Results 1 to 14 of 14

Thread: Hati Merdeka (Trilogi Merah Putih #3)

  1. #1

    Question Hati Merdeka (Trilogi Merah Putih #3)


    Setelah Merah Putih, Darah Garuda, akhirnya seri ketiga dari film trilogi Merdeka tersebut, Hati Merdeka dirilis. Dengan melanjutkan kisah perjuangan para pasukan gerilya, Amir (Lukman Sardi), Dayan (Teuku Rifnu), Tomas (Donny Alamsyah), Marius (Darius Sinatrya), dan wanita satu-satunya Senja (Rahayu Saraswati), Hati Merdeka kembali memberikan suguhan sebuah film sarat nasionalis.

    Kisah dilanjutkan ketika mereka berhasil menyelesaikan misi yang berakhir tragis dengan kehilangan salah satu anggota kelompoknya. Namun kali ini kesetiaan kelompok ini kembali diuji dengan mundurnya pemimpin mereka, Amir. Meskipun ditinggal pemimpinnya para anggotanya justru tak gentar dengan melanjutkan kembali perjuangan yang telah mereka lakukan.

    Misi kali ini pun lebih berat, mereka harus pergi menuju Bali untuk membunuh Kolonel Raymer (Michael Bell), yang telah membunuh keluarga Tomas di awal trilogi ini. Tomas pun akhirnya dipilih untuk memimpin misi ini. Dengan menggunakan kapal pinisi mereka berjuang sampai tujuan yaitu Bali. Namun perjuangan mereka diuji dengan hadirnya kapal perang Belanda yang membombardir kapal mereka. Mereka pun tidak menyerah begitu saja, perjuangan untuk sampai Bali dilakukan sampai titik darah penghabisan demi menyelesaikan misi mereka, membunuh Raymer.

    Duet sutradara, Yadi Sugandi dan Connor Allyn sepertinya semakin kompak saja. Kepiawaian keduanya dalam menggarap dalam menyajikan film yang penuh ketegangan berhasil disajikannya. Apalagi di seri ketiganya ini mereka memberikan adegan pertempuran kapal perang di laut. Tentunya menjadi sebuah adegan yang jarang bisa disaksikan dalam film Indonesia.

    Lalu dari segi pemain juga semakin terlihat kematangan mereka dalam berakting. Tak perlu dipertanyakan lagi jika menyebut nama Lukman Sardi, berperan sebagai seorang pemimpin, Lukman tampak meyakinkan. Tak ketinggalan juga dengan peran Teuku Rifnu yang berperan sebagai pejuang yang bisu nyaris tanpa cela dalam memberikan suguhan akting yang nyata.

    Akhirnya film trilogi Merdeka ini pun berakhir. Tentunya menjadi suatu kebanggaan bagi Indonesia yang bisa menghasilkan sebuah film yang mempresentasikan perjuangan bangsa Indonesia. Hati Merdeka mulai tayang pada 9 Juni 2011.

    sambel
    you can also find me here

  2. #2
    pelanggan sejati Urzu 7's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    7,940
    Bagusan mana sama serbuan maut????

  3. #3
    kayaknya bagusan yg maut deh

    cuman ini kan konon katanya film lokal termahal sepanjang masa, dan kapan lagi film lokal bakal punya film perang lagi? ditengah gempuran hantu2an, film ini bak Inglorious Basterd
    you can also find me here

  4. #4
    pelanggan sejati Urzu 7's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    7,940
    Quote Originally Posted by E = mc² View Post
    kayaknya bagusan yg maut deh

    cuman ini kan konon katanya film lokal termahal sepanjang masa, dan kapan lagi film lokal bakal punya film perang lagi? ditengah gempuran hantu2an, film ini bak Inglorious Basterd
    maksud loe kayak dheraj,kkd,nayato dll dikumpulin jadi satu trus dibomb sama pejuang2 tsb

  5. #5
    Tapi kalau film perang Indonesia paling bagus:
    1. Soerabaia '45. (sumpah.. empat tahun lebih dulu dibanding Saving Private Ryan tetapi ada potongan2 kaki di antara ledakannya.. )
    2. Oeroeg

    Selain itu masih ada Pasukan Berani Mati yang dibintangi Barry Prima.

    Jujur aja, kayaknya dari trilogi Merah Putih, yang keren mungkin cuma yang kedua. Itu pun cuma di lima belas menit terakhir, pertempuran di bandara atau yang agak mendingan itu pertempuran pendahulunya, di dalam kota.
    Jadi gue harap yang ketiga membuktikan gue salah.

