Wokeh sekarang saya agak paham.
- Ada pembedaan perlakuan antara pasien BJPS dan pasien swasta. Ini sudah terjadi sebelum eranya BJPS, tepatnya waktu masih askes, apalagi askeskin. Kalo jamsostek seingat saya malah pelayanannya dulu oke. Telat2 gitu biasanya masalah penganggaran yang nggak segera disepakati saat rapat dengan dewan - ini masalah manajemen birokrasi seh kayaknya -, atau dana talangannya nggak cukup - urusan manajemen keuangan. Kalo premi dinaikkan, mungkin banyak yang teriak2. Nina Moelok itu latarnya praktisi kesehatan masyarakat atau dokter? Menteri Kesehatan mending bukan dokter seh menurut saya.
- Prosedur BJPS yang birokratis. Namanya juga perusahaan, punya pemerintah lagi, yang namanya birokrasi perlu. Mungkin ada alasannya kenapa perlu rujukan dari RS sebelumnya, mungkin ada juga alasan kenapa pake expired date. Saya tau kok ribetnya urusan rumah sakit karena pernah ngurus tete.k bengek operasi buat diri sendiri. Sebagai pasien kita maunya pasti cepat, tapi dari mereka sebagai provider pelayanan pasti ada alasan sendiri kenapa kok ribet banget. Perlu ditelusuri, bisa jadi birokrasinya nggak penting malah bikin nggak efektif efisien.
- Kalo soal dokter, ini agak mengherankan. Tiap tahun ada banyak lulusan kedokteran, kok yang tugas di rumah sakit pemerintah pada coass semua? Dokter senior pada ke mana? Dokter sekarang kok kesannya males belajar ya. Udah ngerasa puas bertitel dokter kah?
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)





Reply With Quote
