Keterangan petanya dimanipulasi.Ketauan ente gak ngerti sejarah babar-blas.
Berikut penjelasan saya terhadap peta tersebut satu-per-satu:
Peta 1946: Warna putih dan hijau menunjukkan komposisi demografi/pemukiman penduduk, bukan batas negara atau batas politik-administratif. Warna putih adalah wilayah yang ditinggali etnik Yahudi, dan yang hijau adalah wilayah yang ditinggali etnik Arab. Ada catatan kecil di sini, bahwa dalam peta tersebut Gurun Negev diwarnai hijau. Hal ini dapat mengecoh opini publik (dan sepertinya tujuannya memang itu) bahwa Gurun Negev “dihuni etnik Arab”. Padahal, itu gurun gersang yang relatif tak berpenghuni. Gurun Negev diwarnai hijau agar “penduduk Arab” terkesan besar, sehingga daerah putih akan tampak begitu kecil. Ini salah satu pemelintiran fakta.
Peta 1947: Berbeda dengan peta sebelumnya, warna putih dan hijau di sini adalah batas yang diproposalkan oleh PBB 1947, bukan komposisi demografi. Di dalam wilayah berwarna putih, tetap saja ada penduduk Arab, tapi mayoritasnya Yahudi (538 ribu Yahudi berbanding 397 ribu Arab, sumber: http://www.jewishvirtuallibrary.org/...tion_plan.html
Perhatikan kembali dengan seksama peta 1947, dan lupakan warna yang dapat dan memang sengaja dibuat untuk mengecoh opini publik. Silakan anda bandingkan border 1947 dengan peta sebelumnya 1946. Akan terlihat bahwa di dalam wilayah yang berwarna putih akan didominasi oleh Yahudi, dengan perbandingan 538 ribu Yahudi berbanding 397 Arab. Cukup logis.
Peta 1948 – 1967: Adalah perubahan batas negara/batas politik-administratif yang diakibatkan oleh perang 1948. Warna putih adalah border Israel yang baru (bukan menunjukkan komposisi demografi), karena memenangkan perang 1948.
Dalam peristiwa ini terjadi pengungsi besar-besaran penduduk Arab-Palestina yang sebelumnya tinggal di dalam border Israel versi partisi 1947, ke luar Israel. Sehingga menyebabkan komposisi demografi berubah. Posisi pengungsi Arab-Palestina (yang seandainya tidak terjadi perang akan menjadi WN Israel) yang terusir keluar karena perang, diisi oleh pengungsi Yahudi yang juga terusir keluar dari negara-negara Arab. Komposisi demografi berubah, batas negara pun berubah.
Dalam peta ini, terdapat lagi-lagi pemelintiran fakta. Wilayah hijau pada gambar tersebut tetap ditulis “Palestine”, padahal jelas, dalam konteks tahun tersebut wilayah yang hijau bukan “Palestine”, tapi Yordania (Tepi Barat) dan Mesir (Gaza). Selepas perang 1948 terjadi perubahan wilayah yang cukup signifikan, berbeda jauh dari wilayah yang diproposalkan PBB tahun 1947. Wilayah Israel meluas, demikian juga wilayah Mesir dan Yordania. Israel, Mesir dan Yordania mencaplok wilayah Arab-Palestina yang diproposalkan oleh PBB 1947.
Sebelum masuk ke bagian peta selanjutnya, ada perlunya saya terangkan peristiwa yang terjadi di antara peta 1948-1967 dan peta 2012.
Tahun 1967 terjadi lagi perang besar antara koalisi Arab dan Israel. Lagi-lagi dimenangkan Israel. Tepi barat yang sebelumnya bagian dari Yordania, direbut Israel. Gaza yang sebelumnya bagian dari Mesir, juga direbut Israel. Adapun wilayah-wilayah lain yang direbut Israel pada perang 1967 adalah Sinai (Mesir) dan Dataran Tinggi Golan (Syria). Akhir 1970 Israel mengembalikan Sinai kepada Mesir dalam perjanjian damai di Camp David.
Setidaknya sejak 1967, di wilayah ex-Jordan dan ex-Mesir yang diduduki Israel, terjadi gerakan yang berlandaskan “nasionalisme palestina” yang memiliki tujuan “merdeka dari Israel”. Singkat cerita, pada 1993 Israel mengadakan perjanjian damai di Oslo dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Pihak Israel waktu itu dipimpin PM Yitzak Rabin, dan pihak PLO oleh Yasser Arafat. Adapun yang berfungsi sebagai penengah waktu itu adalah Presiden AS Bill Clinton. Hasil perjanjian itu adalah Israel sepakat memberikan semacam otonomi khusus pada masyarakat di Tepi Barat dan Gaza yang dipimpin oleh Yasser Arafat.
Pada bulan September tahun 2005, terjadi perkembangan yang cukup signifikan dalam konflik ini, yaitu bahwa Israel mundur total dari Gaza. Artinya, semua tentara dan pemukiman Yahudi ditarik mundur keluar dari wilayah Gaza. Praktis, sejak itu Gaza merdeka. Wilayah Otoritas Palestina meluas.
Peta tahun 2012: Yang hijau menunjukkan wilayah Otoritas Nasional Palestina yang ditetapkan dalam Oslo Accord 2003 (berlokasi di tepi barat exJordan dan Gaza ex-Mesir). Tepi Barat diambil Israel bukan dari “palestina”, tapi dari King Hussein, Raja Yordania pada tahun 1967. Gaza diambil Israel dari Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir, dalam tahun yang sama.
So, mana “palestina” yang diambil Israel? Tidak ada! Peta tersebut dapat menyesatkan opini publik awam karena merancukan antara demografi dengan batas negara.
Gambar 1 adalah komposisi demografi antara penduduk Arab dan Yahudi (bukan antara penduduk Palestina dan Yahudi).
Sedangkan gambar 2, 3, dan 4 adalah batas negara (batas politis-administratif). Tapi semua dipukul rata dengan warna hijau dan putih yang bisa mengecoh opini publik. Ini jelas pendistorsian fakta.
---------- Post Merged at 08:40 AM ----------
Kesalahan bangsa Arab adalah menolak Partisi PBB 1947. Andai mereka menerima partisi tersebut, "Palestina" akan mendapatkan wilayah seperti pada peta 1947 dan sudah merdeka untuk kesekian puluh kalinya sekarang ini.
http://www.reuters.com/article/2011/10/28/us-palestinians-israel-abbas-idUSTRE79R64320111028
Abbas faults Arab refusal of 1947 U.N. Palestine plan
"(Reuters) - Arabs made a "mistake" by rejecting a 1947 U.N. proposal that would have created a Palestinian state alongside the nascent Israel, Palestinian President Mahmoud Abbas said in an interview aired on Friday".
Silakan dipelajari lagi sejarahnya.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)





Ketauan ente gak ngerti sejarah babar-blas.
Reply With Quote