Results 1 to 20 of 148

Thread: Dubes RI ditolak Brasil

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Penegakan hukum masih lemah? Coba kaitkan dengan hukuman mati. Bagaimana sampeyan setuju dgn hukuman mati, sementara sampeyan pun mengakui masih lemahnya penegakan hukum di Indonesia? Lemahnya penegakan hukum berakibat salah hukum. Yg bersalah malah bebas (gembong narkoba pun bisa bebas). Yg tidak bersalah bisa mati.

    Mati adalah suatu hal yg pasti, sementara penegakan hukum selalu ada toleransi kesalahan. Katakanlah, dari 100 terpidana yg dihukum mati, ada 1 yg salah hukum (artinya orang tidak bersalah tapi dihukum mati), apakah yg 1 tsb dapat diabaikan? Tentu tidak. Karena bagaimanapun dia manusia yg tidak bersalah tapi mati. Berbeda dengan 100 buah mangga yg dibuang karena dianggap busuk, ternyata ada 1 yg masih baik ikut terbuang. Itu mangga, bukan manusia. Sepertinya hal seperti ini masih sulit dicerna oleh kebanyakan kita.

    Coba sampeyan sedang di Cengkareng, entah dari mana, mau masuk ke Indonesia. Kemudian di dalam tas sampeyan ditemukan 1 kg heroin. Matilah sampeyan.

    Lha emang dilematis. Makanya saya kembalikan ini bukan cuma masalah kurir/pelaku/bandar tapi juga korbannya yang sudah pasti jatuh dan sekarang masif jumlahnya, untuk menyeimbangkan perspektif.

    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    Mengenai memutus mata rantai atau pasokan narkoba dari luar ke indonesia adalah hil yang mustahal, karena yg maen mafianya ga cuman mafia ecek2, dan supply chains nya juga panjang. Dari mulai mafia lokal di kolombia, afganistan atau thailand, sampe investor dari amerika atau arab saudi, dari mulai petani lokal sampe kurir internasional. T'rus indonesia mau selamat dari narkoba hanya dgn menerapkan hukuman mati bagi kurir? Emang dikira dari sekian kurir yg tertangkap dikira itu adalah sebagian besar? NOpe, mungkin malah ga ada setengahnya. Belum lagi kalo pihak bea cukainya ud dibayar. Lagipula kalo gw pulang jarang ada kena pemeriksaan. Malah pernah bawa tas hermés bakal dijual, kena pemeriksaan bagasi suruh masuk kotak xray, kagak ketauan. Lolos2 aje. Gw curiga yg ketangkep itu malah karena ud diketahui/dilaporkan sejak mereka berangkat, atau sial. Belum lagi yang masuk ga lewat airport.

    Satu2nya cara menghindari anak2 Indonesia dari jeratan narkoba dan menjadi korban adalah pencegahan, spt orang tua jagain anak yg bener, pemerintah dengan iklan layanan masyarakatnya atau propaganda2nya. Itu hanya untuk menurunkan jumlah demand. Hukuman mati bagi bbrp kurir atau gembong tidak membuat anak2 takut untuk mencoba gaya2an pake narkoba. Hukuman mati malah memotivasi aktor2 narkoba untuk menemukan cara yang lebih jitu menipu aparat pemerintahan. Dan jangan lupa, tumbal, yg tertangkap bisa saja hanya tumbal.
    Mustahil bukan berarti ndak bisa direduksi. Nyerangnya memang harus dari dua sisi, supply dan demand. Sementara itu penegakan hukum harus lebih diperketat lagi supaya ndak sembarang orang bisa dihukum mati. Toh dari Bali Nine misalnya, cuma dua yang kena.

    Kalo memang hukuman mati dianggap tidak efektif memutus mata rantai pasokan narkoba dari luar, terus apa solusi lainnya? Mesti tetap ada solusi.

    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    Jangan salah, brazil itu anggota ekonomi kuat BRICS di mana Indonesia kagak masuk.
    Indonesia sekarang masuk MINT.

    Quote Originally Posted by MINT
    MINT is an acronym referring to the economies of Mexico, Indonesia, Nigeria, and Turkey.[1][2] The term was originally coined by Fidelity Investments, a Boston-based asset management firm,[2] and was popularized by Jim O'Neill of Goldman Sachs, who had created the term BRIC.[3][4] The term is primarily used in the economic and financial spheres as well as in academia. Its usage has grown specially in the investment sector, where it is used to refer to the bonds issued by these governments. These four countries are also part of the "Next Eleven".
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  2. #2
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Mustahil bukan berarti ndak bisa direduksi. Nyerangnya memang harus dari dua sisi, supply dan demand. Sementara itu penegakan hukum harus lebih diperketat lagi supaya ndak sembarang orang bisa dihukum mati. Toh dari Bali Nine misalnya, cuma dua yang kena.

    Kalo memang hukuman mati dianggap tidak efektif memutus mata rantai pasokan narkoba dari luar, terus apa solusi lainnya? Mesti tetap ada solusi.
    Itu kan ud dibilang, pendidikan/pengetahuan dan propaganda. Kayak rokok aja sekarang orang ud mulai berkurang.

    Indonesia sekarang masuk MINT.
    Gimana gitu kalo ga disejajarkan dgn china atau rusia.

  3. #3
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    Itu kan ud dibilang, pendidikan/pengetahuan dan propaganda. Kayak rokok aja sekarang orang ud mulai berkurang.
    Gimana gitu kalo ga disejajarkan dgn china atau rusia.
    Pendidikan juga, dari segi suplai dan sifatnya long term. Complementary iya, tapi bukan per se substitusi.

    Emang kalo ndak sejajar Rusia China gimana sih? jadi pengen tau.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  4. #4
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Lha emang dilematis. Makanya saya kembalikan ini bukan cuma masalah kurir/pelaku/bandar tapi juga korbannya yang sudah pasti jatuh dan sekarang masif jumlahnya, untuk menyeimbangkan perspektif.
    Maksud sampeyan, hukuman mati pantas diberikan pada 'pebisnis' narkoba karena jumlah korban yg masif? Atau bagaimana?

    Yg saya tangkap dlm diskusi ini, hukuman hati harus diberikan pada pebisnis narkoba, karena
    1. jumlah korban narkoba yg masif --> rasa keadilan?,
    2. utk memutus jejaring bisnis narkoba,
    3. utk menakut-nakuti calon pebisnis narkoba yg lain,
    4. ...

    Jika itu alasannya, apakah tanpa hukuman mati, maka poin 1, 2, 3, dst tidak terpenuhi?

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •