Quote Originally Posted by surjadi05 View Post
ok, emang ada kasus salah hukum, harusnya salahin,penegak hukumnya donk bukan hukuman matinya, ok coba gw berlogika menurut cara pikir lu, berapa persentase orang yg salah vonis mati, pasti lebih kecil daripada anak2 yg pergi sekolah trus meninggal entah karna kecelakaan tawuran, nah supaya ga ada anak sekolah yg meninggal trus sekolah kita larang gitu , logika yg aneh
Logika aneh? Saya malah lihat analogi sampeyan yg ngawur.

Salah hukum memang harus dihindari, tapi salah hukuman mati berakibat fatal. Kalo salah hukum 5 tahun, terpidana masih ada waktu dan kesempatan utk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Tapi kalo salah hukuman mati? Ya mati konyol, gak ada kesempatan lagi utk membuktikan dirinya tidak bersalah. Utk memahami hal tsb, coba tempatkan diri sampeyan sebagai terpidana yg salah hukuman mati, apakah anak bini sampeyan terima itu?

Di amerika ada aktivis yg sangat menentang hukuman mati, tapi suatu hari anaknya yg ce di gank rape, trus dibunuh, akhirnya malah dia menjadi pembunuh ( dalam kasus ini dia menjadi polisi, jaksa, hakim dan jury sekalian)
Lebih ironis mana ::
Lha itu namanya balas dendam. Silakan saja klo orang mau balas dendam. Sampeyan pun, kalo mau, bisa membunuh orang yg sampeyan gak suka. Saya pun, meski tidak setuju hukuman mati, akan balas dendam seperti itu jika anak saya diperkosa kemudian dibunuh. Secara pribadi saya puas, tapi saya pun harus sadar, bahwa berikutnya saya akan dibui. Jadi ketidaksetujuan hukuman mati tidak ada hubungannya dengan itu.

Saya menolak hukuman mati utk menghindari orang yg sebenarnya tidak bersalah menjadi mati konyol karena salah hukum. Ada adagium dlm penegakan hukum bahwa lebih baik membiarkan penjahat hidup dari pada menghukum mati orang yg tidak bersalah.