Donor ASI, Solusi Jitu Demi ASI Eksklusif
Salah satu aktivitas yang melekat segera setelah seorang perempuan melahirkan adalah menyusui. Tapi tak semua ibu bisa menghasilkan ASI yang cukup untuk anaknya. Padahal bayi sebaiknya mendapatkan ASI eksklusif sejak lahir sampai usia 6 bulan. Tahukah Anda kalau sekarang ada donor ASI yang bisa dilirik? Reporter KBR68H Dede Riani berbincang dengan para ibu yang menjadi pendonor ASI, demi memastikan lebih banyak lagi bayi yang mendapatkan ASI eksklusif.
“Seperti biasa mencuci dan mensterilkan alat pompa elektrik, karena saya tidak bisa pompa pake tangan. Tangan juga mesti dicuci bersih pakai air,” kata Gina S. Noer. Ia sedang memompa payudaranya, mengeluarkan ASI dengan bantuan pompa elektrik.
ASI dipompa, lantas disimpan ke dalam botol dan plastik khusus penyimpan ASI. Gina menyimpan dengan apik ASI hasil perahannya ke dalam freezer atau lemari pembeku. Tak lupa, ia tempelkan label di botol berisi tanggal dan waktu hasil produksi ASI. “Konsepnya ASI perah itu first in, first out. Jadi tanggal yang lebih lama itu yang pertama kali digunakan. Jadi ini untuk informasi kita.”
Lebih dari 20 botol dan kemasan plastik ASI hasil perahan memenuhi lemari es Gina. Karena produksi ASI Gina berlebih, ia memutuskan untuk jadi donor ASI sejak dua bulan lalu. “Tahulah ASI anak saya tercukupi sehingga bisa membuat saya produksi ASI lebih banyak. Berlebih buat apa?”
Niat utama Gina adalah membantu ibu-ibu yang produksi ASI-nya sedikit. Karena Gina percaya betul akan manfaat ASI eksklusif selama 6 bulan, seperti yang terjadi pada anak pertamanya. “Ya ASI itu memang haknya anak, dia sehat dan membuat daya tahan anak itu lebih tinggi ketimbang anak yang lain. Anak ASI juga lebih cerdas. Hubungannya juga bisa lebih dekatlah, karena ketika proses menyusui terjadi skin to skin contact (saling menyentuh antara kulit si bayi dan ibunya).”
Karena itulah Gina terus memberikan ASI untuk anak keduanya, yang baru berusia 2 bulan. Berhubung produksi ASI kali ini berlebih, Gina dan suami sepakat untuk mendonorkannya. Keputusan yang juga direstui Marta Maskur Noer, ibu Gina. “Daripada numpuk, mubazir, yaa mungkin tidak mubazir juga masih bisa untuk berapa bulan. Tapi kalau bisa membantu orang yang baru melahirkan kekurangan itu, haduuh nikmatnya itu alhamdulilah. Si penerima juga pasti bersyukur sekali
Gina berusaha selektif memilih penerima ASI-nya. Ia tak ingin si ibu justru jadi malas menyusui anaknya, setelah menerima donor ASI. Saling bertelepon dilakoni untuk sekedar mengetahui kabar. “Yang penting syaratnya, berhubung saya Islam, jelas tidak boleh jenis kelamin berbeda. Lalu saya kenalan sama ibu yang hendak menerima donor ASI saya. Saya juga harus menjalin kontak alias silahtuhrahmi. Kalau ternyata ASI beku Saya lagi pas-pasan, maaf terpaksa Saya tolak. Ya saya sih fair-fair aja. Akhirnya kalau ada orang yang, ah asyik nih donor ASI, jadi malas nyusui, yah itu tanggung jawab masing-masing lah.”
Penerima ASI
Irma Verlia adalah penerima donor ASI dari Gina. Tak hanya Gina yang jadi ibu donor, tapi juga tiga ibu lainnya. “Jadi tuh saya ada tiga ibu buat bayi saya. Yang satu tetangga saya, saya pikir tetangga saya itu sudah cukup, waktu anak saya di rumah sakit. Wah ternyata habis, akhirnya dokter saya bilang, ibu Gina ASI-nya banyak, dia pasien saya juga, dulu juga dia donor. Lalu akhirnya saya udah mikir gak papalah ibunya dua yang penting anak saya sehat. Akhirnya donor sama ibu Gina. Ibu Gina khan masih punya bayi juga yaa. Saya khawatir dia kurang karena berbagai dengan saya. Akhirnya saya cari lewat AIMI, Saya dapat, namanya Ibu Novi, nah dia sekarang jadi ibu donornya anak saya.”
Irma memilih donor ASI demi memastikan anak keduanya, Rio, tetap mendapatkan ASI eksklusif. Rio punya kelainan di lidah, sehingga tak bisa menyusui langsung ke payudara ibunya. “Saya heran, kok anak saya menyusunya sebentar banget, beda sama anak saya yang pertama bisa menyusu lama. Kalau dibilang sedikit susu saya gak mungkin, ini udah pada bengkak-bengkak.”
Ketika produksi ASI-nya makin seret, Irma sempat beralih ke susu formula. Tapi anaknya tak cocok dengan susu formula. “Lihat anak, saya kasihan. Batuk terus, batuknya kaya orang tua, banyak dahaknya. Sebulan saya bisa 3 kali ke dokter, fisioterapi bisa setiap hari. Saya takutnya malah nanti jadi asma.”
Demi putus hubungan dengan susu formula, donor ASI pun dipilih. Ini bukan keputusan yang mudah bagi Irma. “Saya ya maunya anak saya susu dari saya sendiri. Tapi akhirnya saya memutuskan, sudah lah donor ASI saja. Kasihan melihat anak saya batuknya nggak sembuh. Tiga hari langsung bersih, tidak ada batuknya lagi. “
Sudah tiga pekan ini anak Irma mengkonsumsi ASI hasil donor. Sebagai penerima, Irma juga selektif. Sang ibu pendonor harus bebas dari segala penyakit menular: HIV/Aids, TBC, Hepatitis dan lainnya. “Biasanya saya kenalan dulu, riwayatnya, jenis kelamin dan agamanya. Pendonor ASI juga merupakan rekomendasi dari dokter. Jadi saya percaya saja, bismillah sehat. Ibu pendonor khan juga punya bayi.”
Permintaan terus bertambah
Putri Tambunan adalah ibu donor ASI untuk 5 bayi. Ia memperlihatkan tempat penyimpanan ASI-nya. Ia membuka freezer kulkasnya dan memperlihatkan hasil produksi ASI-nya. “Jumlahnya yang ini sekitar 200-an botol,” katanya sembari tersenyum. “Totalnya ASI perah saya ada 440-an. Ini sebagian di sini, sebagian ada di freezer kulkas rumah tangga, sebagian lagi ada di frezzer rumah ibu saya.”
Semula, keputusan ini ditentang suami. Tapi Putri meyakinkan, ia hanya ingin membantu ibu lain, yang ingin anaknya mendapatkan ASI eksklusif. “Karena jujur saja suami saya awal mulanya kurang setuju. Karena menurut dia, ASI kamu banyak itu yaa buat anak kamu saja dia bilang begitu. Anak orang ya dapat dari ibunya. Konsep berpikir suami saya berpikir seperti itu. Akhirnya saya bilang, laluu gimanaaaa ini susunya banyak, kalau dibuang sayang. Lebih baik saya donorkan ke yang membutuhkan. Di sini suami saya bilang, kamu harus memberikan ke benar-benar ibu yang membutuhkan yaa.”
Kian hari, rupanya makin banyak ibu yang membutuhkan donor ASI untuk anaknya. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia AIMI mencatat, setiap hari ada saja permintaan donor ASI yang masuk ke mereka. AIMI termasuk gencar memperkenalkan donor ASI sejak 4 tahun silam tutur Ketua Umum AIMI, Mia Sutanto. “Sejak 2007 yang dimana setiap bulannya cuman satu atau dua ibu yang minta donor ASI, sekarang setiap minggu pasti ada dan banyak. Permintaan sekarang mingguan bukan bulanan lagi. Karena AIMI aktif di media sosial di Facebook, Twitter dan kita ada website, milis, jadi masuk dari situ pun ada permintaan donor ASI.”
Kata Mia, AIMI menjadi semacam mak comblang antara ibu yang ingin mendonorkan ASI dan yang membutuhkannya. Yang diutamakan adalah asas kepercayaan. Tapi si ibu pendonor juga harus dipastikan bebas dari segala macam penyakit menular, tak minum-minuman beralkohol juga tak merokok. Ibu Pendonor mesti mengisi formulir yang menjelaskan riwayat kesehatannya. Formulir juga disertai tanda tangan dan dibubuhkan materai.
Padahal menurut Mia Sutanto dari AIMI, donor ASI adalah solusi jangka pendek bagi ibu menyusui yang produksi ASI-nya sedikit. Ini pun sesuai dengan protokol pemberian ASI eksklusif yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia WHO. WHO sudah menetapkan, ASI harus diberikan secara eksklusif untuk bayi usia 0-6 bulan. Ada tiga cara melakukannya, dengan memberikan cara ASI langsung dan ASI perah dari ibunya, ASI donor dari ibu lain, baru terakhir pilihan jatuh ke susu formula.
Dengan donor ASI, sang ibu bisa terus melatih kemampuan menyusui anaknya, sehingga tak perlu bergantung kepada susu formula.
Soal donor ASI juga mulai masuk radar perhatian pemerintah. Kementerian Kesehatan tahun ini akan menggolkan aturan soal pemberian ASI eksklusif, termasuk di dalamnya soal donor ASI. Direktur Bina Gizi, Minarto menyarankan, donor dan penerima ASI sebaiknya dipertemukan di petugas kesehatan. “Jadi petugas kesehatan harus bisa memberikan pemeriksaan kesehatan, cek bahwa dia layak. Karena yang bisa memberikan jaminan bahwa ibu ini bisa secara medis khan petugas kesehatan.”
Kembali ke Gina, yang sedang sibuk memompa ASI.
Gina dan Irma dipertemukan lewat donor ASI. Berbekal keinginan yang sama untuk memberikan ASI eksklusif untuk buah hati mereka. “Logikanya kalau pakai donor ASI, ibu-ibu yang donor awalnya merah untuk memberi makan anaknya, gak mungkin asal-asalan, ketimbang yang buatnya di pabrik,” kata Gina.
Irma, yang menerima donor ASI dari Gina mencoba meyakinkan para ibu menyusui yang belum sreg mengambil pilihan donor ASI.” Buat ibu-ibu yang punya masalah seperti saya, mungkin egonya dikesampingkan dulu lah. Jangan sampai lama, sampai empat bulan. Mendingan kalau ada masalah segera ke dokter laktasi, kenapa terus cepat dicarikan solusinya. Kalau belum bisa, yaa ke donor ASI aja dulu.”