Selain nama berbeda, di masing-masing daerah memiliki cerita khas yang berhubungan dengan senjata-senjatanya. Seperti kerambit, yang di tanah Sunda dikenal dengan sebutan karambit dan di tanah Sumatera popular disebut kurambik, alat ini dianggap berasal dari Sumatera. Hal itu dibuktikan dengan catatan yang ditulis pada Asian Journal British, Juli-Desember 1827, yang memberitakan penggunaan Kerambit di tanah Sumatera. Senjata yang dianggap berasal dari Minang ini dibawa para perantau berabad-abad lalu hingga menyebar ke berbagai wilayah nusantara, seperti Jawa, Sulawesi, dan semenanjung Melayu. Hingga akhirnya senjata ini tersebar luas ke mancanegara melalui jaringan perdagangan Asia Tenggara, seperti ke Kamboja, Malaysia, Myanmar, Filipina, Laos, dan Thailand.
Versi lain menyebutkan bahwa Kerambit mulai digunakan di Pulau Jawa, di masa kejayaan Kerajaan Padjajaran dan Majapahit. Perkembangan penggunaan Kerambit berbarengan dengan penggunaan Kujang dan keris. Menurut versi di Tatar Pasundan, dan memiliki kesamaan versi di Ranah Minang, bentuk Kerambit ini terinspirasi dari bentuk taring dan cakar Lodaya, sejenis harimau yang dulu habitatnya banyak di sekitar ujung Barat pulau Jawa.
Pada masa kerajaan, di banyak peperangan, kerambit banyak digunakan pula oleh prajurit kerajaan sebagai senjata ketiga. Di medan pertempuran, para ksatria bersenjatakan keris yang diselipkan atau diselendangkan di pinggang dan tombak di tangannya. Sedangkan Kerambit menjadi senjata terakhir yang terpaksa dikeluarkan dari persembunyiannya manakala sudah tak memegang senjata lagi dan terdesak.