Quote Originally Posted by kandalf View Post
Filsafat itu seni mempertanyakan. Dalam bahasa Yunaninya, Filosofi, artinya mencintai kebijakan.

Kalau agamawan mengatakan, membunuh itu haram, maka filsuf akan bertanya:
1. apakah ada batasan keharaman perbuatan membunuh?
2. apakah ada budaya lain yang memperbolehkan membunuh?
3. bagaimana bila tidak dibunuh, resiko kerusakan yang lebih besar terjadi. Apakah membunuh dalam konteks ini tetap haram?

bahkan sampai
4. kalau seseorang terbunuh, apakah orang tersebut benar-benar musnah ataukah masih ada?
Itulah kesesatannya, karena sikap seorang Muslim dalam Syari'at itu harus : سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا (Kami mendengar dan kami menta'ati).

Maka ketika Allah SWT mengharamkan makan babi, tidak perlu kita bertanya : "apakah ada batasan keharaman babi tsb ? bagaimana dengan babi hutan ? atau bai perliharaan biasa ? Apakah karena ada cacing pita maka babi haram ? bagaimana jika tidak ada cacing pita ? , dst <<< mirip prilaku yahudi kepada Nabi Musa dalam QS2:68~71