Jadi bener "iseh penak jamanku mbiyen", tho? Rakyat coblos Partai -> Partai pilih DPR/DPRD -> DPR/DPRD pilih Presiden dan Kepala Daerah.
Oke sekarang kita coba bandingkan antara "Pileg vs Pilkada" pake "logika yg sama". Saya comot salah satu "inti" dari pernyataan sampeyan di topik ini...:
Mari kita bandingkan kameranya eh maksudku sistem dan mekanismenya antara "milih wakil" (Pileg) dgn "milih kepala daerah" (Pilkada).
Dlm setiap Pilkada Langsung, setiap kali masuk bilik suara orang akan langsung buka surat suara seukuran A4 berisi 234 eh maksudku 2, 3 sampe 4 pasangan calon. Orang relatif mudah untuk tahu profil dari calon2 tsb krn memang ndak sulit untuk didapatkan (lewat media misalnya) shg dia bisa millih salah satu pasangan calon dgn sadar-sesadarnya memang pasangan itulah yg dipilihnya.
Lalu bandingkan dgn Pileg Langsung...
Setiap masuk bilik suara seseorang akan membuka
surat suara seukuran koran jadul berisi gambar2 selfie eh foto wajah dari (mungkin) lebih dari 100 jumlahnya dan salah satunya harus dicoblos.
Lha trus gimana masyarakat mesti pelajari profil dari 100 wajah tsb sebelum memutuskan bahwa dia memilih salah satu caleg terbaik diantara seratusan caleg tsb? Itu sama aja memaksa seseorang merem sambil ngitung bunyi tokek untuk menentukan caleg mana yg dipilih. Kalopun orang itu nyoblosnya sambil melek paling2 dia akan coblos "public figure" yg paling dia tahu. Maka ndak heran kalo akhirnya misallnya Anang Hermansyah ato seleb2 yg lain, bahkan seorang Titik anaknya mbah Harto, yg akhirnya terpilih sbg anggota legislatif.
Lalu dimana logikanya "hasil jepretannya bisa bagus kalo kameranya abal2 begitu"? Mosok yg disalahin potograpernya eh masyarakat pemilihnya.
So, poin saya,
"ketidak-becusan" masyarakat dlm memilih anggota legislatif itu ndak bisa "disamakan logikanya" dgn dlm hal memilih kepala daerah.
Herman saya dgn logika sampeyan.
