Baru nonton semalam bersama Permandyan.

Secara garis besar, akhirnya ini film yang bisa benar-benar dinikmati dari trilogi ini. Seharusnya dari awal filmnya seperti ini.

Lubang cerita masih ada (banyak malah), kesalahan dialog/monolog masih ada (tak akan ada TNI yang menyebut dirinya sebagai pemberontak), kesalahan tata artistik masih ada (batu/patung pura yang tampak masih baru dicetak, pakaian pribumi yang terlalu bersih).

Perbedaannya, diantara trilogi ini, film yang terakhir ini yang tampaknya lebih serius. Bahkan ada nuansa eksperimen (seperti kamera goyang/shaky camera) yang kadang berhasil, kadang gagal tetapi justru malah kuhargai daripada nanggung ala film pertama (yang gagal menangkap dahsyatnya ledakan).

Adegan aksi memang tidak sespektakuler adegan bandara di film kedua tetapi berkat eksperimen kamera goyang, ditambah semrawutnya para pemain figuran berhasil menciptakan situasi perang. Berbeda dengan film pertama yang kelihatan kayak maen-maen.

Adegan pertarungan di atas kapal (bukan pertarungan antar kapal tetapi di kapal yang sama), sebenarnya punya potensi. Kulihat koreografinya cukup apik. Sayangnya, kamera terlalu dekat sehingga tidak menangkap gerakannya, yah, sama seperti pertarungan Batman di Batman Begins, tak terlihat jelas. Tetapi sudah cukup bagus.

Adegan favoritku justru adegan misi pertama. Di adegan ini, pacunya pas, jadi seperti Mission Impossible (bahkan pacu lambat namun tegang seperti ini sudah hilang sejak Mission Impossible 2) cukup membuatku tegang.

Aku tahu beberapa adegan di film yang ketiga ini sebenarnya sudah disyuting dari awal karena aku pernah lihat di balik layar Merah Putih, misalnya adegan Marius bersimpuh di depan sang ibu tetapi ada adegan yang sama tetapi tampaknya berbeda, misalnya pas adegan pendaratan. Ada yang disyuting ulang, kah?

Seperti yang dibilang seorang kawan di milis pecinta film, film ketiga ini menunjukkan bahwa film ini gak layak disebut trilogi, tidak ada kesatuan cerita kecuali karakternya. Menimbang bahwa justru di film ketiga ini keseimbangan elemennya baru tercapai, apakah tidak sebaiknya trilogi ini dilanjutkan? Toh, trilogi ini berhasil menciptakan karakter dan film ketiga tidak tampak seperti akhir cerita.

Tinggal kumpulkan cerita misi-misi selama perang dari para veteran, buka-buka buku sejarah, dan ciptakan fiksi per misi tanpa harus dibebani pesan moral. Benar, tampaknya justru jangan dibebani moral muluk-muluk yang penting ada misi yang menarik, tambahkan bumbu konflik sedikit.

Contoh misi-misi terutama yang hanya bisa dijalani oleh pasukan kecil yang bisa dijadikan cerita:
- mengirim berita ke pulau lain yang sudah dikuasai Belanda, kalau perlu ada cameo Sjafruddin Prawiranegara;
- membantu penyelundupan senjata (perang antar kapal lagi.. perang antar kapal di Hati Merdeka ini masih kurang bagus, kurang greget, jadi perlu ada perbaikan) kalau perlu ada cameo John Lie;
- mengawal tokoh sejarah misalnya M. Hatta, Agus Salim, St. Sjahrir untuk perjanjian perundingan (film ini, walau bersetting 1948 tetapi gak ada salahnya mencampur sejarah sedikit / anachronism, toh fiksi ini);