ya, menarik ini. Perizinan tuh basah. "Konsultasi" itu ada harganya. Gw setuju ini.

1. Indonesia birokratis mampus, pelayanan publik rata2 itu panjaaaaang prosesnya. Kecenderungannya birokrat itu tumbuh melebar, bukan 'lean management'. Ada banyak "Meja" kanan-kiri dengan setoran macem2 seperti di Samsat. Tidak jarang ditemukan duit 10-20 ribu di-clip di berkas pemohon. Ini kita bilang "lumrah" dengan budaya korupsi yg kronis gini. Kesan gw, mungkin pada bisa setuju, makelar bayangan/unofficial juga turut memudahkan proses berkas. Namun, yg gw expect sebenarnya; okelah beaya proses jadi mahal, tapi paling nggak kan 'kudunya' bisa sedikit lebih cepat, atau dapat diprediksi kapan selesainya. Time = money, kan?

Waktu jd konsultan pemda, gw sempat nimbrung evaluasi kinerja PTSP. Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Ini muara dari perijinan untuk macem2 usaha/kegiatan. Ide-nya adalah mengumpulkan fungsi dan wewenang yg selama ini di SKPD, di-pool di PTSP.
Hambatannya? SKPD banyak yg gak ikhlas lepas, karena yah tau sendiri, sekali proses perizinan yah itu artinya $$. PTSP prosesnya transparan dan profesional, ada digital platform, web-database, SOP jelas, SPM tinggi. Staffing kayak model perbankan. Ini contoh reformasi sistem birokrasi yang lumayan lah bagus, karena hasilnya dapat dilihat dg data jelas, portfolio akuntabilitas tinggi. Beda dengan uang2 siluman itu.
Akhirnya, secara bertahap dan lobby2 pejabat teras, baru bisa didapatkan lebih banyak perizinan SKPD yg dilepas, dan di-manage oleh PTSP. Kalo ndak salah, potensi perizinan 180an, yg dapat di-proses yah cuman 80-90an. Durasi proses? gw sempat hitung 2-4 hari lebih cepat. Makanya gw sangat setuju sekali bila kerjaan di sektor pelayanan publik tuh di kerjasama kan dengan swasta. Pemerintah pusat/pemda cuman modalin anggaran dan kebijakan aja, kagak usah maen2 mata, murni berperan jadi wasit bukannya striker, gocek sana-sini nyetak duit gol.

2. Gw setuju model birokrasi Eropa, AU ataupun US lebih transparan. Mereka juga ribet, banyak 'check-point', tpi berani transparan, sehingga duit2 siluman ndak banyak beterbangan. Justifikasi item anggaran tuh rigid, detail bngt, dan pasti dipertanyakan dan didukung fakta/analisa kebutuhan yg real. Ini gw ngerti banget. Standarisasi kinerja organisasi di pemerintah yg ngacu ke ISO kan memang gitu. Dokumentasi rapi, bikin database gak bisa asal-asalan.