@Neo

Wani piro? Soale kalo saya mau buat dalam bentuk investigative report ttg masalah ini saya bisa jual lho ke BBC ato CNN untuk dijadikan artikel berseri. Haha...ndak kok, cuman bcannda. #suwersambergledeksayacumapengamatamatirtanpanama

Sudah banyak kok yang menulis persoalan ini, mulai dari George Aditjondro, Jeffry Winter, aktivis Jatam, pengamat seperti Qurtubi, Marwan Batubara dll sampai pengamat2 amatiran yang banyak bertebaran menulis di blog2. Jadi kalo saya ikut2an nulis nanti malah justru semakin membingungkan krn akan menjadikan semakin banyak opini2 yang berkembang, yang toh semuanya akan sulit sekali diverifikasi kebenarannya. Saya sih yang terpenting kedepannya jgn sampai terulang lagi, toh nasi udah terlanjur jadi lontong, yang lalu biarlah berlalu.

---------- Post Merged at 10:29 PM ----------

@Kong Sur

Ndak lah kong kalo saya sebut nama. Kalo pun di depan saya sempat singgung tiga nama (Ical, Bob Hasan dan Suharto) itu karena menurutku itu memang sudah jadi informasi publik yang bukan rahasia lagi, bahwa Copperindo memang didirikan Ical untuk menampung 9,36% saham PTFI, bahwa Nusamba dikelola oleh Bob Hasan, dan bahwa grup Nusamba ada dibawah yayasan Nusamba milik Suharto (Cendana). Nusamba sendiri akhirnya memang "bubar" pasca runtuhnya Orba, inilah kenapa Freeport dengan mudahnya langsung mengambil sisa saham 51% di Copperindo dari tangan Nusamba.

---------- Post Merged at 10:39 PM ----------

@Mbak Mbok

Iya juga sih, tapi bagaimanapun saya melihatnya dari kacamata saat ini bahwa Papua adalah (masih) bagian dari NKRI.

Dan saya juga paham kok, setidaknya ini menurut opini saya pribadi, bahwa masuknya Papua (saat itu Irian Barat) ke NKRI sarat dengan bau2 persoalan Freeport juga.

Memang Irian Barat direbut oleh Bung Karno tahun 1963, dus sebelum kontrak Freeport pertama kali ditandatangani (1967) meskipun sebenarnya Freeport sudah mengincar tambang tsb sejak 1960. Bahkan menurut sebuah "teori konspirasi" kejatuhan Soekarno pun juga ada "bau2 Freeport" yang memang rasa2nya ndak bakalan bisa masuk Papua selama Bung Karno berkuasa dengan kebijakan2 nasionalisnya. Bahkan penembakan JFK yang terjadi pada tahun yang sama dengan kejatuhan Bung Karno, dan naiknya Suharto, pun menurut teori tsb udah menjadi "satu paket" karena JFK memang dikenal dekat dengan Bung Karno. Dan saya pun tidak menampik teori2 tsb meskipun saya bukan penggemar "teori konspirasi".

Bahkan saya pribadi juga yakin, ini ndak pake teori konspirasi2an, bahwa referendum Irian Barat pada 1969 pun ndak luput dari bau2 Freeport. Secara common sense aja, apa iya sedemikian mudahnya referendum itu kita menangkan dengan cukup telak (rakyat Irian Barat memilih untuk tetap bergabung dengan NKRI) kalo ndak ada "settingan"? Dan siapa lagi yang berkepentingan untuk membuat settingan seperti itu kalo bukan pihak yang (saat itu sedang) berkepentingan dengan wilayah tsb?

Tapi bagi saya itu semua adalah masa lalu, tinggal bagaimana kedepannya agar menjadi lebih baik. Apa iya perlu diulangi sekali lagi referendum seperti 1969 dimana rakyat Papua disuruh memilih lagi antara tetap bergabung dengan NKRI atau mau melepaskan diri? Tidak perlu sama sekali kalo menurutku.

Nasi sudah menjadi bubur, sekarang tinggal bagaimana membuat bubur tsb menjadi makanan yang lezat, entah itu bubur sumsum, bubur Bandung, bubur Manado, atau bubur2 lezat yang lain. (Tapi kalo kong Sur sih pasti pilihnya bibir Bandung ato bibir Manado).