lha maksude [MENTION=1220]mbok jamu[/MENTION] kepriben toh?

saya kira, mbok jamu pengen tahu bedanya, yah saya kira perbandingan itu akan lebih menjelaskan perbedaannya, ternyata tidak toh?
Seperti yang saya ketik, semua itu kembali ke perspektif masing2 orang.

Tapi, lagi-lagi ngomongin soal perspektif orang Indonesia, cowok itu sebagai leader, dan mereka memang secara kultural dan secara legal punya tanggung jawab yang lebih besar.
Misal, dalam Kartu Keluarga, yang dicantumkan sebagai Kepala Keluarga biasanya suami atau orang tua atau anak laki-laki tertua.
Juga dalam perniagaan proses pinjaman uang/barang, seorang istri/perempuan biasanya harus melampirkan fotokopi KTP suami/orang tua.
Dalam urusan RT/RW juga bisanya kalau ada pertemuan yang penting dan merumuskan keputusan juga biasanya yang dipanggil para Bapak, bukan para Ibu.
Ini masih contoh kecil. Masih banyak contoh lainnya.

Jadi, walaupun banyak perempuan yang sudah mandiri. Bekerja, punya penghasilan sendiri, dan bisa kemana2 sendiri.
Tak dapat diingkari bahwa budaya Indonesia masih patriarkal.

Dan, para cewek (seperti saya), alih-alih melihatnya sebagai burden dan pelecehan, malah memanfaatkan sebaik2nya.
Jadi, selain mendapatkan penghasilan pribadi, masih bisa menggunakan uang suami untuk beli ini-itu (biasanya malah untuk keperluan anak )
Seringnya ke mana-mana sendiri, tapi bisa minta tolong antar jemput sekali-kali pas pengen manja.

Well, saya sih, malah bahagia punya cowok Indonesia, because I can play along with their so-called "masculinity".