Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 20 of 39

Thread: Mengenal “Latte Factor”, Bahaya Baru yang Menggerogoti Orang Indonesia

  1. #1
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,926

    Mengenal “Latte Factor”, Bahaya Baru yang Menggerogoti Orang Indonesia

    Hanna (25), adalah seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta yang gemar minum kopi. Ia selalu minum kopi di kedai yang harga satu cangkir kopinya bisa mencapai Rp 50.000. Lama – lama, perilaku konsumsi ini menjadi kebiasaan sehari – hari Hanna, tanpa Ia sadari.

    Setiap bulan, perempuan lajang ini bisa menghabiskan Rp 700.000 sampai Rp 1.000.000 untuk membeli kopi.* Bila diakumulasikan, kata Hanna, rasanya memang berat. Namun, gaya hidup seperti itu cukup memberi kesenangan tersendiri bagi Hanna. Oleh karena itu, kebiasaan tersebut sulit ditinggalkan.

    Istilah latte factor ditemukan oleh David Bach, penulis buku finansial ternama. Latte factor adalah pengeluaran untuk hal yang sebenarnya tidak perlu, yang terlihat kecil dan tanpa sadar dilakukan terus menerus, hingga akhirnya membuat pengeluaran membengkak.

    Selain kopi, pengeluaran untuk baju, kosmetik, transportasi online, biaya transaksi perbankan juga merupakan latte factor.

    Gaya hidup seperti itu bisa jadi berbahaya. Bahkan, bisa-bisa pengeluaran lebih besar daripada penghasilan yang diperoleh setiap bulannya. *Sebuah riset dari Kadence International Indonesia pada tahun 2013 menemukan fakta bahwa 28 persen masyarakat Indonesia memiliki pengeluaran yang lebih besar daripada pendapatan.

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2015 juga menyatakan masyarakat Indonesia semakin konsumtif dan mulai meninggalkan kebiasaan menabung. Hal itu tergambar dari menurunnya Marginal Propensity to Save (MPS) dan naiknya Marginal Prosperity to Consume (MPC) selama tahun 3 tahun terakhir sebelum 2015.

    Mulai sekarang coba pikirkan, apa latte factor Anda? Jangan – jangan faktor tersebut yang menjadi alasan dompet selalu tipis. (Adv)

    ==========
    Apa latte factormu guys?

    Kalo ke starbuck saya sukanya green tea latte hehehe
    Tapi emang mahal bok.
    Last edited by tuscany; 27-01-2017 at 11:38 AM.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  2. #2
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Gaji si Hanna sebulan berapa? Kalau 40-50 juta sebulan ya ndak masalah.

    Kalau 10 juta ke bawah ya bagusnya kopi tubruk atau bikin kopi sendiri, kopi Indonesia, tapi bukan yang instan gula doang lho.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  3. #3
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    kalo dulu mungkin sering ngafe, tapi sekarang udah ga lagi kecuali sesekali aja
    mungkin nonton+snack kalo sama suami

    shopping baju jarang banget kalo lagi ga butuh
    kosmetik...bukan tipe yg doyan belanja itu juga

    tapi latte factor ini emang bahaya sih....apalagi kalo sering ngumpul sama temen2...ngafe ke sana sini, nobar, dll, dll
    ga kerasa dikit2 kekuras duitnya trus ga nabung lagi...
    makanya nabungnya di awal2 pas gajian, jadi duitnya ga kemana2
    Popo Nest

  4. #4
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,093
    Lah bener yang dibilang popo, kalau sering ngumpul ga berasa akan keluar dana untuk halhal yang remeh.
    Tapi kalau dikalkulasi lamalama gede juga.

    Latte Factor saya, keknya buat transportasi online.
    Soalnya kalau pake jalur konvensional transportasi umum dan harus sampai di tujuan pada waktu tertentu, muacetnya ngadubilah

    Pernah nyoba dari Cakung - Setiabudi jam pulang kerja via Kereta Api, murmer sih 3.000 doang,
    Namun lebih berasa capeknya, mungkin karena jam 18.45 baru otw dari kantor udah capek kerja seharian.
    Meski di dalam kereta nyaman karena sepi tapi lama bokk, hampir 1,5 jam.
    Besoknya naik gocar karena berangkat sebelum jam pulang kerja dari Kelapa Gading pukul 15.45 waktu tempuhnya sejam sampai Setia Budi.
    Hari ketiga milih naik motor yang jam 17.20 teng pergi dari Cakung. eh sejam-an lebih.
    Hari keempat batal ke Setia Budi karena harus kerja di Kelapa Gading sd jam 21.30, overtime.

  5. #5
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    ya ngudut lah..................

  6. #6
    pelanggan sejati surjadi05's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    9,355
    Latte factor gw buku/novel/komik/majalah

    Sebenarnya ada "latte factor" yg lebih "menghabiskan" biaya, kenapa pake tanda kutip karna secara riil tidak menghabiskan biaya tapi kalo waktu,energi n emosi yg gw habiskan untuk memikirkan hal itu bisa gw pakai untuk cari duit, well hasilnya mungkin udah dapat rumah dua

  7. #7
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    Kopi, biasa seduh sendiri, ikutan saran si mbok biar hemat, agak boros kalau coba-coba jenis baru.

    Transportasi online mengubah kebiasaan commuting, untung ga perlu pergi ke Jakarta tiap hari

  8. #8
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,673
    iya loh, kadang saya liat orang yang tiap hari beli kopi di cafe, kalo ditotalin kan mahal juga ya. begitu juga dengan rokok. mana dua2nya bahan adiktif lagi. untung saya ga ngerokok ga minum kopi dan juga ga suka belanja

    latte faktor maksudnya gimana ya? beli produk ato servis 'luxury' sehari2 yang tidak begitu diperlukan karena sebenarnya masi ada alternatif lain yang lebih murah?

    latte faktor saya adalah jasa pembantu mingguan soalnya saya ada cleaner yang dateng ke apt bantu saya bersih2 apt seminggu sekali, dan skali dateng 3 jam aja sih. jadi ini termasuk latte faktor ngga?

  9. #9
    beli pulsa kuota kali ya. sebulan bisa 3kali kuota @4gb. haha borosnya kebangetan. kalo ngupi2.. cukupla kopi saset itupun jarang. paling enak nongkrong di warteq.. murmer ples wareq.
    Good friends, good books, and a sleepy
    conscience: this is the ideal life.
    Mark Twain

  10. #10
    pelanggan setia Yuki's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Buitenzorg
    Posts
    6,366
    bukan pengeluaran sekali beli habis lebih dari sejuta kan?

    mungkin makan diluar, sehabis kerja godaan untuk makan di KFC/A&W/Hokben/Burger King/Baso Tahu Saboga dll begitu besar......
    CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.

  11. #11
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    ^ itu ditambah beli2 buat perangkat main pokemon Go mungkin...
    ah jadi inget jaman2 hura2 beli sesuatu buat game....duit semua itu....
    Popo Nest

  12. #12
    pelanggan setia Yuki's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Buitenzorg
    Posts
    6,366
    Iya, tapi sekarang sudah tidak masif lagi

    Ada keperluan lain, pengen beli harddisk eksternal
    CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.

  13. #13
    pelanggan setia mobyokuzan's Avatar
    Join Date
    Jul 2012
    Posts
    2,020
    hal hal seperti ini seharusnya bukan bahaya baru lagi, penyakit ini sudah ada sejak lama, gaya hidup boros terhadap hal hal yg seharusnya bisa untuk tidak dilakukan. dikatakan baru hanya krn ada istilah "latte factor" aja.

    "telling lies is sometimes acceptable,
    when the truth is too difficult to believe"

  14. #14
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Murah - mahal itu subyektif. Untuk yang gajinya 40-50jt sebulan, 1jt sebulan buat kopi ya ndak mahal. Mahal buat yang penghasilannya 10jt ke bawah. Kalau memang orang itu mampu beli kopi nikmat 50rb/cup, kenapa harus mencari alternatif minum kopi instan gula hungkul?

    Untuk mbok, sarapan dan kopi nikmat setiap pagi itu penting banget, that's my fuel. Kalau ada yang bilang kopi itu hanya latte factor, mungkin karena dia ndak tahu kenikmatan kopi. Kalau ada yang bilang kopi 50rb/cup itu pemborosan, ah itu mah karena pelit saja atau karena memang ndak mampu beli kopi harga sekian.

