Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
Lho koq malah balik nanya. Pe-er banget lu. Mbok sudah kasih data akurat yang tak terbantahkan. Sampeyan riset sendiri dong.
Pertanyaan itu bukan utk dijawab, tapi menunjukkan bahwa tidak semua kasus pembunuhan adalah seperti Cowan. Kasus Cowan (membunuh kembali setelah bebas dari penjara) bukan alasan yg kuat utk mendukung hukuman mati.

Kenyataannya napi-napi itu dipekerjakan ndak? Coba inget-inget pengalaman sampeyan di Kerobokan.
Memang ada yg dipekerjakan. Jika pun tidak, yg berwenang bisa membuat peraturan seperti itu jika memang tidak mau menggunakan uang dari pajak. Tapi jika pun tidak, itu menunjukkan tidak ada keberatan dgn penggunaan uang dari pajak utk biaya lapas.

Halah.. mulai deh, playing victim.
No body likes me. Everybody hates me. I think I'll go eat worms.
Playing victim?

Lha sampeyan meluaskan kasus dgn melihat uang dari pajak, ya begitu alasannya. Memangnya sampeyan bayar pajak pada negara utk apa?

Kalo mau, setiap warga negara wajib bayar pajak. Titik. Setelah itu, adalah urusan negara mau digunakan buat apa uang dari pajak tsb. Sampeyan mau apa?

What a lot of sh!t! Kalau dia benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakat, dia ndak akan menjadi seperti itu.
Itu kan klaim sampeyan.

Semua penjahat innocent karena yang salah bapaknya, emaknya, tetangganya, ketua RTnya..
Penjahat innocent?

Bukan gegabah kayak gitu. Penjahat tetap punya salah pada dirinya, tetapi karena sampeyan mengkaitkannya dgn uang dari pajak, ya begitu alasannya.

Sama saja dgn banyak gelandangan dan pengemis dlm suatu masyarakat. Atau banyak pelaku kriminal dlm suatu masyarakat. Itu tidak lepas dari sistem yg dipakai oleh masyarakat tsb. Masyarakat tetap punya tanggung jawab terhadap 'sampah-sampah' tsb.