Results 1 to 20 of 20

Thread: JIN - Jaringan Islam Nusantara

  1. #1
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910

    JIN - Jaringan Islam Nusantara

    Sempet rame nih? Ada sebutan JIN. Gimana Islam Nusantara menurut kalian? Ini paham atau gerakan?
    Agama vs Nasionalis atau Asing vs Nasionalis?
    http://www.voa-islam.com/read/indone...lam-nusantara/
    Last edited by ndableg; 20-06-2015 at 03:25 AM.

  2. #2
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Wa 'alakumus salaam,

    Tadi sempet denger sekilas di MetroTv soal Islam Nusantara, Katanya, Islam Nusantara itu ajaran agama Islam yang membumi dgn adat/tradisi Nusantara.

    Contohnya, saya belum sempat menyimaknya, atau memang belum ada contoh konkretnya dari pembicara (dari pak Agil Siraij atau Mu'ti), baru sekedar tataran konsep global saja.
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  3. #3
    pelanggan setia hajime_saitoh's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Mataram Lombok NTB
    Posts
    2,004
    jin Ifrit????

  4. #4
    pelanggan setia Yuki's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Buitenzorg
    Posts
    6,366
    ^
    menyindir ya?
    CURE SUNSHINE WA KAKKOSUGIRU.

  5. #5
    pelanggan setia hajime_saitoh's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Mataram Lombok NTB
    Posts
    2,004
    ada tanda tanya nya tu Yuki..... kok dibilang nyindir.....

  6. #6
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    voa-islam kok jadi rujukan..

    istilah "Islam Nusantara" itu sebenarnya sudah ada dari beberapa masa lalu. Kebanyakan orang-orang NU.
    Jadi bukan jaringan seperti yang dituduhkan musuh-musuhnya.

    Saya kutip dari tulisan Saiful Islam di koran Tempo pagi ini yang kemudian disalin rekat ama UIN:
    http://uinjkt.ac.id/?p=7412

    Bagi yang masih menolak atau ragu akan keberadaan Islam Nusantara, ada baiknya membaca kitab-kitab Jawi dan Pegon. Oleh para ilmuwan, kedua istilah tersebut dibedakan. Sementara Jawi adalah bahasa melayu dalam aksara Arab, Pegon adalah Jawa (dan juga Sunda). Dengan demikian, kitab Jawi adalah kitab berbahasa Melayu dan ditulis dengan aksara Arab, sementara yang berbahasa Jawa disebut kitab Pegon. Orang yang hanya paham bahasa Arab tapi tidak tahu bahasa Melayu atau Jawa, dijamin tidak bisa membaca kitab-kitab Jawi atau Pegon. Karya-karya ulama Nusantara yang terekam dalam kitab-kitab Jawi atau Pegon sangat banyak jumlahnya dan itu merupakan bagian dari kekayaan khas Islam Nusantara.

    Kitab Jawi sudah ada paling tidak sejak abad ke-17. Nuruddin al-Raniri (w.1658) dan Abdurrauf Singkel (w.1693) adalah dua dari banyak nama yang telah menghasilkan naskah-naskah Islam dalam tulisan Jawi. Keduanya tokoh penting dalam Kesultanan Aceh yang menduduki jabatan tertinggi dalam urusan agama, Syakh al-Islam. Jika Nuruddin menduduki jabatan tersebut pada masa Sultan Iskandar Tsani, Abdurrauf menempatinya pada masa empat Sultanah (Safiyat al-Din, Naqiyat al-Din, Zakiyat al-Din, dan Kamalat al-Din) yang memerintah 1641-1699 M. Kedua ulama tersebut menghasilkan sejumlah kitab yang membahas berbagai aspek ilmu agama yang ditulis dengan Jawi. Salah satu hal menarik dari keduanya dan dapat dikategorikan sebagai bagian dari Islam Nusantara adalah dukungannya terhadap perempuan sebagai pemimpin kerajaan.

    Meski Nuruddin terusir dari Aceh akibat perseteruannya dengan para pengikut Syamsudin al-Sumatrani, tidak diragukan bahwa dia adalah salah satu pendukung naiknya Safiyat al-Din menjadi Sultanah pertama di Aceh. Hal ini terekam dalam karyanya, Bus-tan al-Salatin. Bahkan perkembangan para Sultanah selanjutnya terus dicatat dengan baik dari kejauhan setelah dia tidak lagi tinggal di Aceh.

    Sementara itu, Abdurrauf merupakan sosok penting di balik bertahannya empat Sultanah berturut-turut memimpin Kesultanan Aceh. Berbagai upaya untuk mendeligitimasi dan menurunkan Sultanah dari singasana dilakukan para elite politik saat itu. Namun upaya mereka tidak berhasil. Dalih agama yang mereka gunakan, bahwa perempuan tidak selayaknya menjadi pemimpin, ditolak Abdurrauf dalam berbagai karyanya, seperti Mir’at al-Tullab. Sekitar enam tahun setelah Nuruddin wafat, Sultanah Kamalat al-Din baru berhasil diturunkan di tengah jalan, pada 1699.

    Berbagai pemikiran keagamaan kedua tokoh ulama tersebut di atas yang terekam dalam kitab-kitab Jawi yang ditulisnya adalah contoh konkret Islam Nusantara. Selain kedua ulama tadi, tentu saja masih banyak tokoh Islam Nusantara yang menulis kitab-kitab Jawi. Contohnya, Abd al-Samad al-Falimbani (w. 1789) dengan karya, antara lain, Sayr al-Salikin dan Arsyad al-Banjari (w. 1812) dengan salah satu kitabnya yang terkenal, Sabil al-Muhtadin.

    Sementara itu, di Jawa, Pegon sebagai media untuk menulis juga sudah digunakan paling tidak pada abad ke-17. Hal ini dibuktikan dengan adanya manuskrip Mukhtashar Bafadhal yang diyakini ditulis pada abad tersebut dan sekarang tersimpan di The British Library. Dalam manuskrip tersebut, terdapat terjemahan antarbaris dan beberapa catatan di bagian tepi yang ditulis dalam Pegon. Memang dalam bentuk kitab utuh karya lokal sebagaimana contoh kitab Jawi di atas, kitab Pegon baru dijumpai pada abad ke-19, di mana Kiyai Ahmad Rifai Kalisalak (w. 1870) adalah orang yang sampai saat ini diketahui sebagai penulis pertama kitab Pegon.

    Kemudian muncul Kiyai Salih ibn Umar al-Samarani, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kiyai Soleh Darat (w. 1903), ulama yang diyakini sebagai tokoh penting di balik perubahan sikap keagamaan RA Kartini. Dia juga diyakini sebagai guru dari dua tokoh pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia, Kiyai Hasyim Asy’ari dan Kiyai Ahmad Dahlan.

    Ahmad Rifai menulis berbagai bidang keagamaan (fiqh, tauhid, dan tasawuf) dan hampir semuanya dalam bentuk syair. Dijiwai semangat perlawanan terhadap kolonialisme, karya-karya Rifai sangat tegas menentang pemerintah Belanda dan mereka yang bekerja sama dengan penjajah. Sementara itu, Soleh Darat lebih menekankan pada pengajaran hal-hal yang bersifat praktis dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjalankan ibadah-ibadah wajib, dan perbaikan akhlak di kalangan masyarakat Jawa.

    Dalam karya yang seluruhnya berbentuk prosa, Soleh mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat yang membutuhkan. Mengingat sebagian besar masyarakat Jawa hanya paham bahasa Jawa, maka dia menulis kitab berbahasa Jawa. Tidak aneh jika ekspresi dalam kitab-kitabnya adalah ekspresi Jawa dari konsep-konsep Islam yang semula dalam bahasa Arab. Ngalap berkah, selametan, ngirim donga adalah beberapa istilah Jawa yang dapat dijumpai dalam kitab-kitab karangan Soleh, seperti Majmu’at al-Syari’ah al-Kafiyah li al-‘Awam, dan dapat dibenarkan menurut ajaran Islam.

    Dengan melihat kembali kitab-kitab Jawi dan Pegon, kita akan banyak menemukan banyak konsep, ekspresi, adat, atau kebiasaan yang khas Nusantara, tapi kemudian menjadi bagian dari khazanah peradaban Islam. Adopsi tersebut dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ortodoksi Islam. Karena para penulisnya adalah ulama yang mendalam ilmunya setelah belajar dengan sejumlah tokoh, baik di Nusantara maupun di jazirah Arab, mereka paham betul nama yang dapat diadopsi dan mana yang yang tidak.

    Dalam proses tersebut, tentu saja tidak ada semangat anti-Arab, sebagaimana dituduhkan oleh mereka yang tidak setuju terhadap konsep Islam Nusantara saat ini. Bahkan huruf yang dipakai untuk menulis kitab saja adalah huruf Arab.

    Penulis adalah Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta. Artikel dimuat dalam kolom opini Koran TEMPO, Selasa 28 Juli 2015.
    ---------- Post Merged at 06:44 PM ----------

    Sebenarnya,
    dalam kajian Fiqih pun, yang namanya adat istiadat pun juga dipertimbangkan. Istilahnya "urf".

    Berikut salah satu artikel Pak Ahmad Sarwat yang membahas tentang Urf (ada artikel2 beliau lain yang sejenis ini)

    http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1141336138&title=cium-tangan-orang-tua-dan-ustadz-adakah-dianjurkan
    TANYA:
    Assalamu'alaykum Wr. Wb.

    Bismillah. Saya terbiasa dari kecil selalu mencium tangan kedua orang tua saat berjumpa, baik ketika keluar rumah maupun kembali ke rumah. Nah, yang ingin saya tanyakan adalah: Bagaimana Islam menyikapi cium tangan tersebut? Jika saya lakukan kepada guru saya atau ustadz saya, dan tentunya guru atau ustadz saya itu adalah laki-laki. Apakah ada hadist yang menganjurkan atau melarang? Demikian pertanyaan saya ustadz. Sebelumnnya jazakumullah khair.

    Wassalamu'alaykum Wr. Wb.

    JAWAB:
    Assalamu `alaikum Warahmatullahi wabarakatuh,

    Cium tangan kepada orang tua atau orang yang kita hormati tidak kami dapatkan perintahnya secara khusus dalam bab-bab fiqih maupun akhlaq yang bersifat tasyri`. Sehingga bila dilihat sharih perintahnya, bukanlah sesuatu yang bersifat wajib, sunnah atau hukum yang lainnya.

    Bentuk mencium tangan atau memeluk/berangkulan adalah merupakan `urf/ kebiasaan yang berlaku di dalam suatu budaya atau tata nilai masyarakat tertentu.

    Hukumnya berbeda dengan mushafahah (berjabat tangan) yang memang mengandung unsur tasyri` (pensyariatan). Namun meski tidak terkandung hukum tasyri` secara langsung, bukan berarti harus ditinggalkan atau dilarang. Karena Islam sendiri mengakui dan bahkan sering mengaitkan antara `urf dengan syariat. Tentu saja selama `urf itu tidak bertentangan dengan asas syariat itu sendiri. Sebagai contoh, bila seorang suami berkata kepada istrinya, ”Kembalilah ke rumah orang tuamu”.

    Secara syariat, konsekuensinya masih menggantung pada `urf atau kebiasaan yang berlaku di negeri itu. Apakah ucapan itu secara `urf diartikan sebagai talaq atau tidak? Bila `urf mengakui itu adalah talaq, maka jatuhlah talaq. Sebaliknya bila `urf tidak mengakui sebagai talaq, maka tidak jatuh talaqnya.

    Sehingga kita mengenal sebuah kaidah yang berbunyi:"Al-`Aadatu Muhakkamah”. Sebuah adat atau tradisi itu bisa dijadikan dasar hukum. Tentu saja adat yang tidak bertentangan dengan hukum Islam itu sendiri.

    Kaidah ini tidak bisa diterapkan pada masalah memberi sesajen kepada penghuni makam keramat pada malam jumat kliwon, dengan alasan bahwa itu adalah adat. Adat seperti itu adalah adat yang batil, kufur, syirik dan mungkar yang harus dibasmi. Adat yang dimaksud adalah sebuah kebiasaan yang disepakati bersama oleh masyarakat sebagai suatu konvensi atau kesepakatan tidak tertulis, namun memiliki kekuatan hukum.

    Biasanya adat seperti ini lebih banyak terkait dengan tata nilai, etika, estetika suatu masyarakat. Sebagai contoh, memegang jenggot orang lain buat adat kita di Melayu termasuk tidak sopan. Tetapi di Timur Tengah orang yang dipegang-pegang jenggotnya merasa bangga dan terhormat.

    Di Indonesia, jangan sekali-kali kita memegang kepala/ubun-ubun orang lain, tapi di Timur Tengah justru merupakan perbuatan yang baik. Ini adalah perbedaan `urf antara dua budaya. Jangan sampai kita salah menerapkan tata nilai dan sopan santun. Istilah yang kita kenal adalah, ”Masuk kandang kambing mengembik dan masuk kandang kerbau melenguh”.

    `Urf di negeri kita adalah mencium tangan orang tua dan orang-orang yang terhormat lainnya seperti kakek, paman, mertua bahkan termasuk kiyai, ulama dan lainnya.

    Bila hal itu kita lakukan sebagai bentuk penghormatan dan pengejawantahan dari menyesuaikan diri dengan `urf yang dikenal masyarakat, maka hal itu baik, karena menunjukkan bahwa kita memiliki tata etika dan sopan santun yang sesuai dengan metode masyarakat. Jadi mencium tangan orang tua dan seterusnya memang bukan tasyri` secara langsung, namun mausk dalam bab sopan santun dan akhlaq bergaul dengan orang tua dan menjalankan `urf yang baik.

    Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  7. #7
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    voa-islam kok jadi rujukan..
    Biar seru ahw..

  8. #8
    pelanggan setia hajime_saitoh's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Mataram Lombok NTB
    Posts
    2,004
    "adat basandi sarak, sarak basandi kitabulloh"..... jadi kalo adatnya sudah tidak basandi sarak dan kitabulloh maka akan tertolak, begitu ya???

  9. #9
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Tentu saja tertolak kalau bertentangan dengan syariat.
    Tapi.....
    nah.. ulama2 dulu kadang punya titik temu (rekonsiliasi) dari hal yang sepintas tampak bertentangan.

    Kebetulan [MENTION=198]hajime_saitoh[/MENTION] pakai ucapan bahasa Minang.
    Adat mewarisi ke anak perempuan lebih banyak kan sekilas bertentangan dengan syariat Islam.
    Itu ada beberapa penjelasan ulama-ulama Minang untuk akomodasi adat yang berlaku. Salah satu penjelasannya ada di memoar-nya Muhammad Hatta di mana ia bercerita penjelasan pamannya perbedaan soal warisan antara orang Minang di kota dengan orang Minang di desa.

    Seingatku [MENTION=7]cha_n[/MENTION] dan [MENTION=194]Ronggolawe[/MENTION] juga pernah menjelaskan.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  10. #10
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,946
    Islam nusantara kok dikasi embel-embel jaringan. Jadi serasa propaganda gerakan teroris. Modus ini...modus.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  11. #11
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Islam nusantara kok dikasi embel-embel jaringan. Jadi serasa propaganda gerakan teroris. Modus ini...modus.
    Yang nyebut "Jaringan Islam Nusantara" kan cuma Jonru, Habib Rizieq, dan mereka yang satu pandangan.
    Yang mencetuskan Islam Nusantara justru orang-orang NU. Mereka gak pakai istilah "jaringan" karena memang itu bukan jaringan. Itu konsep yang sudah dibawa oleh NU dari zaman dulu dan sekarang mereka keluarkan lagi karena ada orang-orang yang doyan banget bermain fikih hanya pakai landasan AlQuran terjemahan dan terjemahan Hadits.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  12. #12
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,946
    Ada yang protes loh, Islam Nusantara itu istilah untuk yang di Jawa aja. Soalnya asimilasi apa akulturasi Islam dan budaya lokal memang ada di Jawa aja toh pada zaman Wali Songo. Tapi kalo mau disebut Islam Jawa malah semakin terkesan primordialisme.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  13. #13
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    NU emang jawa doang?

  14. #14
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Ada yang protes loh, Islam Nusantara itu istilah untuk yang di Jawa aja. Soalnya asimilasi apa akulturasi Islam dan budaya lokal memang ada di Jawa aja toh pada zaman Wali Songo. Tapi kalo mau disebut Islam Jawa malah semakin terkesan primordialisme.
    Saya tadi sudah kasih contoh yang di Minang, kan?
    Di mana ulama-ulama Minang mempertemukan (rekonsiliasi) antara adat Minang yang pewarisannya matriarkal dengan syariat Islam yang sepintas tampaknya bertentangan.

    Makanya ada istilah "adat basandi sarak, sarak basandi kitabulloh".

    Lalu ada lagi "surau" yang saya kutip dari artikel di NUonline:
    "Kata Surau, konon berasal dari kata bahasa Arab sugra, yang berarti kecil. Karena pengaruh dialek, berubah dengan bunyi “surau”, yang berarti bangunan lebih kecil dari mesjid, didirikan sebagai bangunan pelengkap rumah gadang.
    Di Minangkabau, Surau pada dasarnya adalah tempat para bujangan laki-laki untuk bertemu, berkumpul, rapat dan tidur. Dengan masuknya Islam, fungsi surau diperluas, yakni menjadi tempat mengaji Al-Quran dan tempat shalat seperti halnya mushal"
    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinam...angkabau-.phpx
    Last edited by kandalf; 30-07-2015 at 09:50 PM.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  15. #15
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    wali songo ga di jawa doang
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  16. #16
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Tentu saja selama `urf itu tidak bertentangan dengan asas syariat itu sendiri.
    Ini yang terpenting !

    Jadi tinggal dilihat, apakah akidah dan amaliah Islam Nusantara itu sesuai dgn syari'at atau justru menyelisihi syari'at ?

    Sama saja -dulu- dengan JIL (Jaringan Islam Liberal), apakah akidah dan amaliah Islam Liberal itu sesuai dgn syari'at atau justru menyelisihi syari'at ??

    Begitu juga dengan firqah Salafi, apakah akidah dan amaliah firqah Salafi itu sesuai dgn syari'at atau justru menyelisihi syari'at ?

    Semua tolok ukurnya adalah Syari'at (Al-Qur'an dan Al-Hadits), jika sejalan diterima, jika bertentangan ditolak.
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  17. #17
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Ujung-ujungnya ngebahas bidengah

  18. #18
    intisari islam dengan aspek pendekatan kenusantaraan (baca keindonesiaan)

    - nilai islam diterapkan dengan menjunjung tinggi toleransi dalam keberagaman

    - dapat hidup berdampingan (selaras/harmonis) dengan pemeluk agama/kepercayaan lain
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  19. #19
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Mengutip kata-kata GusMus

    “Kita ini adalah orang Indonesia yang beragama Islam. Kita bukan orang Islam yang kebetulan dilahirkan di Indonesia,”

  20. #20
    coba-coba pupotku's Avatar
    Join Date
    Sep 2015
    Location
    Surabaya
    Posts
    36
    Untukku agamaku, untukmu agamamu.

    Ar rahman ar rahim. 😘

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •