Results 1 to 20 of 40

Thread: Kenapa Takut Dengan “Liberalisme?”

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    ngga setuju....
    gw bukan Xavier yang bisa bermain di tataran astral

    Yang penting saya tidak pernah ngancurin tempat ibadah orang dan sejenisnya. Tidak seperti ormas agama damai yang satu itu.
    keknya yang terjadi itu ngancurin bangunan tanpa IMB
    deh
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  2. #2
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    ngga setuju....
    gw bukan Xavier yang bisa bermain di tataran astral


    keknya yang terjadi itu ngancurin bangunan tanpa IMB
    deh
    Yang ini maksudnya:

    Wakil Ketua I Komnas HAM Imdadun Rahmat mengatakan, apabila pembongkaran rumah ibadah mengacu pada IMB (izin mendirikan bangunan), akan ada banyak rumah ibadah yang bisa dibongkar.

    "Perlu kalian ketahui, 85 persen rumah ibadah di Indonesia itu tak berizin. Mayoritas adalah masjid dan musala. Kalau pakai IMB sebagai acuan, siapin saja buldozer yang banyak," kata Imdadun kepada Tempo, Selasa, 9 April 2013.

    Sumber:
    http://www.tempo.co/read/news/2013/0...adah-Dibongkar

    Note: Saya setuju tiap bangunan harus ada IMB. Tapi untuk kasus gereja, sebenernya soal IMB cuma justifikasi hukum supaya penolakan bangunan terkesan legal. Akar masalahnya adalah kebencian umat Islam fanatik terhadap aktifitas kegiatan Kristen di lingkungan mereka, karena khawatir masyarakat muslim AKAN TERPENGARUH oleh agama Kristen. Tidak semua lingkungan muslim begitu, tapi ketika ada kasus begitu, dasarnya adalah kebencian dan ketakutan akan pengaruh Kristen.

    Okelah, ada gereja gak pake IMB. Laporkan aja ke aparat berwenang/pemda setempat. Issue-nya adalah issue hukum, bukan agama. Lha ini, ada gereja gak pake IMB, tapi yang demo atribut Islam semua. Ketauan tendensinya emang menolak gereja.

    Giliran masjid gak pake IMB, pada diem aja. Giliran ada rumah jadi kantor, toko, dsb, pada diem aja. TANYA KENAPA?
    Twitter: @tingnongtingcer
    Blog: http://ishaputra.wordpress.com/

  3. #3
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Note: Saya setuju tiap bangunan harus ada IMB. Tapi untuk kasus gereja, sebenernya soal IMB cuma justifikasi hukum supaya penolakan bangunan terkesan legal. Akar masalahnya adalah kebencian umat Islam fanatik terhadap aktifitas kegiatan Kristen di lingkungan mereka, karena khawatir masyarakat muslim AKAN TERPENGARUH oleh agama Kristen. Tidak semua lingkungan muslim begitu, tapi ketika ada kasus begitu, dasarnya adalah kebencian dan ketakutan akan pengaruh Kristen.

    Okelah, ada gereja gak pake IMB. Laporkan aja ke aparat berwenang/pemda setempat. Issue-nya adalah issue hukum, bukan agama. Lha ini, ada gereja gak pake IMB, tapi yang demo atribut Islam semua. Ketauan tendensinya emang menolak gereja.

    Giliran masjid gak pake IMB, pada diem aja. Giliran ada rumah jadi kantor, toko, dsb, pada diem aja. TANYA KENAPA?
    Kenapa gak protes?
    Saya sendiri, walau bukan Kristen, walau gak demo, gak pernah pasang status di fesbuk, tetapi tiap kali lewat daerah Blok M beberapa kali cerita ama sopir taksi bagaimana Pasaraya 'mengambil' lahan gereja Effatha. Cuma sebagai yang bukan jemaat ya, cuma segitu saja sih.. nyampaikan uneg-uneg doang kepada orang gak dikenal.


    Sekarang balik lagi ke soal gereja. Problem gereja adalah, tempat parkir.
    Kita nyaris gak pernah masalah dengan pura hindu atau wihara Buddha atau kelenteng Kong Hu Chu.
    Tentu saja masalah 'kecemburuan antar agama' emang ada.

    Tapi ini sebenarnya bukan masalah 'anti liberalisme' murni.
    Last edited by kandalf; 16-06-2014 at 10:50 AM.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  4. #4
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    ...
    Apapun paham/sistem yang bisa menjamin kebebasan individu, saya sebut "liberalisme". Dan begitu pun sebaliknya.
    Pernah baca novel 'V for Vendetta' ?
    Atau nonton seri Aeon Flux ?

    secara umumnya aja, dengan Liberalisme, bebas itu masih ada rule dan ruler yang mengatur agar kebebasan satu individu tidak bersinggungan dengan kebebasan individu lain.
    Kalo seandainya nggak rule dan ruler, maka ngga' akan ada juga yang namanya hukum dan aparatnya. Kenyataannya, negara paling liberal sekalipun masih punya pulisi, kan ?
    So, kalo kamu 'jualan' liberalisme sebagai epitome ideologi yang menjamin kebebasan... welp, gue yang ngikutin paham anarki ngeliatnya, it's just adorable.

    Dan soal 'Takut'-nya sejumlah komunitas terhadap paham liberal sendiri. Gue punya ide sendiri tentang hal tersebut, yang gue dapet dari diskusi live langsung dengan orang2 yang oposan, pro, maupun 'don't care'.
    Tapi berhubung ini ide lebih berat di muatan kesimpulan pribadi gue, so, nggak layak masuk dalam lingkungan diskusi ini.

    ---------- Post Merged at 11:08 PM ----------

    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Kenapa gak protes?
    Saya sendiri, walau bukan Kristen, walau gak demo, gak pernah pasang status di fesbuk, tetapi tiap kali lewat daerah Blok M beberapa kali cerita ama sopir taksi bagaimana Pasaraya 'mengambil' lahan gereja Effatha. Cuma sebagai yang bukan jemaat ya, cuma segitu saja sih.. nyampaikan uneg-uneg doang kepada orang gak dikenal.

    Sekarang balik lagi ke soal gereja. Problem gereja adalah, tempat parkir.
    Kita nyaris gak pernah masalah dengan pura hindu atau wihara Buddha atau kelenteng Kong Hu Chu.
    Tentu saja masalah 'kecemburuan antar agama' emang ada.

    Tapi ini sebenarnya bukan masalah 'anti liberalisme' murni.
    IMHO, masalah konflik pembangunan rumah ibadah ini less tentang 'liberal vs nggak liberal', dan lebih banyak pada pemerintah kita yang gagal dalam menegakkan hukum.
    Kalo seandainya hukumnya jalan, yang mau bangun rumah ibadah, tinggal ajukan ijinnya aja, kan ? kalo berdasarkan syarat hukumnya terpenuhi, ya silahkan bangun. Masyarakat sekitar mau nge-bully, silahkan berhadapan dengan aparat hukum. Bagi yang nggak suka, silahkan 'berjihad' lewat jalur pangadilan. That's it, That's all. Seharusnya.
    Tapi berhubung masalah kayak gini bakalan terkait sama pemilihan anggota legislatif, kepala daerah dan sejenisnya, dan mentalitas masyrakat kita yang masih 'berani karena banyak' dan vice versa, soooo.... yeah....
    Last edited by TheCursed; 17-06-2014 at 12:18 AM.
    A proud SpaceBattler now.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •