Bahasa memang masih "serumpun" dgn bidang matematika, eksakta dan logika. Maksud saya, sama2 "adanya di otak kiri".

Celakanya, "otak kiri" itu memang kaku, saklek dan ndak kreatif. Kreatifitas itu adanya di "otak kanan".

Di tret lama saya pernah singgung bahwa sistem pendidikan dasar kita, khususnya tingkat SD-SMP, cengerung terlalu mengeksploitasi kemampuan otak kiri. Salah satu indikasinya adalah mapel yg diujikan dlm UN adalah hanya bidang Bahasa (IND dan ENG) dan eksakta (Matematika dan IPA).

"Pemisahannya" baru dilakukan di tingkat atas, baik dlm bentuk sekolah umum (SMA) dgn kejuruan (SMK) maupun penjurusan di kedua bentuk tsb. SMA lebih mengarah ke "knowledge" sedangkan SMK lebih untuk mengasah "skills", dgn jurusannya masing2.

Nah kalo dikaitkan dgn kurikulum, mestinya sistem kurikulum itu didalamnya harus bisa memadukan dan mengkoordinasikan antara otak kiri dgn otak kanan secara optimal, ndak menimbulkan ketimpangan2. Bahkan kalo perlu dan memungkinkan, aspek skills pun bobotnya perlu ditambah di tingkat dasar (SD-SMP). Mestinya itu bisa dilakukan. Salah satu indikasinya, saya inget Jokowi pernah bilang untuk lebih banyak menyisipkan, ini salah satu misal aja, aspek "budi pekerti" di setiap mata pelajaran termasuk pelajaran eksakta. Mungkin ada aspek2 lain (selain budi pekerti) yg bisa disisipkan di setiap mata pelajaran.

Entah bagaimana caranya, entah seperti apa bentuknya, bahkan entah itu memang benar bisa atau tidak, sepenuhnya saya serahkan pada pihak yg paling berkompeten yaitu Dinas Pendidikan beserta jajarannya maupun praktisi2 di dunia pendidikan yg mestinya memang pakar di bidang tsb.

Mungkin tidak selalu harus mengubah kurikulum (tiap) mata pelajaran itu sendiri, soale ini malah rawan diselewengkan dijadikan "proyek". Bisa saja cukup melalu "pembekalan" ke tenaga2 pengajarnya. No offense thd para guru lho. Mudah2an aja janji pemerintah (ini udah dari pemerintah yg dulu2) untuk meningkatkan kesejahteraan guru bisa terealisasi shg para guru pun bisa lebih concern dlm mengajar. Btw denger2 masalah Kurikulum 2013 kemarin pun banyak guru yg mengeluh soal pembekalan ini yg menurut mereka terlalu mepet dan minim. Jadi ya wajar aja kalo para guru pun jadi "gamang" dan jadi ndak bisa maksimal mengajarnya.