    Life is too short, harus dinikmati, lewat secangkir kopi sekalipun. Thus you drink the real coffee, bukan ecek-ecek bukan instan. It's not just latte factor coz for hundreds of years people have been drinking coffee. Orang Jepang sampai punya upacara membuat teh, apakah itu upacara itu ndak perlu, latte factor dan hanya membuang-buang waktu? I don't think so.

    In fact mbok kasihan pada orang yang melihat "kenikmatan" orang lain sebagai pemborosan. Artinya orang itu ndak punya kenikmatan sendiri, ndak punya passion pada apapun, even a little thing like coffee dia lihat sebagai pemborosan. Kasihan, kasihan sekali. Hidupnya pasti amat berat dan boring sekali.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  15. #15
    pelanggan sejati surjadi05's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    9,355
    Err bagi mereka menghemat itu kenikmatan tersendiri bagi mereka, sama seperti uncle scrooge bagi dia menghitung duitnya sendiri, kenikmatan tiada taranya,

  16. #16
    pelanggan setia mobyokuzan's Avatar
    Join Date
    Jul 2012
    Posts
    2,020
    masalahnya selera dan interest seseorang kpd sesuatu itu beda beda, ga bisa disamain.

    untuk seorang otaku, beli manga dan anime setiap minggu itu merupakan hal yg lumrah, tapi bagi yg bukan mrk menyebut itu latte factor, masa download gratis aja bisa dpt gratis ngapain juga kudu beli.

    untuk seorang adv-gamers, beli console terbaru itu merupakan hal yg wajib hukumnya, tapi bagi yg bukan mrk menyebut itu sbg latte factor, mrk berpikir halah buat apa dibelain beli console, game diandroid aja masih banyak yg belum ditamatin, mending maen pokemon go lah drpd resident evil 7, boros banget.

    untuk seorang gadgeter, update smartphone itu suatu hal yg kudu dilakukan tapi bagi yg bukan, mrk menyebutnya latte factor, halah buat apa beli hape bagus bagus kalo cuma utk telpon dan sms doang, pake nokia jadul aja juga bisa survive kok.

    untuk seorang maniak seks, "jajan" tiap minggu di alexis lantai atas itu sdh biasa, tapi bagi yg bukan, itu adalah latte factor/disgusting, tabu dan tercela.

    so kesimpulannya, beda org beda pula kebutuhan, otomatis latte factornya juga pasti beda...dan menurut gw malah terlihat konyol kalo ada seseorang yg bilang hidupnya berat - boring ke orang lain hanya karena tidak memiliki interest dan latte factor yg sama dengan dirinya

    "telling lies is sometimes acceptable,
    when the truth is too difficult to believe"

  17. #17
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,673
    eh tapi kopi2 / teh2 di cafe dan starbucks gitu emang mahal loh mbok. saya aja ngerasa mahal biarpun saya termasuk kategori yang bisa afford it memang sih saya ga doyan kopi maupun teh, jadi ngga ngerasa worth it buat ngelakukan pengeluaran buat ini. dan buat yang beli kopi di starbucks tiap hari, it adds up loh. sedangkan orang bisa hemat banyak kalo brew kopi sendiri, walo memang repot dikit.

  18. #18
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,926
    Kayanya orang di sini ke Starbucks itu sesuatu gitu...Buat gaya bukan mau nyicip kopi yg enak. Gak semua tentu, ada yg emang standar idupnya segiatau mau praktis aja.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  19. #19
    pelanggan setia Yuki's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Buitenzorg
    Posts
    6,366
    Saya tidak maniak kopi, bisa minum kopi namun bukan prioritas utama

    Andaikata seumur hidup pun saya dilarang minum kopi, saya gak masalah
    CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.

  20. #20
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,093
    Teman ada yang hobbynya kongkow di BenSol alias kopi Bengawan Solo,
    Sampai belabelain beli voucher demi dapat harga lebih miring, seminggu 3x.
    Kalau ditilik gaji dia sih yah itu uang kecil lah yaw...


    "Latte Factor" di sini saya rasa kebiasaan gaya hidup yang "wah" dalam artian dirasa pemborosan.
    Sengaja dikutip, karena masing-masing orang kondisinya berbeda.
    Dan saya rasa "latte factor" beda dengan hobby yah.
    Kalau hobby mah ... kadang emang ga rasionalis

Page 1 of 2 12 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •