mudah2an berjalan sesuai dengan rencana .....
mudah2an berjalan sesuai dengan rencana .....
GARUDA DI DADAKU
Mengenal Lebih Jauh Adikadik Pinggiran
Kemarin saya berada di sana, lingkungan tampak sepi. Adikadik yang cowok berada di dalam kamar, sementara yang perempuan sedang menginap di Duren Sawit. Sebuah rumah sanggar juga, sehubungan mereka masih libur sampai dengan hari Senin, jadi mereka masih bebas mempergunakan waktunya.
Tahun 2011 ini adalah di saat perjalanan yang telah ditempuh Sanggar itu selama 16 tahun.
16 tahun bukanlah waktu yang singkat, dengan dibarengi oleh totalitas dari rekanrekan relawan yang peka dan peduli pada adikadik yang terpinggirkan.
Apalagi karakter dari adikadik yang sekolah di sana, tentunya sangat jauh berbeda dengan karakter adikadik yang tinggal di panti asuhan.
Adikadik itu terbiasa dengan hidup 'semau' gue. Dan sejak usia dini dipaksa entah mampu atau tidak mampu harus bisa tetap hidup di alam yang keras ini.
Mereka masih ingin hidup di jalanan tanpa ada yang melarang ini itu. Bisa memiliki uang sendiri dari hasil pengamen.
Atau tampilantampilan yang terkesan urakan namun menjadi kebanggaan mereka.
Ketika berbincang dengan salah satu pengurus itu, saya langsung teringat pengamen yang tadi sore saya lihat. Masih begitu muda barangkali kelas 6 SD dan di bagian depan dagunya sudah ditindik dengan aksen. Atau gaya anak muda dengan ala kaum punk yang ada diperempatan jalan di sekitaran Pangkalan Jati.
Bukanlah hal yang mudah memberikan pendekatan persuasif terhadap adikadik yang terpinggirkan itu, tanpa dogma, tanpa doktrin, tanpa menggurui. Karena jika dogma, doktrin, menggurui dan bentuk kedisplinan diterapkan maka ... plazzzzzz... mereka mungkin tak akan betah untuk nyaman belajar di sana. Metodologi dari mereka yang berbeda dan unik inilah yang membuat daya tarik tersendiri. Salut untuk mereka para pengurus harian dan konseptor Sekolah Otonom ini.
Pola pikir adikadik diubah di sanggar itu. Menanamkan rasa kepercayaan diri, dan dibimbing untuk mampu menemukan bentuk mayor kebisaan mereka agar itu nantinya mampu diasah untuk menjadi bekal di kehidupan mereka ketika dewasa kelak.
Ok contohlah seorang adik penghuni rumah itu, ketika seseorang mengamen di jalanan, maka dia diberitahukan bahwa mungkin keberadaannya tidak diinginkan oleh orangorang yang berada di angkot tersebut. Lalu di sanggar itu dia diperkenalkan dengan berbagai alat musik, salah satunya alat musik biola oleh uwak Karyo (panggilan akrab dari bp Ibe Karyanto, beliau adalah perintis mulamula Sanggar Anak Akar). Dalam langkah pembelajarannya mereka di'sadarkan' bahwa memungkinkan adanya konser musik, di mana dia bisa pentas di sebuah panggung dan permainan musiknya dinanti-nantikan oleh para hadirin. Rasa percaya diri, peka dan menghargai sekeliling, rasa kebersamaan dan masih banyak hal dituangkan dalam pembelajaran di sanggar itu. Berkat keuletan dia dalam belajar, kini adik penghuni sanggar anak akar itu menjadi tutor pengajar di Purw*caraka, sebuah sekolah khusus musik.
Spoiler for copas dari website sanggaranakakar.org:
Mereka yang tinggal di Sanggar Anak Akar, berjumlah 40an anak dengan 11 orang pengurus.
Namun jumlah adikadik yang bersekolah di sana ada sekitar 100an anak.
Belum lagi basis Sanggar Anak Akar yang berada di beberapa daerah di luar kalimalang.
Kepengurusan mereka pun juga hampir sebagian besar dilakukan regenerasi,
Dari adik2 yang pernah tinggal di sana dan memilik keinginan untuk berperan memajukan sanggar.
Ohya asal kalian tahu pengurus yang semalam bercakapcakap dengan saya itu tinggal di sanggar sejak kelas 1 SD.
dan kini usianya baru 20 tahun sedang belajar di semester 3 di bangku kuliah dengan mendapatkan beasiswa prestasi (bukan mahasiswa untuk orang tak mampu),
dari cara berbicaranya menunjukkan kecerdasan dalam berpikir dan juga bersikap.
obrolan selama dua jam bersamanya, membukakan mata saya bahwa kemandirian yang ditanamkan sejak dini,
mampu mengolah adikadik sanggar mampu bersaing di dunia luar.
dalam berkarya dan berekspresi mereka dengan dibarengi jaringan yang dimiliki Sanggar Anak Akar,
mampu membawa mereka bersaing dengan orangorang yang menempuhnya dengan jalur pendidikan resmi.
tentu saja, ini adalah sebuah proses yang panjang dan berpeluh.
menciptakan suasana yang nyaman dan aman bagi adikadik yang terpinggirkan.
dengan berbagai latar belakang yang sangatsangat berbeda namun memiliki satu visi yang pasti.
Sanggar Anak akar sebagai model praksis pendidikan humanistik
untuk menguatkan gerakan budaya yang menghormati hak dan martabat anak sebagai manusia..
Hahahhaha saya rasa, saya harus cukupkan di sini ceritanya.
Nanti akan ada sesi sharing bersama adikadik di sana.
Biarlah kita yang 'manja' ini belajar banyak dari mereka.
Originally Posted by "dikutip dari website : sanggaranakakar.org