Quote Originally Posted by ndugu View Post
mbok, kalo menurutku perlu dilihat2 background dan budayanya di indo. di eropa di amrik, mungkin ikea itu merek kelas bawah. tapi kalo ternyata di indo ga taunya ikea untuk kelas menengah keatas, then asumsi di atas ga bener. ya ga tau juga kenapa bisa jadi untuk kelas menengah ke atas, mungkin seperti yang tusc bilang, setelah dikonversi kurs, jatohnya jadi mahal untuk ukuran dompet indo kali.

regardless, i'm not going to be too quick to judge tanpa mepertimbangkan budaya. kurasa ini sangat berperan besar.
I don't give a sh1t if Ikea is for the lower or higher class.

Yang mbok lihat ada tulisan mengkritik tanpa mengerti yang dikritik. So who's judging the Indonesians without thinking about their OWN culture?


Quote Originally Posted by ndugu View Post
likewise budaya clean after yourself. menurutku orang indo selama ini ngga ada praktek seperti itu, jadi ga ada asumsi bahwa di foodcourt etc musti beresin alat sendiri. emang dari dulu ga ada praktek itu. kalo ternyata ikea mulai tradisi ini, then give it time. biarkan info itu propagate (halah ) ke masyarakat.

all in all, saya sih mendukung budaya clean after yourself ini ya. sama seperti budaya pembantu, we need to wean away from that
Lha.. mbok bilang juga give it some time, or what they call process, karena setiap orang butuh waktu untuk mencerna hal yang baru. Jangan belum apa-apa langsung mengkritik, ketahuan baru melek.