eh... ini bulannya udah lewat.. kok cuman dikit amat sih yang komen![]()
eh... ini bulannya udah lewat.. kok cuman dikit amat sih yang komen![]()
haha... lagi pada sibuk sih yak. maklum midyear *gaknyambung
sambil nunggu ilham buat ripiyu buku ini, silakan lanjut dg buku berikutnya di tret sebelah![]()
you can also find me here
The Color of Earth (Warna Tanah)
Warna Tanah. Buku pertama dari sebuah Trilogi ini memang betul menceritakan keintiman seorang ibu dan anak. Anak kecil yang boleh dibilang butuh pencerahan ini dan itu seiring perubahan fisiknya dan perubahan menjadi seorang wanita. Dengan setting lakon di masa lalu, di mana konon kisah ini dibuat berdasar kisah dari ibunya si Kim Dong Hwa. Kisah dengan tempo ritme yang perlahan, liris diceritakan dengan gaya puitis ala Korea dalam personifikasi atau deskripsi melimpah di buku ini.
Meski di pembuka cerita terkesan agak vulgar, tapi dengan sentuhan kisah cinta ala monyet dari ABG yang bernama Ehwa ini menjadi terkesan sahdu, mana kala Kim Dong Hwa berusaha membenturkan kisah cinta antara Biksu muda dengan Ehwa hanya dari perkenalan di sebuah jembatan kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu orang saja. Ide cerita sederhana namun sangat menyentuh dengan detail yang memikat. Adalah anak kecil yang mengalah berjalan mundur meniti jembatan hanya karena si biksu sudah meniti jembatan itu lebih jauh. Tapi kelanjutan dari kisah cinta itu, jelas bagi sang biksu kecil ini menumbuhkan kegelisahan tersendiri.
Bagaimana dengan ibu Ehwa? Perempuan ini juga tumbuh kisah cinta, yaitu pada seorang lelaki tukang gambar. Meski ibu Ehwa pemilik kedai minuman yang memiliki kemungkinan untuk bertemu dengan lebih banyak orang, namun dia lebih memilih menanamkan benih cintanya pada lelaki asing ini. Lelaki yang memikat dirinya dengan goresan kuasnya untuk menggambarkan arti nama Ehwa. Dan kuas itu ditinggalkannya di rumah Ehwa. Sebagai alasan, agar kelak dapat berkunjung lagi ke rumah itu sambil melepaskan penat.
to be continued.
haduuuh lagi2 belom tamat (baru 2 buku)
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India