Page 7 of 9 FirstFirst ... 56789 LastLast
Results 121 to 140 of 163

Thread: Pilih langsung atau lewat wakil?

  1. #121
    Quote Originally Posted by nerve_gas View Post
    Ketika lembaga eksekutif di provinsi/kabupaten/kota akan diawasi oleh legislatif, maka harus ada proses elektoral/pemilihan yang sama di kedua lembaga tersebut. Berhubung salah satu fungsi dari legislatif di daerah adalah fungsi pengawasan, ya jadi aneh bin ajaib kalau dia yang memilih dan sekaligus dia yang mengawasi.

    Kalau skemanya seperti itu, kepala daerah ya jadi bertanggung jawab kepada DPRD, bukan kepada publik. Jadinya tinggal masalah cingcai2 untuk urusan legislasi dan anggaran.
    Penolakan massa terhadap pilkada diwakilkan dasarnya bukan itu. DASARNYA ADALAH KETIDAKPERCAYAAN RAKYAT KEPADA PARA WAKILNYA.

    Bayangin aja, DPR pusat aja kayak gini kualitasnya:
    http://m.metrotvnews.com/play/2014/0...as-anggota-dpr

    Primetime News: Wajah baru Anggota DPR-RI Periode 2014-2019 dari kalangan selebriti seperti Anang Hermansyah dan Krisna Mukti akan segera dilantik. Namun saat ditanyakan hak dan tugas jabatannya, mereka masih terlihat kebingungan, Selasa (30/9/2014).

    Ini bukan masalah "fungsi legislatif" atau jobdesk dalam struktur organisasi, tapi masalah KETIDAKPERCAYAAN.

    Buat saya nggak masalah kalo kepala daerah bertanggungjawab kepada DPRD, toh DPRD juga dalam konsepnya merupakan representasi rakyat. MASALAHNYA ADALAH, SEKALI LAGI, KETIDAKPERCAYAAN RAKYAT PADA PARA WAKILNYA. Itu aja.

    Twitter: @tingnongtingcer
    Blog: http://ishaputra.wordpress.com/

  2. #122
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,398
    Betul. Sependapat dengan Ishaputra.

    Bakal seru nih.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  3. #123
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,885
    Nah, kalo tidak percaya kenapa dipilih?
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  4. #124
    pelanggan sejati surjadi05's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    9,350
    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Nah, kalo tidak percaya kenapa dipilih?
    Karna
    A. Ga ada pilihan laen?
    B. Sekedar menunaikan kewajiban?


    Pertanyaan yg sama kenapa bayar pajak, padahal tahu yg paling menikmati juga gerombolan itu, tanpa hukuman tentu
    you meet someone
    you two get close
    its all great for awhile
    then someone stops trying
    Talk less, awkward conversations, the drifting
    No communication whatsoever
    Memories start to fade
    Then the person you know become the person u knew
    That how it goes. Sad isn't it?

  5. #125
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,885
    C. Ikut-ikutan
    D. Terkena rayuan gombal
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  6. #126
    pelanggan tetap Neptunus's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Posts
    1,814
    Sebenernya bukan cuma masalah ketidakpercayaan kepada DPRD. Jadi gini.... peran Kepala Daerah dan DPRD harus sama kuat agar skema 'check and
    balance' berjalan. Jika legitimasi DPRD
    dipilih rakyat, maka Kepala Daerah
    juga dipilih rakyat. Bagaimana mungkin
    terjadi keseimbangan (check &
    balance) itu apabila salah satu
    unsurnya punya basis legitimasi
    lebih lemah daripada yg lain?

  7. #127
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,900
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    DASARNYA ADALAH KETIDAKPERCAYAAN RAKYAT KEPADA PARA WAKILNYA.
    Ok, problemnya adalah DPR yg ga bener2 mewakili. Idealnya memang dalam sistem demokrasi semua diserahkan ke perwakilan di parlemen.
    Dan sepertinya kepercayaan tidak akan pernah ada selama kelakuan partai2 politik sudah seperti gang mafia semua.

    Maka dari itu pemilihan langsung masih jalan yg paling baik demi melumpati gang2 mafia tsb. Dengan memilih langsung maka gang2 mafia masih berusaha menarik hati rakyat dgn calon2 yg bermutu. Apabila memilih pemimpin diserahkan pada mafia, maka ga ada lagi tujuan menarik hati rakyat, melainkan menarik hati anggota2 mafia lain. (seperti kata lay nerve_gas)

    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Nah, kalo tidak percaya kenapa dipilih?
    Memilih biasanya karena kenal. Jadi yg berlaku di sini adalah ilmu marketing dan advertising.
    Memilih juga salah satu alasannya adalah harapan. Berharap kali ini akan berbeda. Selama masih idup semua boleh punya harapan.
    Last edited by ndableg; 02-10-2014 at 01:03 AM.

  8. #128
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,398
    Jiah… Dari kemaren-kemaren juga sudah mbok sindir. Kalau si Isha yang ngomong baru ditanggepin deh.

    Apa mbok mesti jadi si Purba dulu, kalau diskusi harus pakai testosterone gitu yak.

    Ndak heran isi DPR/DPRD juga begini. Doh.. Indonesia.. Indonesia
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  9. #129
    Quote Originally Posted by Neptunus View Post
    Sebenernya bukan cuma masalah ketidakpercayaan kepada DPRD. Jadi gini.... peran Kepala Daerah dan DPRD harus sama kuat agar skema 'check and
    balance' berjalan. Jika legitimasi DPRD
    dipilih rakyat, maka Kepala Daerah
    juga dipilih rakyat. Bagaimana mungkin
    terjadi keseimbangan (check &
    balance) itu apabila salah satu
    unsurnya punya basis legitimasi
    lebih lemah daripada yg lain?
    Iya, itu dari aspek jobdesk dalam struktur organisasi. Lah ini persoalannya fundamental banget: Rakyat tuh nggak percaya sama DPRD.

    Lagian, aspek jobdesk itu bisa "diputer-puter", nggak baku. Oke, DPRD memilih kepala daerah, dan kepala daerah bertanggungjawab kepada DPRD. So what? Sejauh konsep DPRD adalah representasi rakyat, maka kepala daerah sama saja bertanggungjawab kepada rakyat.

    Ketika kerja kepala daerah tidak becus, maka rakyat bisa komplain/menegur ke DPRD. Kerja dalam struktur organisasi tuh begitu. Kalo ada kuli bangunan kerja nggak pake standart pakaian yang safety (helm, boot, dsb), terus pimpinan proyek tsb tau, maka yang ditegur adalah mandor lapangannya, bukan si kulinya langsung. Karena si mandor yang tanggungjawab sama para kuli bangunan tsb. Mandorlah yang harusnya menegur si kuli, bukan pimpinan proyeknya. Jadi ada "rantai komando" di sini.

    ---------- Post Merged at 06:49 AM ----------

    Quote Originally Posted by surjadi05 View Post
    Karna
    A. Ga ada pilihan laen?
    B. Sekedar menunaikan kewajiban?


    Pertanyaan yg sama kenapa bayar pajak, padahal tahu yg paling menikmati juga gerombolan itu, tanpa hukuman tentu
    Nah itu dia. Kalo anda sadar bahwa rakyat saja tidak becus memilih para wakilnya sendiri, kenapa anda bisa percaya bahwa rakyat yang sama bakal becus memilih kepala daerah mereka sendiri?


    ---------- Post Merged at 06:57 AM ----------

    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    Ok, problemnya adalah DPR yg ga bener2 mewakili. Idealnya memang dalam sistem demokrasi semua diserahkan ke perwakilan di parlemen.

    Dan sepertinya kepercayaan tidak akan pernah ada selama kelakuan partai2 politik sudah seperti gang mafia semua.

    Maka dari itu pemilihan langsung masih jalan yg paling baik demi melumpati gang2 mafia tsb. Dengan memilih langsung maka gang2 mafia masih berusaha menarik hati rakyat dgn calon2 yg bermutu.
    Apabila memilih pemimpin diserahkan pada mafia, maka ga ada lagi tujuan menarik hati rakyat, melainkan menarik hati anggota2 mafia lain. (seperti kata lay nerve_gas).
    Kalo partai-partai politik sudah kaya gang mafia semua, KENAPA TETAP DIPILIH? Logikanya kan gini: Daripada para wakil rakyat yang berasal dari para mafia parpol tsb mengajukan calon presiden/kepala daerah yang "kelihatan bermutu" supaya dipilih rakyat, kenapa mereka tidak mencoba membangun "kesan bermutu" untuk partai-partai mereka dan para calon legislatif yang mereka usung terlebih dahulu?

    Kalo rakyat begitu peduli terhadap para calon kepala daerah yang "kelihatan bermutu", kenapa cara pikir ini tidak diterapkan pertama-tama untuk memilih partai dan caleg pada pemilu legislatif dulu?

    Intinya: Semua itu PILIHAN RAKYAT. Kenapa mesti dibedakan antara "rakyat memilih partai dan caleg" dengan "rakyat memilih presiden dan kepala daerah?"

    Semuanya PEMILIHAN LANGSUNG dan DIPILIH OLEH RAKYAT SENDIRI. Kenapa anda merasa bahwa rakyat tiba-tiba becus memilih kepala daerah, sementara sebelumnya mereka tidak becus dalam memilih partai dan para calegnya? Itu aja yang saya hermankan.

    Twitter: @tingnongtingcer
    Blog: http://ishaputra.wordpress.com/

  10. #130
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,049
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Semuanya PEMILIHAN LANGSUNG dan DIPILIH OLEH RAKYAT SENDIRI. Kenapa anda merasa bahwa rakyat tiba-tiba becus memilih kepala daerah, sementara sebelumnya mereka tidak becus dalam memilih partai dan para calegnya? Itu aja yang saya hermankan.

    Karena anggota DPR/DPRD belum ada yang dari independen..
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  11. #131
    Idealnya memang dalam sistem demokrasi semua diserahkan ke perwakilan di parlemen.
    Dan sepertinya kepercayaan tidak akan pernah ada selama kelakuan partai2 politik sudah seperti gang mafia semua.
    Ini benar kalo sistem negara kita parlementer. Lah, ini sistem negara kita kan presidensil. Jadi nggak pada tempatnya memilih pemimpin
    pemerintahan diwakilkan ke DPR/DPRD. Dirubah dulu sistem negara kita baru diserahkan pemilihan pada DPR.

    ---------- Post Merged at 08:06 AM ----------

    Oh iya, mungkin banyak yg nggak mau pemilihan lewat DPRD karna tidak percaya pada DPRD.
    Itu ya emang karena ketidak mengertian akan sistem negara kita. Gue sendiri sih alasannya
    ya agar imbang tuh kedudukan antara DPRD dan Pemerintahan eksekutifnya seperti halnya
    sistem predensial.

  12. #132
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Kok bahasannya jadi belok ke soal "sebab" yak?

    Dan kalo penolakan "Pilkada Tidak Langsung (PTL)" benar disebabkan karena alasan ketidakpercayaan kpd DPRD, lalu apakah berarti yg setuju PTL itu disebabkan karena alasan percaya pada DPRD?

    Ndak bisa disimpulkan sesimpel itu kalo menurutku...

    Mendingan coba dibandingkan scr "apple-to-apple" antara kedua cara tsb (langsung vs tidak langsung) dan dibedah satu-persatu apa dampak dan pengaruh baik-buruknya dari keduanya.

    ***
    Karena anggota DPR/DPRD belum ada yang dari independen..
    Setuju banget. :up:

    Faktanya memang dlm persoalan memilih pemimpin (bupati, walikota, gubernur bahkan presiden) anggota DPR/DPRD itu mewakili (kebijakan) partai, bukan (suara) rakyat. Indikasinya, satu fraksi selalu satu suara, kalopun ada yg beda itu sangat2 minoritas dgn resiko dipecat dr partai ybs.

