sekarang lebih valid mana,
antara data tautan dari media di mana si wartawan menyaring perkataan narasumber
dengan data obrolan warung kopi di mana kita ngobrol dengan narasumbernya sendiri?
sekarang lebih valid mana,
antara data tautan dari media di mana si wartawan menyaring perkataan narasumber
dengan data obrolan warung kopi di mana kita ngobrol dengan narasumbernya sendiri?
Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013
Sama saja. Misal purba diskusi dgn kandalf. Purba menggunakan data dari media massa ataupun purba menggunakan data dari kandalf, itu sama saja, toh keduanya (baik media massa maupun kandalf berhadapan langsung dengan narasumber). Malah media massa lebih bisa dipertanggungjawabkan karena sifatnya yg menjadi milik publik. Artinya media massa lebih sulit utk berbohong, dibandingkan pengakuan pribadi.
Sayangnya,
data dari media massa seringkali melalui dua kali penyaringan.
Penyaringan pertama dari wartawannya sendiri.
Penyaringan kedua dari editor.
Belum yang ketiga, dari pemilik modal.
Saya sudah beberapa kali berada di sebuah tempat kejadian dan saat dimuat di media massa manapun ada beberapa bagian yang hilang.
Itu sebabnya, kadang saya unduh majalah detik mingguan atau beli majalah mingguan. Karena biasanya, yang hilang2 itu ada di edisi 'mingguan'.
Saya pribadi sih jarang mengeluarkan observasi personal kecuali kalau ada unsur personal, misalnya ada kejadian pemukulan dan yang dipukul adalah saudara saya, atau ada tuduhan terhadap almameter.
Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013