Masalah KPK vs Polri tidak akan berkepanjangan kalau sang presiden tegas dan konsisten dengan pemberantasan korupsi.
Ketika Jokowi mengajukan BG, bukan saja KPK ataupun PPATK yg me-
warning sang presiden, tapi juga LSM-LSM dan tokoh-tokoh masyarakat antikorupsi ikut mewanti-wanti agar jgn ajukan BG, ajukan saja yg lain. Tapi sang presiden malah menjawab mosok pilih yg jauh. Terlihat tidak ada keseriusan dan keberpihakan dengan pemberantasan korupsi.
Ketika akhirnya masalah tsb 'meledak', Jokowi malah curhat bahwa pengajuan BG bukan inisiatifnya. Cuci tangan? Sekalian cuci kaki, trus tidur.
Ketika KPK menyatakan BG tersangka, sebagian orang menuduh AS balas dendam karena Jokowi tidak memilihnya sbg wapres. Make sense? Kagak. Kalo benar AS mau balas dendam pada BG, tidak perlulah dia (kalo benar dia - AS) menyatakan BG tersangka ketika sudah di tangan DPR. Ketika Jokowi mengajukan BG utk Kapolri pun, AS sudah bisa menyatakan BG sbg tersangka. Atau, kalo memang motifnya balas dendam, sudah jauh-jauh hari BG dijadikan tersangka oleh KPK. Itu pun kalo keputusan KPK boleh diambil oleh satu orang komisioner. Tapi nyatanya tidak. KPK membuat keputusan secara kolektif. Jadi alasan balas dendam hanya penghiburan saja.
Utk melemahkan KPK mungkin sangat mudah. Jadikan komisioner KPK sbg tersangka, meski dgn kasus ecek-ecek sekalipun, terhentilah KPK. Cari-cari saja kesalahan para komisioner KPK, pasti ditemukan, toh mereka bukan malaikat, pasti punya kesalahan.
BG perlu dinyatakan sbg tersangka utk menghentikan langkahnya menjadi Kapolri. Siapa yg bisa melakukan itu? KPK.
Mengapa langkah BG perlu dihentikan? Karena BG akan menjadi sumber masalah pemberantasan korupsi. DPR mengharapkan BG dapat menyerang KPK. Sudah pasti BG akan menyerang KPK. Dgn kasus rekening gendut yg melilitnya, BG minimal dapat digunakan utk menahan laju KPK dlm pemberantasan korupsi. DPR, yg sudah dikenal sbg lembaga korup, sangat berkepentingan dgn hal tsb.
Jadi jelas bahwa kasus KPK vs Polri adalah kasus rakyat vs koruptor.
Dimana sang presiden?