    So, implikasi logis dari "Pilkada/Pilpres lewat DPRD/DPR/MPR" adalah "anggota DPR/DPRD/MPR tidak perlu dipilih oleh rakyat melainkan (diwakilkan) oleh partai". Tidak perlu ada "Pemilu (Anggota) Legislatif". Rakyat cukup memilih/mencoblos partai, dan partai yg akan memilih anggota DPR/DPRD/MPR. Cukup pemilu satu kali setiap lima tahunan. Simpel. Murah. Ndak ribet. Sekali lagi, itulah implikasi logisnya.

    Piye mas bro? Iseh penak jamanku tho? .

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  13. #133
    pelanggan sejati surjadi05's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    9,350
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Iya, itu dari aspek jobdesk dalam struktur organisasi. Lah ini persoalannya fundamental banget: Rakyat tuh nggak percaya sama DPRD.

    Lagian, aspek jobdesk itu bisa "diputer-puter", nggak baku. Oke, DPRD memilih kepala daerah, dan kepala daerah bertanggungjawab kepada DPRD. So what? Sejauh konsep DPRD adalah representasi rakyat, maka kepala daerah sama saja bertanggungjawab kepada rakyat.

    Ketika kerja kepala daerah tidak becus, maka rakyat bisa komplain/menegur ke DPRD. Kerja dalam struktur organisasi tuh begitu. Kalo ada kuli bangunan kerja nggak pake standart pakaian yang safety (helm, boot, dsb), terus pimpinan proyek tsb tau, maka yang ditegur adalah mandor lapangannya, bukan si kulinya langsung. Karena si mandor yang tanggungjawab sama para kuli bangunan tsb. Mandorlah yang harusnya menegur si kuli, bukan pimpinan proyeknya. Jadi ada "rantai komando" di sini.

    ---------- Post Merged at 06:49 AM ----------



    Nah itu dia. Kalo anda sadar bahwa rakyat saja tidak becus memilih para wakilnya sendiri, kenapa anda bisa percaya bahwa rakyat yang sama bakal becus memilih kepala daerah mereka sendiri?


    ---------- Post Merged at 06:57 AM ----------



    Kalo partai-partai politik sudah kaya gang mafia semua, KENAPA TETAP DIPILIH? Logikanya kan gini: Daripada para wakil rakyat yang berasal dari para mafia parpol tsb mengajukan calon presiden/kepala daerah yang "kelihatan bermutu" supaya dipilih rakyat, kenapa mereka tidak mencoba membangun "kesan bermutu" untuk partai-partai mereka dan para calon legislatif yang mereka usung terlebih dahulu?

    Kalo rakyat begitu peduli terhadap para calon kepala daerah yang "kelihatan bermutu", kenapa cara pikir ini tidak diterapkan pertama-tama untuk memilih partai dan caleg pada pemilu legislatif dulu?

    Intinya: Semua itu PILIHAN RAKYAT. Kenapa mesti dibedakan antara "rakyat memilih partai dan caleg" dengan "rakyat memilih presiden dan kepala daerah?"

    Semuanya PEMILIHAN LANGSUNG dan DIPILIH OLEH RAKYAT SENDIRI. Kenapa anda merasa bahwa rakyat tiba-tiba becus memilih kepala daerah, sementara sebelumnya mereka tidak becus dalam memilih partai dan para calegnya? Itu aja yang saya hermankan.

    Ahh gw mah simple aja, kalo pilkada langsung,kalo gw salah pilih gubernur/walikota, gw ikhlas terima akibatnya, nah kalo pilkada tidak langsung, orang laen yg salah pilih gubernur/,walikota masak gw yg ketiban sialnya
    Last edited by surjadi05; 02-10-2014 at 04:52 PM.

  14. #134
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Karena anggota DPR/DPRD belum ada yang dari independen..
    Calon kepala daerah juga rata-rata dari partai.

    Banyak opini kalian di sini didasari dari anggapan seolah-olah anggota DPR/DPRD itu "mak njegagig" duduk di kursi DPR/DPRD. Opini kalian seolah-olah kalau seorang caleg berasal dari partai adalah "najis", dan seandainya ada calon independen adalah "suci".

    "Caleg/capres independen" itu sebatas ybs tidak berafiliasi dengan partai, tidak lebih. Independensi tidak ada hubungannya dengan kualitas calon tersebut.

    Tidak berasal dari partai bukan berarti tidak bisa "berkongkalikongi" dengan partai, ya kan? Antar partai saja bisa kong kalikong, apalagi calon individu dengan partai.

    ---------- Post Merged at 04:43 PM ----------

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Kok bahasannya jadi belok ke soal "sebab" yak?

    Dan kalo penolakan "Pilkada Tidak Langsung (PTL)" benar disebabkan karena alasan ketidakpercayaan kpd DPRD, lalu apakah berarti yg setuju PTL itu disebabkan karena alasan percaya pada DPRD?
    Nggak juga, nggak begitu maksud saya. Karena, sebagaimana sudah saya bilang, persoalannya bukan apakah pilkada langsung atau tidak langsung, tapi kebodohan rakyat Indon.

    Ini bukan masalah sistem, tapi SDM/KUALITAS MANUSIANYA.

    Ibarat fotografi, nggak ada gunanya memperdebatkan lebih unggul mana antara Nikon dengan Canon, atau Rollei dengan Hasselblad, kalo si user-nya pada dasarnya nggak bisa motret babar-blas. Gitu...



    ---------- Post Merged at 04:46 PM ----------

    Quote Originally Posted by surjadi05 View Post
    Ahh gw mah simple aja, kalo pilkada langsung,kalo gw salah pilih gubernur/walikota, gw ikhlas terima akibatnya, nah kalo pilkada tidak langsung, orang laen yg salah pilih gubernur/,walikota masak gw yg ketiban sialnya
    Kalo "orang laen" yang milihin itu orang antah-berantah, bisa bener logika begitu. Lah "orang laen" yang milihin itu kan dipilih (baca: dipercaya) sama rakyat juga.



    Point saya simpel aja: Kalo rakyat belum becus milih wakilnya, kenapa bisa merasa becus milih kepala daerah?
    Twitter: @tingnongtingcer
    Blog: http://ishaputra.wordpress.com/

  15. #135
    pelanggan setia Yuki's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Buitenzorg
    Posts
    6,360
    bukan calon independen, melainkan proses pemilihan yg dikembalikan kepada legislatif

    memang, sebenarnya baik secara legislatif maupun secara langsung pun tetap para partai memegang peranan, karena walaupun langsung tetap sang calon akan diusung oleh partai

    permasalahan ini bagi saya bukanlah saya setuju atau tidak mau dipilih langsung atau tidak, walaupun para rakyat beranggapan jika dipilih oleh legislatif maka daya suap dan korupnya menjadi lebih dahsyat, menurut saya tidak juga, dipilih secara langsung pun tidak bisa dijamin tidak akan demikian

    yg jadi permasalahan di sini (sekali lagi bagi saya) adalah: motif

    motif untuk bersemangat menggolkan RUU Pilkada menjadi UU semata-mata untuk membalas dendam kekalahan pada pilpres yg lalu, mereka itu skenarionya begini: tidak bisa berkuasa di eksekutif kenapa tidak bisa berkuasa di legislatif?

    namun dari perjalanan pelik ini saya bisa memetik hikmah, cepat atau lambat ini dikarenakan kesalahan strategi dari partai pemenang pemilu yaitu PDIP sendiri, harusnya sang ketum menurunkan egonya lah barang sedikit, setelah menjadi pemenang, mbok ya para pemimpin partai yg lain disilaturahmikanlah satu-satu, hanya sekedar ngobrol-ngobrol basa basi sajalah, tidak perlu serba politik

    jika saja sang ketum PDIP tidak 'angkuh' seperti ini, mau 'mengayomi' partai-partai urutan kedua dan seterusnya, pastilah tidak terjadi seperti sekarang ini
    ELPHELT VALENTINE'S MARIONETTE.

  16. #136
    Inget, point saya bukan pro atau kontra pilkada langsung/tak langsung, tapi soal kebodohan masyarakat Indon yang BELUM BECUS BERNEGARA. Itu aja, simpel.

    Buat saya nggak masalah pilkada/pilpres langsung atau diwakilkan.

    Jadi para kalian di sini tidak perlu memaparkan argumentasi "betapa pentingnya pilkada langsung" kepada saya, salah sasaran. Point saya bukan membantah pilkada langsung.

    ---------- Post Merged at 04:52 PM ----------

    Quote Originally Posted by Yuki View Post
    yg jadi permasalahan di sini (sekali lagi bagi saya) adalah: motif
    Yang lebih pangkal lagi, adalah kebodohan rakyat Indon yang tidak becus memilih para wakilnya. Ya jadinya gitu....
    Twitter: @tingnongtingcer
    Blog: http://ishaputra.wordpress.com/

  17. #137
    pelanggan setia Yuki's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Buitenzorg
    Posts
    6,360
    tidak ada sangkut pautnya dengan pemilihan yg dilakukan oleh rakyat

    perilaku legislatif yg seperti ini sudah jamak dijumpai di mana-mana, bahkan di US sendiri bisa dilihat kebijakan sang presiden selalu dijegal oleh partai republik, mental seperti ini ada di mana-mana di negara yg menganut sistem demokrasi, apalagi yg benar-benar menganut parlementer, itu bisa lebih kasar lagi mainnya
    ELPHELT VALENTINE'S MARIONETTE.

  18. #138
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,885
    Segitu doang tidak ada tawaran solusi atau kritik yang membangun? Meh curcol ini
    Posting panjang2 kesimpulannya cuma seuprit mah semua juga bisa.


    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Ketika kerja kepala daerah tidak becus, maka rakyat bisa komplain/menegur ke DPRD.
    Kumplennya begimana enaknya, tong?
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  19. #139
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Inget, point saya bukan pro atau kontra pilkada langsung/tak langsung, tapi soal kebodohan masyarakat Indon yang BELUM BECUS BERNEGARA. Itu aja, simpel.

    Buat saya nggak masalah pilkada/pilpres langsung atau diwakilkan.

    Jadi para kalian di sini tidak perlu memaparkan argumentasi "betapa pentingnya pilkada langsung" kepada saya, salah sasaran. Point saya bukan membantah pilkada langsung.

    ---------- Post Merged at 04:52 PM ----------



    Yang lebih pangkal lagi, adalah kebodohan rakyat Indon yang tidak becus memilih para wakilnya. Ya jadinya gitu....
    Oh, kalo itu pointnya ya diajari donk rakyatnya biar pinter. Jangan cuma ngolok2 aja.

  20. #140
    Quote Originally Posted by Yuki View Post
    tidak ada sangkut pautnya dengan pemilihan yg dilakukan oleh rakyat

    perilaku legislatif yg seperti ini sudah jamak dijumpai di mana-mana, bahkan di US sendiri bisa dilihat kebijakan sang presiden selalu dijegal oleh partai republik, mental seperti ini ada di mana-mana di negara yg menganut sistem demokrasi, apalagi yg benar-benar menganut parlementer, itu bisa lebih kasar lagi mainnya
    Logika yang sama juga berlaku untuk pemilihan kepala daerah/presiden secara langsung. Emang kalo memilih kepala daerah/presiden secara langsung, bisa bebas dari hal-hal semacam itu?

    ---------- Post Merged at 05:51 PM ----------

    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Segitu doang tidak ada tawaran solusi atau kritik yang membangun? Meh curcol ini
    Posting panjang2 kesimpulannya cuma seuprit mah semua juga bisa.



    Kumplennya begimana enaknya, tong?
    Mikirlah sendiri, kan situ sudah dijatah otak seorang satu.

    Kalo pake otak sendiri aja nggak bisa, kok sudah merasa mampu/kapable untuk milih calon kepala daerah/presiden sendiri?

    ---------- Post Merged at 05:52 PM ----------

    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Oh, kalo itu pointnya ya diajari donk rakyatnya biar pinter. Jangan cuma ngolok2 aja.
    Wani piro?
    Twitter: @tingnongtingcer
    Blog: http://ishaputra.wordpress.com/

Page 7 of 9 FirstFirst ... 56789 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •