Results 1 to 19 of 19

Thread: Penutupan Penerbitan

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Harian Kompas masih profitable gak ya?
    Menurut "terawangan" (intuitif tanpa dukungan data valid) saya, sampai saat ini koran Kompas cetak masih untung.

    BTW, berubah itu sudah keharusan, baik dari sisi perwajahan maupun konten. Dan menurutku Kompas adalah koran yg paling berhasil dlm melakukan perubahan, landingnya sangat mulus. Beda dgn misalnya perubahan koran Tempo yg "ujug2 dan drastis" atau misalnya The Jakarta Post yg "lelet dan gamang", perubahan Kompas terlihat sangat terencana, pelan tapi terukur,...dan berani "royal" dlm melakukan hal tsb. Survey pembaca dan pemasang iklan, bahkan sampai FGD yg melibatkan seluruh stakeholders,...itu semua sudah dilakukan rutin oleh Kompas sejak lama bahkan sebelum Internet marak masuk Indonesia (era 90an).

    pas dulu kerja di KCM di 2010-2011, profit kompas.com selama setahun itu bisa diraih sama Harian Kompas selama seminggu. (sedih amat kompas.com. ahahaha)
    IMHO, itu "kesalahan" strategi mereka sejak awal. Gaya konservatif (khas gaya pak YO) yg berhasil mereka lakukan dlm mengubah koran Kompas dlm menghadapi/mengantisipasi serbuan informasi online ternyata itu ndak bunyi ketika mereka terapkan saat mulai terjun ke media online itu sendiri.

    Kompas.com lahir sebelum Detik.com, bahkan dibangun oleh tim yg sama (Agrakom). Tim tsb terkesan "sangat ndak puas" karena "ide2 gila (terobosan)" mereka ndak terakomodir saat mereka membangun Kompas.com Ide2 itulah yg akhirnya mereka tuangkan dalam Detik.com setelah mereka selesaikan Kompas.com Tim Agrakom bahkan sempat mendekati Jakarta Post untuk berkolaborasi membangun portal berita in English mengingat saat itu pengguna Internet mayoritas masih orang/berbahasa asing. Karena JP terus "ragu2 maju mundur" (tipikal gaya koran konservatif) akhirnya mereka jalan sendiri membangun Detik dlm bahasa Indonesia.

    BTW jangan2 mereka membangun Detik pun cuma "modal dengkul" karena modal awal mereka adalah honor hasil membangun Kompas.com haha...

    Anyway, lagi2 ini hanya hasil "terawangan", media online KG/Kompas udah jauh lebih baik. Dari sisi profit mungkin udah ndak jauh2 dari media cetaknya. Atau jangan2 malah udah menyalib? Kalo ini saya ndak berani menerawang.

    Intisari baru jelas lebih tipis
    Ada dua sebab kenapa lebih tipis. Pertama karena sengaja mengurangi halaman untuk menghemat biaya produksi/cetak, kedua karena memang halaman iklannya jauh berkurang dus mengurangi jumlah halaman scr keseluruhan.

    intisari jadi susah dibaca sejak dicetak dikertas tipis..
    ?
    Kalo ini alasannya sangat jelas: menghemat biaya kertas dus menekan biaya produksi.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  2. #2
    Barista kupo's Avatar
    Join Date
    Dec 2012
    Location
    Jog Ja karta
    Posts
    3,850
    Quote Originally Posted by 234 View Post

    Ada dua sebab kenapa lebih tipis. Pertama karena sengaja mengurangi halaman untuk menghemat biaya produksi/cetak, kedua karena memang halaman iklannya jauh berkurang dus mengurangi jumlah halaman scr keseluruhan.

    ?
    Kalo ini alasannya sangat jelas: menghemat biaya kertas dus menekan biaya produksi.

    Betul, tapi karena kertas yg tipis itu hasil jilid an jadi bergelombang.. membuat sangat tidak nyaman untuk dibaca. Faktor ini adalah sebab utama mengapa saya berhenti membaca intisari..

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •