mengenai 'kesetaraan gender' dalam keluarga, menurutku ini tergantung pada pandangan masing2. dan bagaimana upbringing dia dalam keluarganya saat kecil juga cenderung mempengaruhi pandangannya saat gede.

kurasa 'mayoritas' pandangan masyarakat indo ato bahkan asia in general (oleh cewe maupun cowo), memang cenderung masih menganggap laki2 sebagai kepala keluarga blablabla. tapi kurasa, jaman skarang udah mulai banyak juga yang berpandangan kesetaraan gender, dan biasanya orang2 yang berpandangan begini cenderung yang pernah keekspos dengan value barat (myself included).

Quote Originally Posted by serendipity View Post
Dan gw malah melihat kecendrungan emang orang di Asia punya anak gunanya buat disuruh-suruh.
Contoh simpel ya kalo ditanya kenapa mau punya anak ..."supaya ada yang ngerawat nanti kalo udah tua"
Kalo gw mau punya anak ya karna mau punya anak, ngerasa anak itu sebuah kado dan gw benar benar menginginkannya.
Bukan jadi "asisten pribadi".
Hah! ini bener banget, dan memang sering kudengar.
intinya, anak biasa dijadikan sebagai asuransi masa tua

Quote Originally Posted by Nowitzki View Post
[MENTION=1220]mbok jamu[/MENTION]
Selama ini sih, yang saya rasakan, cowok domestik itu lebih protektif dan reliable.
Karena pada dasarnya budaya di sini patriarki, jadi cowok berani berada di depan cewek untuk melindungi dan menjaga.
Contoh, nganterin atau njemput, ngasih uang nafkah, bayarin tiap ngedate dan siap bertanggungjawab kalo ada masalah sama istri/keluarganya.
Karena mereka merasa sebagai "leader" keluarga, jadi bebannya lebih berat.
Ini, kalo si cowok dapat didikan yang bener ya. (Most of my friends and exes do).

Meanwhile, cowok bule lebih sejajar, kita bisa jadi partner.
Bisa ngurus anak bareng, bersih2 rumah bareng, bayar masing2.
Cuma, dari hasil ngobrol2 dan kongkow2 sama beberapa bule (bukan semua ya),
Masing2 pihak (baik istri maupun suami) diharapkan untuk lebih independen secara keuangan dan lainnya.
Jadi ada a fine line between family matter and a personal matter.

Menurut saya sih, bule apa domestik gak ada bedanya,
asalkan masing2 tahu ekspektasinya,
asalkan bisa saling menghargai pandangan satu sama lain,
dan bisa beradaptasi.
Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
@Nowitzki

Dianterin, dijemput, dikasih nafkah, dibayarin tiap ngedate? You make Indonesian women sound so helpless.

Mbok pikir ndak ada hubungannya dengan patriarki, in fact, that just sounds like an excuse to me. Mbok dibesarkan dalam keluarga yang sangat patriarki (Aceh/Batak) tapi menadahkan tangan alias menerima is a big NO NO in my family, anak perempuan atau laki-laki. Dibayarin pacar? Wah, justru malu. Dan itu bisa menjadi bumerang untuk perempuan. Mosok teriak-teriak kesetaraan gender tapi ndak bisa mandiri? Mosok mengaku intelligent and modern women tapi masih mengkotak-kotakkan pemikiran bahwa laki-laki yang harus bayarin tiap ngedate?

BTW, kenapa harus dibandingkan dengan non-Indonesia?
lah, gimana ngga ada hubungannya dengan patriaki. emang kenyataannya norma masyarakat indo emang masih banyak yang begitu, bahkan dalam perhukuman pun masih begitu. your single experience blom tentu mencerminkan semua keluarga. don't get me wrong, saya pun penganut kesetaraan gender, dan dalam kamusku ngga ada yang namanya kepala keluarga blablabla. suami dan istri sama2 memegang saham 50-50 dalam RT, equal partnership, equal stakeholders. kalo cowo diexpect untuk menurunkan toilet seat setiap kali selesai berbisnis, maka cewe juga harus diexpect untuk leaving the toilet seat up after she is done.

but fact of the matter is, masih banyak praktek2 yang cenderung masih nge-reinforce stereotype peran cewe-cowo yang udah turun temurun ini.

having said that, im lucky my significant other bukan tipe yang begitu biarpun orang asia. and that's my biggest requirement from my partner in life, yaitu kesetaraan dan kemandirian, regardless gendernya.

Quote Originally Posted by tuscany View Post
Bisa masak mah ndak liat kebangsaan
tullll

...maupun gender, if i may add