Results 1 to 20 of 82

Thread: Pacar/Suami Indonesia?

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    don't get me wrong, saya pun penganut kesetaraan gender, dan dalam kamusku ngga ada yang namanya kepala keluarga blablabla. suami dan istri sama2 memegang saham 50-50 dalam RT, equal partnership, equal stakeholders. kalo cowo diexpect untuk menurunkan toilet seat setiap kali selesai berbisnis, maka cewe juga harus diexpect untuk leaving the toilet seat up after she is done.
    I beg to disagree.

    Memiliki saham yang sama, pembagian kewajiban 50-50, itu sekedar ilusi.
    Istilah "saham", "stakeholder" itu hanya cocok untuk kegiatan produktif.

    Apa sih yang produktif dari pernikahan?
    Pernikahan itu lebih mirip jual beli.
    Saya beli kolam genetik untuk eksperimen nutfah dan saya bayar berupa perawatan kolam tersebut.

    Jadi gak ada itu istilah ketergantungan perempuan pada laki-laki. Gak ada istilah laki-laki menjadi tameng.
    Yang ada adalah jual beli. Laki-laki membeli sarung pedang, dibayar dengan tameng.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  2. #2
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    I beg to disagree.

    Memiliki saham yang sama, pembagian kewajiban 50-50, itu sekedar ilusi.
    Istilah "saham", "stakeholder" itu hanya cocok untuk kegiatan produktif.

    Apa sih yang produktif dari pernikahan?
    Pernikahan itu lebih mirip jual beli.
    Saya beli kolam genetik untuk eksperimen nutfah dan saya bayar berupa perawatan kolam tersebut.

    Jadi gak ada itu istilah ketergantungan perempuan pada laki-laki. Gak ada istilah laki-laki menjadi tameng.
    Yang ada adalah jual beli. Laki-laki membeli sarung pedang, dibayar dengan tameng.
    produknya kan jelas tuh anak2 yang lucu2.....

    ---------- Post Merged at 10:21 AM ----------

    ya itu kan pola pikirnya kop Kandalf tapi dalam pola pikir orang lain misalnya saya kan bisa beda.. kalo menurut saya pribadi ya saya sebagai suami akan bertindak menjadi pelindung bagi istri dan anak-anak saya. InsyaAllah....

  3. #3
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    I beg to disagree.
    Memiliki saham yang sama, pembagian kewajiban 50-50, itu sekedar ilusi.
    Istilah "saham", "stakeholder" itu hanya cocok untuk kegiatan produktif.
    kegiatan produktif gimana? maksudnya dalam arti seperti organisasi for-profit?
    well, buatku itu cuman definisi bahasa doank, ilusi ga ilusi, intinya menurutku masih sama aja. dan 50-50 itu bukan cuman kewajiban / tanggung jawab, tapi juga hak. yah, bener kaya dalam bisnis deh.

    Apa sih yang produktif dari pernikahan?
    Pernikahan itu lebih mirip jual beli.
    Saya beli kolam genetik untuk eksperimen nutfah dan saya bayar berupa perawatan kolam tersebut.

    Jadi gak ada itu istilah ketergantungan perempuan pada laki-laki. Gak ada istilah laki-laki menjadi tameng.
    Yang ada adalah jual beli. Laki-laki membeli sarung pedang, dibayar dengan tameng.
    saya justru ngerasa jual beli kurang tepat analoginya. sapa yang penjual sapa yang pembeli nih? dagangannya apa? sarung pedang dan tameng itu kiasan buat apa dalam RT?

    Quote Originally Posted by serendipity View Post
    Tapi ya IMO orang bule kalau mau nikah bener-bener karna cinta. Soalnya mereka nikah bukan untuk melegalkan s3x aja.
    Wong pacaran juga dah jelas pernah icip-icip.. dan gak harus nikah itu menurut mereka.
    Jadi pas nikah gak ada rasa kaget kaya "oh dia kok gitu sih kelakuannya".
    Disatu sisi bagusnya pernikahan ini ya karna si laki pengen beneran hidup sama si cewek dan ngerasa gak bisa hidup tanpa satu sama lain.
    saya justru merasa sebaliknya. bule cukup pragmatis kok menurutku. tentu ada kalangan yang menikah atas dasar membuktikan cinta lah dll (yang semakin direinforced pula dari pelem2 romans hollywood ). tapi menurutku banyak juga yang ngga begitu. very often pernikahan itu bener untuk melegalkan status aja, karena status seseorang akan sangat mempengaruhi kehidupannya dari segala aspek (pajak pendapatan, pengasuhan anak, warisan, asuransi kesehatan, pinjeman kredit ke bank, pembelian/sewa rumah, hak kunjung rumah sakit, dll). baru2 ini saya ada temen pasangan gay yang menikah untuk tujuan status imigrasi partnernya (satu warga amrik satunya warga asing).

    Dan mengenai punya anak, hahahaha percayalah banyak banget yang berprinsip kaya gitu tapi lagi-lagi denial.
    Ada yang jujur straight to the point gak pakai basa basi.
    Dulu sih dosen saya pernah cerita sama seorang temennya katanya kalo anak itu investasi. Si dosen ini ketawa aja.
    Ketahuilah bahwasanya gak ada anak yang minta dilahirkan ke dunia yang kejam ini, jadi cintai anak tapi gak usah dimanjain amir.
    menurutku ngga semua denial2 banget, soalnya banyak kok yang begitu dan bahkan dengan lantang mengakui bahwa anak itu asuransi. saya pribadi ngga memegang prinsip itu sih, tapi banyak orang yang kutemui yang berpandangan begitu (dan mengakuinya).

  4. #4
    pelanggan setia serendipity's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    4,775
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    saya justru merasa sebaliknya. bule cukup pragmatis kok menurutku. tentu ada kalangan yang menikah atas dasar membuktikan cinta lah dll (yang semakin direinforced pula dari pelem2 romans hollywood ). tapi menurutku banyak juga yang ngga begitu. very often pernikahan itu bener untuk melegalkan status aja, karena status seseorang akan sangat mempengaruhi kehidupannya dari segala aspek (pajak pendapatan, pengasuhan anak, warisan, asuransi kesehatan, pinjeman kredit ke bank, pembelian/sewa rumah, hak kunjung rumah sakit, dll). baru2 ini saya ada temen pasangan gay yang menikah untuk tujuan status imigrasi partnernya (satu warga amrik satunya warga asing).


    menurutku ngga semua denial2 banget, soalnya banyak kok yang begitu dan bahkan dengan lantang mengakui bahwa anak itu asuransi. saya pribadi ngga memegang prinsip itu sih, tapi banyak orang yang kutemui yang berpandangan begitu (dan mengakuinya).
    Di Indonesia juga gitu kok ada beberapa pasangan yang menikah untuk meringankan pajak, membuat cinta eh maksudnya melegalkan status.
    Yha selama gak merugikan orang lain sih gak apa-apa... toh bukan kita yang dirugikan kan
    Iya emang kebanyakan pasangan pengen punya anak sebagai asuransi, mereka bilang itu secara lantang. U know the people who said "anak itu kan rejeki"

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •