Wo Chibao le !
Sebenernya sih masih banyak lagi. Yang disebutin itu cuman yang terkenal aja. Sebenernya sih kalo buat bahasa mandarin pake Hanyu Pinyin ato Wade-Giles sama aja, mungkin kalo buat bahasa Hokkian sistem Wade-Giles bisa lebih pas (walau pada kenyataannya bahasa Hokkian nggak pake sistem Wade-Giles).
Yang dipaparkan di atas itu bukan klasifikasi bahasa-bahasa Han secara ilmiah, hanya contoh2 yang familiar saja. Nanti deh kalo ada waktu lebih dijelasin tentang bahasa-bahasa Han.
我吃飽了. ﹗
現在你怎麼樣呢 ?
你一天幾次吃飯 ?
Mǎn [滿] yang artinya penuh. Tapi dalam konteks ini bukan berarti penuh, tapi bangsa Man (Manzu)
sebenernya nggak terlalu susah juga. Yang pertama harus diingat bahwa setiap bahasa yang memakai huruf latin sekalipun itu berbeda cara baca huruf-hurufnya. Kalo dalam bahasa Belanda (yang dulu juga dipakai dalam ejaan bahasa indonesia) misalnya tj dibaca c, oe dibaca u. Nah, Hanyu Pinyin itu memang dimaksudkan agar penutur bahasa2 eropa bisa mengucapkan bunyi2 bahasa mandarin. untuk penutur dari bahasa2 austronesia memang agak aneh jadinya. tapi sebenernya masuk akal. misalnya lambang d dipakai untuk bunyi t sedangkan lambang t dipakai untuk bunyi th (beraspirasi). Seandainya lambang t dipakai untuk bunyi t nanti malah orang eropa salah bacanya karena dalam bahasa inggris misalnya, lambang t itu bunyinya kan lebih mirip th (beraspirasi) seperti dalam kata "tea", kan bacanya bukan "ti" tetapi "thi"
Dari bermacam2 romanisasi itu asal kita tau dasar2nya, pasti mudah untuk melakukan konversi.
Bahasa-bahasa utara cenderung mirip satu sama lain. Hal ini antara lain karena daerah utara lebih lapang, tidak bergunung2 seperti daerah selatan sehingga antara satu daerah dengan daerah lain tidak terisolir. Hal ini mengakibatkan mobilitas penduduk lebih tinggi sehingga bahasa menjadi lebih seragam.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




interesting! trus, karakter man-nya itu apa sih? [man 大人?]
Reply With Quote