Quote Originally Posted by tsu View Post
sama kaya Zara dan Uniqlo kan ? disana merek terjangkau, disini kok mehong wkwkwkkwk

anw, OT yah
Zara murah kalau beli di negara asalnya (Spain), meskipun gitu kalo dikurskan ke rupiah tetap jadi mahal bagi kantong kebanyakan orang Indonesia di Indonesia.

Quote Originally Posted by ndugu View Post
lha, jauh amat bandingannya jati kan mahal?
barang2 ikea biasa pake 'ampas'nya kayu yang dikompres, jelas beda donk sama jati.
you get what you pay for deh ya
Saya kan bicara dari segi harga yang katanya sama mahalnya. Kalo sama mahal mending beli jati, gitu loh. Kalo sama murah, mending beli Olympic?
#cintaprodukindonesia

regardless, i'm not going to be too quick to judge tanpa mepertimbangkan budaya. kurasa ini sangat berperan besar.
kalo yang ini saya setuju banget. dari sudut pandang lain, saya kira ikea yang mestinya menyesuaikan dengan budaya lokal. kalo mau memaksakan budaya luar ke konteks lokal, yha siap-siap tidak sesuai target.

likewise budaya clean after yourself. menurutku orang indo selama ini ngga ada praktek seperti itu, jadi ga ada asumsi bahwa di foodcourt etc musti beresin alat sendiri. emang dari dulu ga ada praktek itu. kalo ternyata ikea mulai tradisi ini, then give it time. biarkan info itu propagate (halah ) ke masyarakat.

all in all, saya sih mendukung budaya clean after yourself ini ya. sama seperti budaya pembantu, we need to wean away from that
Kembali ke konteks lokal, budaya clean after yourself di rumah makan memang bukan bagian dari budaya Indonesia. Lha pelayan berkeliaran di mana-mana. Kalo nggak ada lowongan pelayan rumah makan, yang pendidikannya rendah bakal banyak yang jadi pengangguran. Demikian juga pembantu. Beda lah dengan negara maju dan belum pas untuk sampai ke kesimpulan: kalo nggak begitu maka dianggap sebagai kesalahan.

Point dari [MENTION=41]kandalf[/MENTION] juga menarik. Kurang budaya baca. Kalo pun terbaca, lihat-lihat dulu di sekitar ada nggak yang melaksanaken, kalo nggak ada ngapain dilaksanaken? Untuk Ikea sendiri, ya nggak cukup cuma pasang banner minta customer menaruh bakinya di situ. Sedari awal yang menyajikan makan mesti ngasi tau. Terus pasang gambar gede-gede sebagai contoh, bukan tulisan doang. Habis itu masih nggak mempan, pake cara lain sampe berhasil.



Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
I don't give a sh1t if Ikea is for the lower or higher class.

Yang mbok lihat ada tulisan mengkritik tanpa mengerti yang dikritik. So who's judging the Indonesians without thinking about their OWN culture?
Lha.. mbok bilang juga give it some time, or what they call process, karena setiap orang butuh waktu untuk mencerna hal yang baru. Jangan belum apa-apa langsung mengkritik, ketahuan baru melek.
+1.