Kesaksian seseorang di forum sebelah:
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6109896
Quote Originally Posted by 4ntara
Saya bukan praktisi Cikalong, namun mendapat kesempatan untuk merasakan sendiri ilmu ini dari tangan pertama, yaitu kedua orang guru yang ditampilkan di acara tersebut.

Saya menulis pengalaman saya dikerjai oleh para guru Cikalong di sahabatsilat pada Bulan Oktober 2008,

Hari Sabtu kemarin seusai latihan Cingkrik saya ngintip demo kecil-kecilan yang diadakan Pak Haji Azis dan Uda Parewa buat teman-teman dari TVone (kalo gak salah??)

Penasaran, saya minta ijin pingin ngerasain dan alhamdulillah diterima dengan baik oleh Pak Haji Azis sendiri.

To my surprise, saya ditekuk oleh Pak Haji Azis tanpa bisa melawan. Kadang saya merasa seperti tenaga saya tersedot dan hilang keseimbangan, kadang badan saya terasa kaku, dan ada pula kejadian saya jatuh oleh sentuhan ujung telunjuk Pak Haji. Tidak beda seperti menghadapi seorang Sensei Aikido yang mumpuni (hehehe, soalnya pengalaman serupa hanya pernah saya rasakan waktu berhadapan dengan Sensei Shigekoshi Satoru bertahun-tahun lalu).

Pak Haji sama sekali tidak pernah melakukan grabbing, beliau hanya menyambut tangan saya dengan sentuhan halus telapak atau punggung tangan beliau, sesudah itu saya tinggal pasrah saja rubuh ke tanah sambil clingukan tanpa tahu sebabnya.

Saya bolak-balik jadi tertawaan hadirin (yang tertawa paling keras adalah sejenis kampret yang lupa kalo dia mustinya keluar malem, bukan siang-siang kayak waktu itu >)

Usai buka jurus, kami melakukan dialog dan Pak Haji Azis dengan murah hati memaparkan rahasia dibalik 'ilmu sihir' yang beliau gunakan. Setelah beberapa saat, saya tertawa terbahak-bahak. Ternyata sama sekali tidak ada sihir, tenaga dalam, Ki atau sejenisnya. Yang ada murni merupakan pengetahuan yang amat dalam tentang anatomi dan kejiwaan (psikologi) manusia. Saya dipermainkan oleh tubuh dan persepsi saya sendiri, bukan oleh sejenis Ki atau tenaga misterius lainnya.

Saya tidak habis-habisnya kagum dengan pengetahuan ilmiah yang dimiliki oleh para leluhur kita sehingga bisa menciptakan silat semacam Cikalong. Tidak kalah mengagumkan saya adalah kerendahan hati Pak Haji Azis dalam menerangkan kepada saya prinsip-prinsip ilmunya. Beliau tidak menjadikan saya bahan tertawaan dan sesudah itu menutup diri dibalik tenaga dalam atau misteri-misteri sejenisnya, tapi justru memberikan saya bahan berharga untuk direnungkan dan dimanfaatkan dalam latihan saya sendiri.

Kami berpisah sesudah sholat Dzuhur berjamaah. Saya berharap dalam hati agar beladiri tradisional seperti Cikalong ini akan terus lestari dan berkembang. Sungguh negeri kita sendiri banyak menyimpan kebijaksanaan lokal yang mengagumkan.
Sedangkan di bawah ini komentar saya tentang tayangan di atas, yang juga saya tulis di sahabatsilat.

Mengamati lagi usikan di menit-menit terakhir video, kalau bukan saya sendiri pernah mengalami dibegitukan pastilah saya akan berkomentar seperti komentar saya waktu nonton latihan aikido bertahun-tahun lalu "ah, itu 'mah sudah diatur, keduanya kerjasama tuh."

Hihihihi... mencoba mengamati sambil merujuk pada keterangan Aki Sija beberapa waktu lalu, dan penjabaran dari Kang One di atas, sekarang saya sadar bahwa harus see beyond the obvious.

Dari beberapa gerakan yang ditunjukkan, tampak bahwa sebenarnya kuncinya terletak pada membuat satu sisi lawan menjadi tegang (isi?) dan sisi lain menjadi lunglai (kosong?), yang dicapai dengan menggunakan gerakan nyaris tidak terlihat di tangan (atau bagian badan lain) yang perannya terlihat minor. Misalnya kalau tangan kanan kita menyerang kening lawan, sesungguhnya tangan kiri kita sedang mengerjai keseimbangan lawan dengan cara tertentu. Akibatnya sekilas terlihat seperti lawan terpelanting oleh belaian ringan tangan kanan, padahal lontaran yang paling besar datang dari tangan kiri.
Adapun soal serangan yang lembut... ya, serangan saya waktu itu juga menjadi lembut... seperti kehabisan momentum, dan saya samasekali tidak mampu membalikkan atau mengarahkan tenaga saya ke tempat lain... kalau Pak Haji Azis tidak melanjutkan gerakannya, saya cuma berdiri terbengong-bengong sambil berpegangan tangan dengan beliau

Tentunya penjelasan ini tidak bisa memuaskan... selain karena saya bukan anak murid Cikalong, pemahaman yang paling yahud tentu kalau mencoba dan mengalami sendiri.