-
pelanggan
Pak TS , penilaian , pengukuran pembandingan , itu harus ada tolok ukurnya , alat penilainya , ada standard pembandinya. Lha kalau kita mau menilai sifat Tuhan , apa tolok ukurnya , nialai pembandingnya , apakah ukuran manusia ? manusia yg mana pada strata kesadaran apa ,pada tatarn kearifan , pengetahuan mana ?
Dalam dunia manusia saja dikenal adanya adagium makin tinggi posisi seseorang makin luas cakupan pengamatannya , makin rendah makin sempit area pengamatannya. Nah kalau yg kita nilai itu entity tertinggi , lalu pada posisi mana akan bisa dicakup area pandang entity itu , sedang dia pada posisi yg tertinggi ? Berarti penilai pinya handicap untuk bisa menilai entity ini , ada area cakupan pandang yg tidak dikuasai oleh penilai thdp yg dinilai !
Mungkin bisa sedikit memberikan wawasan.
Oh ya sedikit tambahan , pemberi informasi mengenai "sifat" itu adalah entity tertinggi dan "harus" menggunakan idiom , kosa kata yg mampu dikuasai oleh strata yg lebih randah area pandangnya !
Apakah kosa kata yg tersedia untuk digunakan tsbt bisa meng cover secara utuh apa yg diwakilinya ? apa yg terkandung dalam kata " maha pengampun" , "maha adil" , " maha,..... , "maha........ dst dst itu totaly perfect untuk mewakili sifat sifat yg diwakilinya ? -----> itu juga suatu masalah !
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules