Quote Originally Posted by ndableg View Post
Purba ini kloningannya ancuur kah? Jadi lucu orangnya.. Ga semakin pinter tapi semakin lucu..

Coba bayangin pur, kalo misalnya lu bayar kursus 500 rebu. Lalu ujian bayar lagi 50 rebu. Tapi karena purba itu IQ jongkok maka tidak bisa lulus sekali ujian. Akhirnya harus mengulangi lagi dari kursus, dgn membayar 500 rebu lagi. Kalo purba yg IQ jongkok ga lulus2 sampe 5 kali, maka si kursus mobil bisa dapet lebih dari 2 jeti. Ngapain terima 2 jeti kalo bisa terima lebih? Belum dikurangi utk nyogok pak pol.
Meneer... yg korupsi BUKAN sekolah setir tetapi OKNUM di sekolah setir tsb. Juga yg korupsi BUKAN kepolisian, tetapi oknum di kepolisian tsb. Si purba yg cerdas jelas gak mau ngeluarin duit sampe 2 jeti cuman buat lulus sekolah setir doang. Mendingan dia sogok oknum di sekolah setir tsb utk mengurus SIM hingga selesai. Paham gak meneer ndableg?

Selama ini orang beranggapan bahwa banyaknya oknum2 yg korup di instansi2 pemerintah karena gaji PNS kecil. Akhirnya gaji PNS di Depkeu dinaikkan berlipat2 dibandingkan gaji PNS lainnya. Tetapi ternyata tetap saja oknum yg korup macam Gayus Tambunan tetap tumbuh subur di Depkeu. Ini sebuah contoh bahwa perbaikan sistem pun tidak ada dampaknya jika orang2 yg menjalankan sistem tsb tetap bermental korup.

Meskipun begitu, sistem memang harus terus diperbaiki. Salah satu saran perbaikan sistem misalnya datang dari beberapa praktisi hukum seperti Todung Mulya Lubis. Dia menyarankan agar dibuatkan aturan pembuktian terbalik utk mengurangi korupsi di Indonesia. Dgn pembuktian terbalik tsb, orang diduga bersalah dulu bahwa dia korupsi. Utk lepas dari dugaan tsb, dia harus membuktikan bahwa harta yg dimilikinya selama ini adalah bukan hasil penjarahan uang rakyat. Tapi utk membuat aturan seperti itu, harus dilakukan oleh DPR, sementara DPR kadung diisi oleh b*ngs*t-b*ngs*t berdasi. Nah, jadi lingkaran setan 'kan? Dlm kondisi seperti itu, satu2nya jalan yg masih memberikan harapan adalah gerakan moral anti-korupsi. Ada satu lagi sih, yaitu potong generasi lewat revolusi, tetapi itu beresiko besar jika meleset, bisa2 Indonesia kolaps.