Gimana pur, udah tercerahkan?

Menyeimbangkan perspektif antara (HAM) pelaku kejahatan dan korban kejahatan sudah disampaikan dengan gamblang oleh duo mbok jamu dan kong sur. Intinya adalah peluang jadi korban untuk sang korban adalah seratus persen karena sudah kejadian. Sedangkan youli berspekulasi gimana kalo salah hukum, itu artinya peluang untuk jadi korban bagi sang pelaku kurang dari seratus persen.

Maka tentu pemerintah harus berpihak lebih dahulu kepada korban dengan menindak pelaku kejahatan sebagai prioritas utama. Ditemani dengan penegakan hukum yang lebih kuat untuk menekan peluang salah hukum.

Tidak ada di dunia ini keputusan manusia yang disukai semua pihak, jadi memang harus ada prioritas. Semoga paham.

Dah ah...mari balik lagi ke topik awal. Nih buat ndableg, yang maunya Indo lebih kuat dari Brazil.

Quote Originally Posted by fragilefive
JAKARTA, KOMPAS.com - Angin surga berhembus dari Bank raksasa Morgan Stanley. Bank yang bermarkas di Amerika itu menganggap Indonesia keluar dari kategori fragile five atau lima negara yang mata uangnya rawan terkena dampak kebijakan moneter Bank Sentral Amerika The Fed.

Pada Agustus 2013 ketika The Fed mengumumkan akan menurunkan porsi kucuran stimulusnya atau quantitative easing (QE) sebesar 85 miliar dollar AS, Morgan Stanley mengidentifikasi lima negara berkembang dengan mata uang yang paling rentan terdampak yaitu Brazil, India, Indonesia, Turki, dan Afrika Selatan.

Saat ini, Indonesia dan India dianggap sudah terhindar dari risiko. Ekonom Morgan Stanley mengaku Indonesia dan India sudah melakukan reformasi ekonomi yang cukup dengan meninggalkan model ekonominya yang lama.