nanti, banyak orang yg masih mau bergerak menyadarkan kalangan grass root dan kalangan lain yg masih berpikiran bahwa presiden cukup modal figur dan populer saja.
Saya gak keberatan sih kalau presiden gak terlalu dekat dengan rakyat secara fisik tapi kebijakannya bisa membawa ke tujuan.
Anyway, siapa sosok yg menurut kalian paling pantas jadi the next president? Feel free to not answer.
Wih, pantas atau tidak susah ya.
Tapi gue akan bilang ini lagi: Kalau yang bertarung Jokowi v. Prabowo, gue bakal pilih Jokowi.
kalau gak bawa PKS dan golongan yang tendensinya fundamentalis, saya akan pilih prabowo sih.
But somehow i feel like im going abstain![]()
Gatot pensiunan TNI disebut-sebut sebagai poros tengah antara Prabowo dan Jokowi, malah isunya Gatot mau disandingkan dengan Agus Yudhoyono. Makin menarik
Ini ceritanya hampir sama SBY yang diunderestimate lha ndilalah jadi presiden di tahun 2004, lanjut ke periode berikutnya lagi![]()
Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi
Impossible is nothing!
ada persamaan yg unik tentang 2 presiden terakhir yg terpilih secara langsung
dua-duanya sama-sama from zero to hero, siapa sebelumnya yg memikirkan SBY? Atau Jokowi? Pada awalnya dua orang ini tidak digadang-gadang untuk menjadi presiden. SBY paling banter hanya sampe level menteri, tidak pernah terpikir oleh banyak orang dia bakal jadi presiden. Jokowi apalagi, bukan dari kalangan elit, jangankan presiden, jangankan gubernur, terpilih menjadi walikota saja orang sudah gempar
Ini unik karena sistem pemilihan secara langsung sudah dua kali berturut-turut mampu memunculkan figur yg tadinya bukan siapa-siapa lalu menjadi presiden
CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.
begitu ya?
Kalau saya melihat sih, SBY bukan from zero to hero. dia sudah masuk ke dalam elit Indonesia sejak dia jadi menantunya Sarwo Edhie, jadi gak bisa dibilang zero juga.
Ditambah lagi, dia sendiri pernah menjadi salah satu calon wapresnya Mega di tahun 2002 ketika wapres masih dipilih oleh MPR. Untuk SBY, justru dia orang yang sudah punya nama dan beruntung dapat simpati karena "playing victim". Figurnya sendiri sudah cukup ada, apalagi mesin politiknya sudah jalan sejak 2001.
- - - Updated - - -
Tapi Pilpres kita ini susah ditebak juga sih ya. Model "playing victim" laku di 2004, tapi gak laku di 2014. Sosok sederhana, blusukan, laku di 2014, tapi gak tau laku atau ngga di 2019.
Ketika salah satu bentuk jualan udah inflasi, karena dipakai kebanyakan orang, mungkin harus cari cara lain untuk mendulang suara.
True. Menarik kan?
Prabowo dia ternyata lebih pandai menjadi tim sukses&sponsor daripada mencalonkan dirinya sendiri, iya gak sih?![]()
Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi
Impossible is nothing!
Peran media kuat banget dalam ngebranding seorang jokowi dari yang tadinya nobody. Tim branding jokowi bagus dalam ngemas jokowi sbg wakil kaum proletar dan dapet dukungan dari alumni 98 yg berhasil ngebunuh karakter prabowo dan militer.
to some point, pemilu di indo sama kayak acara adu bakat sih. kemenangan di final lebih ditentukan bukan oleh bakat tapi oleh seberapa hebat si kontestan bisa narik simpati masyarakat yg mau memberikan suara thus the drama (mengulas bahwa si kontestan berasal dari orang yg kalangan tajir dan jalan hidupnya terhitung naas penih ujian).