Bukan situs historis Buddha seperti tempat ziarah di Yerusalem atau Roma (Vatikan) atau Mekkah-Madinah. Tetapi, dari segi arsitektur, Borobudur itu bisa dibilang upaya merepresentasikan ajaran Buddha ke dalam bentuk fisik.
Dari atas, misalnya, Borobudur itu membentuk Mandala.
Kemudian secara vertika, Borobudur terbagi menjadi tiga bentuk arsitektur, masing-masing mewakili tahapan alam, Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu.
Lalu di pinggiran-pinggiran lorongnya ada relief-relief menceritakan beberapa kisah, ada
tentang kisah Siddharta Gautama sendiri, ada juga kisah-kisah lain yang dikenal di ajaran Buddha.
Bahkan, bentuk-bentuk posisi tangan patung Buddha-nya memiliki makna-maknanya sendiri.
Jadi walau bukan 'tempat historis' dalam arti Pangeran Siddharta tidak pernah menjejakkan kaki ke nusantara, pengunjung Borobudur yang beragama Buddha, ketika menyusuri lorong-lorongnya, akan teringat dengan ajaran-ajaran Buddha. Dan itu keistimewaan candi borobudur dibandingkan kuil-kuil Buddha seperti hmmm... Shaolin
Kebanyakan dari orang Indonesia (termasuk aku) tidak beragama Buddha jadi mungkin sulit untuk mengerti. Tahunya cuma "kumpulan stupa terbesar di dunia". Tapi untuk yang beragama Buddha dan mengerti ajaran Buddha, mereka paham makna arsitekturnya. Jadi gak usah heran kalau Richard Gere menginginkan keheningan dalam menyusuri lorong2 Borobudur.
Mungkin setara dengan Drama Paskah untuk orang Kristen. Umat Muslim gak akan ngerti apa istimewanya Drama Paskah. Tetapi kawanku yang kristen, ada yang mengaku pernah menangis waktu melihat dramanya.