    Dari segi akting, yang pertama lumayan tetapi kurang greget (kecuali Donny Alamsyah dan Darius Sinaga dan tentu saja, Bli T. Rifku Wikana) sementara yang kedua, akting menurun sangat drastis. Atiqa Hasiholan bermain buruk di film ini. Untuk Bli T. Rifku Wikana masih keren di sini.
    Last edited by Lembah_Hinnom; 06-06-2011 at 01:45 PM.

  6. #6
    pelanggan sejati Urzu 7's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    7,940
    ^ wah sdh ntn yah mbah??

  7. #7
    Belum nonton yang ketiga, Zu, tetapi pasti nonton kalau udah muncul di bioskop terdekat.
    Aku baru nonton yang pertama dan kedua serta behind-the-scene-nya (dikasih wartawan di angkringan wetiga Langsat).

    Waktu nonton yang pertama, kecewa dengan adegan laganya. Lebih kecewa lagi setelah melihat Behind the Scene-nya karena ternyata adegan ledakannya sebenarnya keren tetapi gagal tertangkap oleh kamera. Jadi yang di behind the scene jauh lebih keren daripada hasil jadi.

    Waktu nonton yang kedua, akhirnya terobati di lima belas menit pertempuran terakhir. Sayangnya, malah akting pemainnya yang kedodoran banget dibandingkan yang pertama (padahal akting yang pertama juga gak bagus-bagus amat).

    Nah, yang ketiga, aku baru lihat trailernya dan jujur agak kecewa. Tapi konfliknya kayaknya nambah.

  8. #8
    ^ eh, trilogi ini sy rada keberatan dg dialog2nya yah? terllau kaku dan formil. terlihat bgt kesan kalo naskah aslinya dlm bahasa inggris lalu diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia sesuai EYD
    you can also find me here

  9. #9
    Tepat sekali, Kop Rumus.
    Sama seperti Merantau dan terakhir, Pirate Brothers, penulis trilogi Merah Putih adalah orang asing (Connor Allyn). Seperti halnya Merantau (dan konon Pirate Brother), karena dari budaya berbeda, ada beberapa gagap budaya sehingga terasa aneh. Namun untuk kasus Merantau, waktu dikonfirmasi ke sutradaranya, ia menyadari kesalahan-kesalahannya dan memang disengaja demi dramatisasi. Walau begitu, tetap saja membuat orang-orang macam suaminya May Cha_n ngomel-ngomel sepanjang film .

    Berbeda dengan Merantau, Bu Anne Ralie (Daiwanne Ralie) berhasil menerjemahkan dengan pas tulisan Gareth. Bahkan para aktor seperti Christine Hakim, Datuak Rajo Gampo Alam, Donny Alamsyah, bahkan si aktor baru non-Minang berhasil menambahkan aksen-aksennya (tetapi Iko ada beberapa adegan kelepasan logat Jakartanya ).

    Nah, di trilogi Merah Putih, sayangnya para aktor gagal me-non-formalkan dialognya padahal ada orang-orang macam Lukman Sardi. Itu sebabnya jempol buat Donny Alamsyah di trilogi ini yang logatnya cukup bikin senyum-senyum.

  10. #10
    ^ yg saya inget dr trilogi ini adalah yg di film kedua, Darah Garuda

    ada adegan di hutan, seorang pejuang pergi kecing dulu lalu bermaksud ngelawak, dg bertanya "merindukan saya?" pada temannya. LOL

    Dezzzzigghhhh.... di naskah aslinya, mungkin saja dialog ini ditulis, "you missed me?". Tapi, kecuali diucapkan oleh remaja gaul masa kini yang sok-sok Inggris, gurauan ini cuma bisa dilontarkan oleh mereka yang mencontohnya dari film Amrik. Mana ada coba orang-orang lokal mengucapkan gurauan seperti itu? Terlebih lagi ke sesama jenis. Sangat tak lazim. Di zaman perang pula.
    you can also find me here

  11. #11
    Yang film kedua, dialognya memang parah banget. Kalau yang pertama, walau buruk tetapi masih agak mending lah...
    Tetapi yang kedua, adegan pertarungannya di bagian terakhir akhirnya jadi keren.

    Sebenarnya, aku curiga kalau film trilogi Merah Putih tuh lebih dominan Margate House (si Connor Allyn) daripada Media Desa (si Hasyim).

    Nah, entah gimana yang ketiga.
    Lihat iklannya, konflik kayaknya nambah tetapi dialognya kok datar. Trus adegan tempurnya gak seseru yang kedua. Makanya aku pesimis. (tetapi tetap akan nonton kalau diputar di bioskop di kotaku).

  12. #12
    Barista false id's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Daily Bugle
    Posts
    1,047
    Gw ga suka film yang pertama dan kedua.. dialog2nya rancu banget, terlalu "hollywood", Udah kaya skrip bahasa inggris trus di translate ke Bahasa Indonesia, jadinya aneh. Tapi Gw tetep tertarik buat nonton yang ketiga karena penasaran akhirnya kaya gimana.

  13. #13
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Baru nonton semalam bersama Permandyan.

    Secara garis besar, akhirnya ini film yang bisa benar-benar dinikmati dari trilogi ini. Seharusnya dari awal filmnya seperti ini.

    Lubang cerita masih ada (banyak malah), kesalahan dialog/monolog masih ada (tak akan ada TNI yang menyebut dirinya sebagai pemberontak), kesalahan tata artistik masih ada (batu/patung pura yang tampak masih baru dicetak, pakaian pribumi yang terlalu bersih).

    Perbedaannya, diantara trilogi ini, film yang terakhir ini yang tampaknya lebih serius. Bahkan ada nuansa eksperimen (seperti kamera goyang/shaky camera) yang kadang berhasil, kadang gagal tetapi justru malah kuhargai daripada nanggung ala film pertama (yang gagal menangkap dahsyatnya ledakan).

    Adegan aksi memang tidak sespektakuler adegan bandara di film kedua tetapi berkat eksperimen kamera goyang, ditambah semrawutnya para pemain figuran berhasil menciptakan situasi perang. Berbeda dengan film pertama yang kelihatan kayak maen-maen.

    Adegan pertarungan di atas kapal (bukan pertarungan antar kapal tetapi di kapal yang sama), sebenarnya punya potensi. Kulihat koreografinya cukup apik. Sayangnya, kamera terlalu dekat sehingga tidak menangkap gerakannya, yah, sama seperti pertarungan Batman di Batman Begins, tak terlihat jelas. Tetapi sudah cukup bagus.

    Adegan favoritku justru adegan misi pertama. Di adegan ini, pacunya pas, jadi seperti Mission Impossible (bahkan pacu lambat namun tegang seperti ini sudah hilang sejak Mission Impossible 2) cukup membuatku tegang.

    Aku tahu beberapa adegan di film yang ketiga ini sebenarnya sudah disyuting dari awal karena aku pernah lihat di balik layar Merah Putih, misalnya adegan Marius bersimpuh di depan sang ibu tetapi ada adegan yang sama tetapi tampaknya berbeda, misalnya pas adegan pendaratan. Ada yang disyuting ulang, kah?

    Seperti yang dibilang seorang kawan di milis pecinta film, film ketiga ini menunjukkan bahwa film ini gak layak disebut trilogi, tidak ada kesatuan cerita kecuali karakternya. Menimbang bahwa justru di film ketiga ini keseimbangan elemennya baru tercapai, apakah tidak sebaiknya trilogi ini dilanjutkan? Toh, trilogi ini berhasil menciptakan karakter dan film ketiga tidak tampak seperti akhir cerita.

    Tinggal kumpulkan cerita misi-misi selama perang dari para veteran, buka-buka buku sejarah, dan ciptakan fiksi per misi tanpa harus dibebani pesan moral. Benar, tampaknya justru jangan dibebani moral muluk-muluk yang penting ada misi yang menarik, tambahkan bumbu konflik sedikit.

    Contoh misi-misi terutama yang hanya bisa dijalani oleh pasukan kecil yang bisa dijadikan cerita:
    - mengirim berita ke pulau lain yang sudah dikuasai Belanda, kalau perlu ada cameo Sjafruddin Prawiranegara;
    - membantu penyelundupan senjata (perang antar kapal lagi.. perang antar kapal di Hati Merdeka ini masih kurang bagus, kurang greget, jadi perlu ada perbaikan) kalau perlu ada cameo John Lie;
    - mengawal tokoh sejarah misalnya M. Hatta, Agus Salim, St. Sjahrir untuk perjanjian perundingan (film ini, walau bersetting 1948 tetapi gak ada salahnya mencampur sejarah sedikit / anachronism, toh fiksi ini);

  14. #14
    Barista Nharura's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Di Hatimu
    Posts
    5,072
    pengen nonton,, ni film faforit banget...

    suka... saat merah putih, darah garuda,, dan terakhir lihat trailernya,hati merdeka...

    setiap nonton pasti terharu.. hidup pejuang indonesiaa....



    wah mau nayri kasetnya......
    Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa

    "Sedekah Aja "

    Sastra - > Dear Diary Inspirasi

    Kucing - > Semua Tentang Kucing

    PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •