Ane melihat ada semacam keyakinan dalam diri kebanyakan orang Indonesia bahwa kalau mau kaya jadilah pejabat, jadilah anggota DPR, jadilah anggota partai, jadilah polisi, jadilah tentara, jadilah pegawai pajak, jadilah pegawai bea cukai, jadilah dokter, jadilah pengacara, dst. Sepertinya sangat sedikit yg berkeyakinan ingin menjadi pedagang, wiraswasta, dsb, kalau mau kaya.
Dulu sewaktu SD, anak2 ditanyakan cita2nya ingin menjadi dokter, insinyur, tentara, polisi, dll, masih dalam pengertian yg ideal. Jadi dokter karena mau menyembuhkan orang sakit, jadi polisi karena mau mengatur lalu lintas, jadi tentara karena mau angkat senjata bela negara, dst.
Ketika SMA, cita2 tsb masih tetap, tetapi tujuan sudah bergeser. Jadi dokter karena tahu setiap ke dokter bayar Rp 100rb, kalo ada 10 pasien saja sehari, sudah Rp 1jt. Kalo buka praktek 5 hari seminggu, sebulan sudah Rp 20jt. Jadi polisi kelas teri, tilang angkot Rp 20rb. Kalo ada 20 angkot per hari, selama 5 hari sudah Rp 2jt, sebulan sudah Rp 8jt. Belum tilang motor, mobil box, dst. Jadi tentara kelas teri, bekingin cukong per bulan ditransfer Rp 5jt per bulan. Masih banyak lagi hal2 melenceng yg sekarang sudah menjadi tujuan. Utk kelas kakap, kalikan 10 yg diperoleh kelas teri.
Menurut ane itulah salah satu mata air korupsi di Indonesia dan itu berawal dari keluarga. Lihat saja betapa banyak orang tua (tanpa disadari) yg mengarahkan anak2nya agar menjadi hal2 di atas supaya menjadi kaya. Seandainya para orang tua mengajarkan pada anak2nya kalo mau kaya jadilah pedagang, mungkin Windows tidak diinisiasi oleh Bill Gates, tapi oleh Iwan Setiawan atau Joko Sugiyono atau Samsidar Junedi atau Tagor Simanjuntak, dst.
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)

Reply With Quote




