Results 1 to 20 of 148

Thread: Dubes RI ditolak Brasil

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by TheCursed View Post
    Dan analogi mangga.... gue lebih ngeliat situasinya dengan analogi Gangrane atau Kanker, dimana anggota badan(analogi dari bagian masyarakat) harus di potong, untuk menghindari seluruh tubuh(analogi dari masyarakat) keracunan. Dan kadang bagian yang sehat pun nggak sengaja kebawa dalam operasi pengangkatan.
    Analogi lu itu menunjukkan lu pegang 'value' dimana nyawa manusia sama saja dengan buah mangga. That's Ok. Itu value yg lo pegang. Karena itu dapat dipahami bahwa lo setuju dgn hukuman mati.

    Btw, dlm kasus kanker, terpaksa bagian tubuh yg sakit dibuang, utk apa? Utk mempertahankan nyawa manusia. Ini value yg membedakan nyawa manusia dan buah mangga.

    Kalo 'value' yg dipegang seperti ladang jagung (lihat di bawah), mungkin orang Indonesia dimusnahkan saja oleh komunitas internasional karena biang kriminal dan biang korupsi.

    Dan ngomongin buah sebagai analogi, nggak sekali dua kali, bahkan secara ekstrem seluruh ladang(yang gue tau, kejadian buat buat jeruk dan kedelai) harus di basmi gara2 ketauan beberapa bagian tanaman terserang hama.
    Lu paham analogi kan?

    ---------- Post Merged at 05:57 PM ----------

    Gak tega gw. Nih gw tanggepin...

    Quote Originally Posted by surjadi05 View Post
    Lagi2 dengan probabilitas 100 : 1 mangga, kenapa ga 10:1, atau 3:1 kan keren gile 33% bok
    100 buah mangga dibuang tapi ada 1 yg masih baik bukan sedang menunjukkan probabilitas salah hukum 100:1 tapi sedang mengilustrasikan 'nilai' buah mangga dibandingkan dgn 'nilai' nyawa manusia. Paham?

    Secara statistik kesalahan 1:10000000000000000000000000 mungkin tidak ada artinya. Tapi tidak utk nyawa manusia. Itu ilustrasinya. Mudah2an lu paham.
    Last edited by purba; 22-03-2015 at 06:59 PM.

  2. #2
    pelanggan sejati surjadi05's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    9,355
    Quote Originally Posted by purba View Post
    100 buah mangga dibuang tapi ada 1 yg masih baik bukan sedang menunjukkan probabilitas salah hukum 100:1 tapi sedang mengilustrasikan 'nilai' buah mangga dibandingkan dgn 'nilai' nyawa manusia. Paham?

    Secara statistik kesalahan 1:10000000000000000000000000 mungkin tidak ada artinya. Tapi tidak utk nyawa manusia. Itu ilustrasinya. Mudah2an lu paham.
    Well dengan probabilitas gitu ada kemungkinan kan seseorang beli pisau untuk bunuh orang, atau mobil nabrak orang sampe mati,harusnya ga boleh pisau dan mobil di jual bebas, toh kita bicara "value" nya seseorang, logika yg aneh
    you meet someone
    you two get close
    its all great for awhile
    then someone stops trying
    Talk less, awkward conversations, the drifting
    No communication whatsoever
    Memories start to fade
    Then the person you know become the person u knew
    That how it goes. Sad isn't it?

  3. #3
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by surjadi05 View Post
    Well dengan probabilitas gitu ada kemungkinan kan seseorang beli pisau untuk bunuh orang, atau mobil nabrak orang sampe mati,harusnya ga boleh pisau dan mobil di jual bebas, toh kita bicara "value" nya seseorang, logika yg aneh
    Masih gak paham juga.

    Kan lagi ngomongin hukuman mati, bukan tabrak lari atau begal motor. Di Jakarta mungkin orang yg jalan kaki saja punya peluang mati yg lebih tinggi dibandingin kesalahan hukuman mati. Apakah berarti jalan kaki musti dilarang? Bukan itu point-nya neng... Ini bukan sedang ngomongin peluang orang mati karena suatu sebab (buset ampe bosen gw jelasinnye ), tapi kesalahan hukuman mati yg dilakukan oleh negara. Negara mencabut nyawa orang yg tidak bersalah karena dituduh bersalah. Ini jelas malfungsi dari suatu negara.

    ---------- Post Merged at 09:57 PM ----------

    Quote Originally Posted by TheCursed View Post
    PAHAM.

    Gue cuman mau bilang, bahkan buah yang lu gunakan sebagai analogi-pun, di dunia nyatanya, perlakuannya bahkan bisa lebih ekstrem dari 'sekedar hukuman mati' dalam rangka menyingkirkan individu yang terdefinisi sebagai bibit buruk.
    Berarti lu gak paham juga.

    sekali lagi gue bilang, lo mesti 'jalan dalam sepatu orang lain' dulu untuk bisa bilang bahwa hukuman mati itu paling baik atau paling buruk.
    Apa maksud lu? Mungkin maksud lu, si purba kan anti-hukuman mati, maka si purba musti coba sepatu orang yg pro-hukuman mati. Gitu?

    Ok, nanti gw coba. Trus apakah coba sepatu hanya berlaku buat si purba? Bagaimana dengan yg pro-hukuman mati, apakah mereka gak perlu coba sepatu si purba juga?

    Yang perlu lo paham adalah: Walaupun gue pro hukuman mati, sebagai 'necessary evil', gue nggak memandang pendapat ini sebagai harga mati.
    Gua nggak memandang pendapat ini sebagai kebenaran absolut.
    Gue anggap penerapannya sangat bergantung pada situasi masyarakatnya. Sangat2 relatif.
    Tergantung situasi, bisa antara harus diterapkan, sampe nggak perlu sama sekali.
    Ya baguslah buat lo kalo punya pendapat.

    Pertanyaan berikutnya, pada situasi yg bagaimana itu harus diterapkan dan tidak perlu sama sekali?

  4. #4
    pelanggan sejati surjadi05's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    9,355
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Masih gak paham juga.

    Kan lagi ngomongin hukuman mati, bukan tabrak lari atau begal motor. Di Jakarta mungkin orang yg jalan kaki saja punya peluang mati yg lebih tinggi dibandingin kesalahan hukuman mati. Apakah berarti jalan kaki musti dilarang? Bukan itu point-nya neng... Ini bukan sedang ngomongin peluang orang mati karena suatu sebab (buset ampe bosen gw jelasinnye ), tapi kesalahan hukuman mati yg dilakukan oleh negara. Negara mencabut nyawa orang yg tidak bersalah karena dituduh bersalah. Ini jelas malfungsi dari suatu negara.
    Lah apa bedanya, negara cuma "menyediakan" hukum maks, yg menentukan plokis, jaksa, hakim, MA, dan dengan probabilitas yg sedemikian mustahil, dalam hal itu negara juga "menyediakan" pisau, mobil dll yg kontent nya sama2 bisa menghilangkan nyawa orang yg ga bersalah, apa bedanya
    you meet someone
    you two get close
    its all great for awhile
    then someone stops trying
    Talk less, awkward conversations, the drifting
    No communication whatsoever
    Memories start to fade
    Then the person you know become the person u knew
    That how it goes. Sad isn't it?

  5. #5
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by purba View Post
    ...
    Lu paham analogi kan?
    ...
    PAHAM.

    Gue cuman mau bilang, bahkan buah yang lu gunakan sebagai analogi-pun, di dunia nyatanya, perlakuannya bahkan bisa lebih ekstrem dari 'sekedar hukuman mati' dalam rangka menyingkirkan individu yang terdefinisi sebagai bibit buruk.

    sekali lagi gue bilang, lo mesti 'jalan dalam sepatu orang lain' dulu untuk bisa bilang bahwa hukuman mati itu paling baik atau paling buruk.

    Yang perlu lo paham adalah: Walaupun gue pro hukuman mati, sebagai 'necessary evil', gue nggak memandang pendapat ini sebagai harga mati.
    Gua nggak memandang pendapat ini sebagai kebenaran absolut.
    Gue anggap penerapannya sangat bergantung pada situasi masyarakatnya. Sangat2 relatif.
    Tergantung situasi, bisa antara harus diterapkan, sampe nggak perlu sama sekali.
    A proud SpaceBattler now.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •