^ gw jg setuju.

Liberalisme yg mengacu pada pemisahan agama dan negara, notabene adalah perkawinan antara hukum dan negara. Beruntung, ada Pancasila yg melindungi keyakinan WN, dan itu dah cukup sampai ke situ. Jadi, 5 orang indo beragama beda-beda itu pada intinya gak harus melihat bedanya dimana dan saling membenturkan ideologi. Ndak kyk gitu, justru lihat yang sama, common ground dan kebutuhan sosial-nya apa. Approach-nya kan gitu, jadi masuk akal kalo usulan infrastruktur rumah ibadah itu di-satu-tempat-kan. 1 Gedung buat rame-rame. Kelola dengan baik. (Trend-nya ibadah di ...Hotel, lengkap dengan restoran utk perjamuan)

Pemahaman ini diterima Gus Dur dan GP Ansor, demikian jg dengan PGI. Yang terjadi di level komunitas dan regional, itu kan cuman kurang koordinasi. Padahal biasanya jg lumrah klo ada acara gereja berskala kecil-besar diadakan, yg jaga parkiran dan bantu2 keamanan yho...bocah2 banser GP Ansor, bukannya preman mercenary nasrani kyak KOTIKAM (komando inti keamanan); pace ambon, kei dorang.. Yahhh beda orientasi, satu bertujuan kerukunan umat, satu mengabdi pada Mammon (Duit).

si GPK (gerakan pemuda kabah) yg kontes unjuk gigi di Jogja kemaren kan aslinya gak terlalu pengaruh, ndak ada gaungnya melakukan aksi operasi ini itu, nutup greja, sweeping miras dll. Kalo FPI memang dri dulu terbatas ruang geraknya di Jogja, meskipun di asuh finansial ma Prabowo. Tapi GPK, they were nothing. Buat gw seh, a bunch of punks trying to prove a point. Dan poinnya bukanlah liberalisme, apalagi ...pluralisme. Dampaknya? Jogja sepi penggemar, tourisme turun, pendapatan turun. Nyari bir di kota susah, industri party dan maksiat omzet jatuh. Pengaruhnya ke inflasi daerah bisa dicek disini: http://tpid-diy.org/

So jelas kan, kenapa konflik anti-liberalisme tuh implikasi nya rruuaarr biasa ke perekonomian daerah.
konflik = cost, kerukunan = saving.

so, savings kita ...boochooorrr bochoorrr....!