Page 2 of 2 FirstFirst 12
Results 21 to 40 of 43

Thread: budaya melayani diri sendiri

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan sejati surjadi05's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    9,355
    Err karna tulisannya ga bisa dibaca walo udah di zoom
    you meet someone
    you two get close
    its all great for awhile
    then someone stops trying
    Talk less, awkward conversations, the drifting
    No communication whatsoever
    Memories start to fade
    Then the person you know become the person u knew
    That how it goes. Sad isn't it?

  2. #2
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by surjadi05 View Post
    Err karna tulisannya ga bisa dibaca walo udah di zoom

    Mesti di tempelin di jidat baru dibaca...

    ---------- Post Merged at 05:29 PM ----------

    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    ... kaum priyayi ...
    I HATE Priyayi(s ?). Dan sejenisnya.
    Bawaannya hati pengen 'tak lepas di pulau terpencil dengan modal dengkul aja buat survival.

    Seriusnya, IMHO, staff-nya IKEA, mungkin harus ada yang rajin dalam bulan2 awal buka ini buat muterin tiap meja, memperhatikan alat makan yang di tinggal dan meminta tolong tiap ex-user-nya untuk naroh barang2 bekas pake tadi di tempatnya.
    Sampe brand "IKEA, tolong kumpulin pring kotor sendiri" itu ngetop di masyarakat, baru, mungkin cukup di beri tahu dengan tulisan. Tapi itu-pun, mengingat style-nya orang Indonesia terhadap peraturan tertulis, sekali2 perlu di enforce ulang juga itu peraturan.
    Last edited by TheCursed; 27-10-2014 at 06:40 PM.
    A proud SpaceBattler now.

  3. #3
    Chief Cook GiKu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    10,315
    kalo sudah selesai, jangan lupa disiram sendiri
    gak usah nunggu orang lain yg nyiram

  4. #4
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Masalahnya konsep bersihin makanan sendiri kurang pas diterapkan di indonesia yang industrinya masih kurang kreatip dan jumlah sdm tanpa skill banyak. Di indo pomp bensin ato pintu kereta masih ada pelayannya kan? Di eropa juga kalo ke restoran indonesia, (biasanya) pelayanannya paling top, ga minuman doang dituangin, sampe nasi diserokin juga.

    Pastinya ada banyak salah paham juga ketika konsep beresin sendiri pertama kali diterapkan di jepang atau eropa, di mana lama2 pada paham juga.

  5. #5
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    iya betul bleg
    nilai2 yang dianut beda juga
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  6. #6
    pelanggan tetap thin.king's Avatar
    Join Date
    Jun 2013
    Posts
    803
    [MENTION=1220]mbok jamu[/MENTION]
    IKEA ga murah deh mbok, yg kesana ga mungkin menengah ke bawah

  7. #7
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Lucu ikea ini ya..
    Di eropa jadi barangnya menengah kebawah, karena mgk barang lokal harga murah. Tapi jadi buat kalangan menengah ke atas di indonesia karena barangnya (ato paling tidak merknya) impor, harganya mahal. Kualitasnya?
    Last edited by ndableg; 27-10-2014 at 11:10 PM.

  8. #8
    tsu's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    Rainbow Trout
    Posts
    5,365
    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    Lucu ikea ini ya..
    Di eropa jadi barangnya menengah kebawah, karena mgk barang lokal harga murah. Tapi jadi buat kalangan menengah ke atas di indonesia karena barangnya (ato paling tidak merknya) impor, harganya mahal. Kualitasnya?
    sama kaya Zara dan Uniqlo kan ? disana merek terjangkau, disini kok mehong wkwkwkkwk

    anw, OT yah

  9. #9
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by tsu View Post
    sama kaya Zara dan Uniqlo kan ? disana merek terjangkau, disini kok mehong wkwkwkkwk ....
    Actually. nggak terlalu OT juga.
    Kalo harganya emang beneran mahal, nggak heran orang merasa perlu di layani.
    Seimbang dengan harganya.

    Harga IKEA Indo, jadi bahan ocehan anak Indonesia di kampus gue juga, sih.
    Soalnya, konyol kalo harganya jauh mahal.

    Kalo di sini, IKEA dan sejenisnya itu beneran tempat jualan barang murah. Kayak kata lagunya John Coulton, tempat belanjanya mahasiswa nggak punyaduit, dan duda baru cerai.
    Dan sering kita malah bisa tekan harga sampe 0, dengan nungguin orang buang second hand.
    Biasanya barang IKEA, nggak di angkut kalo pindahan. Di buang gitu aja. Saking murahnya.
    Last edited by TheCursed; 28-10-2014 at 09:01 PM.
    A proud SpaceBattler now.

  10. #10
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    gw mana pernah belanja di toko-toko model itu,
    baik Ikea, Informa dan sejenisnya....
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  11. #11
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Ikea dulu itu merk bagus dengan harga terjangkau di Eropa. Dulu.

    Masuk Indonesia dengan kurs sekian ya jatuhnya mehong. Saya peribadi mending beli furnitur jati yang tahan lama. Ikea menang model kayaknya.

    #belokfokus
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  12. #12
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    ikea jatuhnya mahal di indo, lebih mahal dari ikea eropa, dengan barang2 yang sama.
    buat kelas menengah atas kalau di sini.
    kalo kubilang sih lebih ke gengsinya, soalnya pada ngebandingin demgan ikea Singapore
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  13. #13
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Lagu kebangsaan IKEA.
    Dari John Coulton



    It is so catchy.
    Nggak tahan buat selalu humming ini lagu tiap kali ngangkut atau ngerakit furnitur merk IKEA. Atau yang bentuknya IKEA-ish.

    Also apparently selling furniture(and tasty cinnamon rolls) to superheroine and her sidekick.


    Last edited by TheCursed; 28-10-2014 at 03:51 AM.
    A proud SpaceBattler now.

  14. #14
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,168
    ikea apaan sih?

    #GwUdahKomenKanCha_n? #NdesoBintiUdikMampus #BiasaMakanDiWarteg

    btw makan trus beresin sendiri cuma kalau pas mamam junkfood di mcD di planet sebelah alias di BCP (Bekasong Cyber Park)

  15. #15
    pelanggan tetap Neptunus's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Posts
    1,814
    Saya beberapa kali nerapin budaya self-service ini. Terutama klo pas kondisi rame dan mesen sedikit. Apesnya, sempet dikira pelayan ama konsumen yg makan disitu gara2 cuma pake T-shirt polosan Rider.

    Nambahin: Budaya seperti ini justru aneh di kalangan tua. Orang yg ngirain saya pelayan itu semuanya ibu-ibu berumur. Kenapa ya budaya tsb ga familiar di kalangan tua?
    Last edited by Neptunus; 28-10-2014 at 10:41 AM.

  16. #16
    pelanggan setia et dah's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Location
    Land Between Solar Systems
    Posts
    3,911
    tp gw tertarik sih sama IKEA
    designnya oke imo

  17. #17
    pelanggan setia et dah's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Location
    Land Between Solar Systems
    Posts
    3,911
    imo kalau low budget diluar sana meski designnya bagus-bagus IKEA mass production makanya banyak yg ngga tertarik
    orang lebih milih beli furniture ke flea market yg meski barangnya bekas tp unik

  18. #18
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    sama di amrik. ikea populer di kalangan mahasiswa ato fresh graduate, yang masih kere
    kalo perabot rusak, pasti diomelin 'ah, ikea sih'
    tapi sepertinya skarang image itu udah lebih mendingan deh, ngga separah sekian taon yang lalu. kurasa ikea sudah berinisiatif memperbaiki imagenya itu.

    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Ikea dulu itu merk bagus dengan harga terjangkau di Eropa. Dulu.

    Masuk Indonesia dengan kurs sekian ya jatuhnya mehong. Saya peribadi mending beli furnitur jati yang tahan lama. Ikea menang model kayaknya.
    lha, jauh amat bandingannya jati kan mahal?
    barang2 ikea biasa pake 'ampas'nya kayu yang dikompres, jelas beda donk sama jati.
    you get what you pay for deh ya

    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    ikea jatuhnya mahal di indo, lebih mahal dari ikea eropa, dengan barang2 yang sama.
    buat kelas menengah atas kalau di sini.
    kalo kubilang sih lebih ke gengsinya, soalnya pada ngebandingin demgan ikea Singapore
    honestly saya agak surprised ikea baru masuk indo skarang.
    perasaan 10+ taon yang lalu ikea juga uda masuk malaysia

    dan point kamu di atas menurutku sangat ada benernya. ga usa ikea aja, mcd kfc pizzahut dan sebangsanya juga begitu kan di indo. saya inget dulu ada temen di indo yang heboh banget mengenai krispy kreme, padahal di amrik biasa2 aja. although i should also say, mcd kfc dll yang berada di region internasional memang kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan yang ada di amrik sendiri. saya demen mampir ke mcd di negara2 berbeda (karena menunya juga suka berbeda), dan memang keliatan bedanya dari segi kualitas. ntah lah apa itu juga teraplikasikan pada ikea juga ngga

    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    Itu yang dibold, Ikea bikin instruksi yang clear seperti itu kah? Ikea itu murah meriah, mbok asumsikan yang ke sana adalah orang menengah ke bawah. Yang udik mestinya ndak masalah dong membersihkan meja, membuang sampah dan menumpuk piring, wong di rumah juga biasa mengerjakannya sendiri. Kecuali di rumah ndak punya meja makan, makannya di depan tipi. Nah, jadi yang ndak mau beres-beres itu siapa? Orang kaya yang nyasar di Ikea kah, yang punya pembantu bersih-bersih di rumah? Kalau begitu ya salah Ikea-nya, kaum priyayi koq disuruh bersih-bersih.

    Sama seperti Chan nih. Baru juga terbiasa membersihkan meja sendiri pas magang di Indosat, baru juga kemaren lihat di Jepang budaya orang begini-begitu, tiba-tiba mengharapkan orang Indonesia melayani dirinya sendiri. Kedisiplinan orang Jepang dibandingkan dengan kedisiplinan orang Indonesia? Hello…

    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    Ah masa sih. Ngomongin piringnya ndak nyambung, ngomongin kedisipilinan orang Indonesia juga ndak nyambung. Jadi ini tret apa? Tret promo Ikea kah?

    Justru itu pointnya but you haven't got it. Even YOU took time to get used to the habit of cleaning after yourself. It even took you to Japan to learn about discipline. Now, what does it take to teach those people to clean after themselves and learn about discipline?? Shouldn't that be the question?

    Jangan seperti si penulis yang baru melek soal kebersihan lalu menulis artikel yang merendahkan bangsanya sendiri karena like it or not orang Indonesia sudah terbiasa hidup demikian, kasarnya hidup manja dengan sampah. Si penulis sendiri mungkin dulu juga manja dan jorok, who knows?

    Kalau memang care dan concern, kampanye lah, bikin gerakan Do It Yourself atau sejenisnya. Jangan cuma bisa mengkritik toh?
    Quote Originally Posted by Neptunus View Post
    Saya beberapa kali nerapin budaya self-service ini. Terutama klo pas kondisi rame dan mesen sedikit. Apesnya, sempet dikira pelayan ama konsumen yg makan disitu gara2 cuma pake T-shirt polosan Rider.

    Nambahin: Budaya seperti ini justru aneh di kalangan tua. Orang yg ngirain saya pelayan itu semuanya ibu-ibu berumur. Kenapa ya budaya tsb ga familiar di kalangan tua?
    mbok, kalo menurutku perlu dilihat2 background dan budayanya di indo. di eropa di amrik, mungkin ikea itu merek kelas bawah. tapi kalo ternyata di indo ga taunya ikea untuk kelas menengah keatas, then asumsi di atas ga bener. ya ga tau juga kenapa bisa jadi untuk kelas menengah ke atas, mungkin seperti yang tusc bilang, setelah dikonversi kurs, jatohnya jadi mahal untuk ukuran dompet indo kali.

    regardless, i'm not going to be too quick to judge tanpa mepertimbangkan budaya. kurasa ini sangat berperan besar.

    contohnya aja, kita orang asia udah terbiasa tanggalin sepatu di rumah. itu otomatis kita lakukan di rumah sapapun. alasannya praktis, untuk kebersihan. sedangkan bule ga ada budaya kaya gitu. saya kalo kedatangan tamu orang asia, ga pernah ada masalah dengan urusan itu. sedangkan kalo ada bule yang dateng, saya selalu musti kasi tau dulu supaya tanggalin sepatu. pernah pas ada acara kumpul2 di rumahku, padahal udah saya tempelin kertas gede di pintu untuk tanggalin sepatu, tetep aja ada yang ngga ngeliat dan masih ada yang pake sepatu ke dalam rumah. ini yang dibilang kandalf kali ya, budaya ga membaca in fairness, biasanya yang melewati message ini adalah orang2 yang keburu ber-hello-ria dengan tamu2 laen dan cipika cipiki sana sini, and conveniently missed the note on the door in any case, menurutku itu urusan kebiasaan dan budaya. bule ga ada asumsi bahwa kalo masuk rumah musti lepas sepatu

    likewise budaya clean after yourself. menurutku orang indo selama ini ngga ada praktek seperti itu, jadi ga ada asumsi bahwa di foodcourt etc musti beresin alat sendiri. emang dari dulu ga ada praktek itu. kalo ternyata ikea mulai tradisi ini, then give it time. biarkan info itu propagate (halah ) ke masyarakat.

    all in all, saya sih mendukung budaya clean after yourself ini ya. sama seperti budaya pembantu, we need to wean away from that
    Last edited by ndugu; 29-10-2014 at 04:28 AM.

  19. #19
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    mbok, kalo menurutku perlu dilihat2 background dan budayanya di indo. di eropa di amrik, mungkin ikea itu merek kelas bawah. tapi kalo ternyata di indo ga taunya ikea untuk kelas menengah keatas, then asumsi di atas ga bener. ya ga tau juga kenapa bisa jadi untuk kelas menengah ke atas, mungkin seperti yang tusc bilang, setelah dikonversi kurs, jatohnya jadi mahal untuk ukuran dompet indo kali.

    regardless, i'm not going to be too quick to judge tanpa mepertimbangkan budaya. kurasa ini sangat berperan besar.
    I don't give a sh1t if Ikea is for the lower or higher class.

    Yang mbok lihat ada tulisan mengkritik tanpa mengerti yang dikritik. So who's judging the Indonesians without thinking about their OWN culture?


    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    likewise budaya clean after yourself. menurutku orang indo selama ini ngga ada praktek seperti itu, jadi ga ada asumsi bahwa di foodcourt etc musti beresin alat sendiri. emang dari dulu ga ada praktek itu. kalo ternyata ikea mulai tradisi ini, then give it time. biarkan info itu propagate (halah ) ke masyarakat.

    all in all, saya sih mendukung budaya clean after yourself ini ya. sama seperti budaya pembantu, we need to wean away from that
    Lha.. mbok bilang juga give it some time, or what they call process, karena setiap orang butuh waktu untuk mencerna hal yang baru. Jangan belum apa-apa langsung mengkritik, ketahuan baru melek.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  20. #20
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by tsu View Post
    sama kaya Zara dan Uniqlo kan ? disana merek terjangkau, disini kok mehong wkwkwkkwk

    anw, OT yah
    Zara murah kalau beli di negara asalnya (Spain), meskipun gitu kalo dikurskan ke rupiah tetap jadi mahal bagi kantong kebanyakan orang Indonesia di Indonesia.

    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    lha, jauh amat bandingannya jati kan mahal?
    barang2 ikea biasa pake 'ampas'nya kayu yang dikompres, jelas beda donk sama jati.
    you get what you pay for deh ya
    Saya kan bicara dari segi harga yang katanya sama mahalnya. Kalo sama mahal mending beli jati, gitu loh. Kalo sama murah, mending beli Olympic?
    #cintaprodukindonesia

    regardless, i'm not going to be too quick to judge tanpa mepertimbangkan budaya. kurasa ini sangat berperan besar.
    kalo yang ini saya setuju banget. dari sudut pandang lain, saya kira ikea yang mestinya menyesuaikan dengan budaya lokal. kalo mau memaksakan budaya luar ke konteks lokal, yha siap-siap tidak sesuai target.

    likewise budaya clean after yourself. menurutku orang indo selama ini ngga ada praktek seperti itu, jadi ga ada asumsi bahwa di foodcourt etc musti beresin alat sendiri. emang dari dulu ga ada praktek itu. kalo ternyata ikea mulai tradisi ini, then give it time. biarkan info itu propagate (halah ) ke masyarakat.

    all in all, saya sih mendukung budaya clean after yourself ini ya. sama seperti budaya pembantu, we need to wean away from that
    Kembali ke konteks lokal, budaya clean after yourself di rumah makan memang bukan bagian dari budaya Indonesia. Lha pelayan berkeliaran di mana-mana. Kalo nggak ada lowongan pelayan rumah makan, yang pendidikannya rendah bakal banyak yang jadi pengangguran. Demikian juga pembantu. Beda lah dengan negara maju dan belum pas untuk sampai ke kesimpulan: kalo nggak begitu maka dianggap sebagai kesalahan.

    Point dari [MENTION=41]kandalf[/MENTION] juga menarik. Kurang budaya baca. Kalo pun terbaca, lihat-lihat dulu di sekitar ada nggak yang melaksanaken, kalo nggak ada ngapain dilaksanaken? Untuk Ikea sendiri, ya nggak cukup cuma pasang banner minta customer menaruh bakinya di situ. Sedari awal yang menyajikan makan mesti ngasi tau. Terus pasang gambar gede-gede sebagai contoh, bukan tulisan doang. Habis itu masih nggak mempan, pake cara lain sampe berhasil.



    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    I don't give a sh1t if Ikea is for the lower or higher class.

    Yang mbok lihat ada tulisan mengkritik tanpa mengerti yang dikritik. So who's judging the Indonesians without thinking about their OWN culture?
    Lha.. mbok bilang juga give it some time, or what they call process, karena setiap orang butuh waktu untuk mencerna hal yang baru. Jangan belum apa-apa langsung mengkritik, ketahuan baru melek.
    +1.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

Page 2 of 2 FirstFirst 12

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •