But these views are loudly disputed. A petition signed in April by 34 Indonesian archaeologists and geologists and submitted to Yudhoyono agrees that the upper part of Gunung Padang is ''the largest megalithic structure in south-east Asia'', but the experts are deeply suspicious of the Arif team's methods and motives, and the geological flag-waving it is trying to invoke.
The petitioners do not like Arif's ''plans to involve common people as volunteers to support the 'the Red and White Glory Operation in Gunung Padang' which they call 'research'''. Red and white are the colours of the Indonesian flag. ''This activity is carried out without scientific norms of conservation knowledge,'' the petitioners say. They believe the excavation threatens the preservation of the existing site, and hint strongly that archaeologists, as opposed to geologists, should be involved. One of them, vulcanologist Sutikno Bronto, says Gunung Padang is simply the neck of a nearby volcano, not an ancient pyramid.
''Danny Hilman is not a vulcanologist. I am,'' he says. As for the carbon-dated cement between the stones, on which Hilman relies for his claims about the age of the site, Sutikno believes it is simply the byproduct of a natural weathering process, ''not man-made''.
Other sceptics are even tougher. One archaeologist, who does not wish to be named since the President took such an interest, says the presidential taskforce is deluding itself.
''In the Pawon cave in Padalarang [about 45 kilometres from Gunung Padang], we found some human bones and tools made of bones about 9500 years ago, or about 7000 BCE. So, if at 7000 BCE our technology was only producing tools of bones, how can people from 20,000 BCE obtain the technology to build a pyramid?'' the archaeologist asks.
Saya terjemahkan
Tapi pandangan ini mengundang penentangan keras. Sebuah petisi yang ditandatangani pada bulan April sebesar 34 arkeolog dan ahli geologi Indonesia dan disampaikan kepada Yudhoyono setuju bahwa bagian atas Gunung Padang adalah "struktur megalitik terbesar di Asia Tenggara" , tetapi para ahli yang sangat curiga terhadap motivasi dan metode yang dipergunakan oleh tim Arif, dan bagaimana mereka mencoba mengibarkan bendera geologi.
Para penandatangan petisi tidak menyukai rencana Arif " melibatkan masyarakat umum sebagai relawan untuk mendukung ' Operasi Kejayaan Merah Putih di Gunung Padang' yang mereka sebut 'riset'" . Merah dan putih adalah warna bendera Indonesia . " Kegiatan ini dilakukan tanpa kaidah ilmiah untuk konservasi," kata salah satu penandatangan. Mereka percaya penggalian justru mengancam kelestarian situs yang ada dan menyatakan keras bahwa arkeologlah, bukan ahli geologi, yang harusnya dilibatkan. Salah satunya , ahli gunung api Sutikno Bronto , mengatakan Gunung Padang hanya leher gunung berapi di dekatnya, bukan piramida kuno .
"Danny Hilman bukan seorang Vulkanolog. Saya seorang vulkanolog" katanya . Adapun semen antara batu-batu yang diukur usianya menggunakan penanggalan karbon, di mana Hilman menggunakannya untuk mengklaim tentang usia situs, Sutikno yakin itu hanyalah hasil sampingan dari proses pelapukan alami bukan buatan manusia.
Salah satu seorang skeptis lainnya adalah lawan yang lebih berat . Salah satu arkeolog ,yang tidak ingin disebutkan namanya sejak Presiden tertarik, mengatakan satuan tugas presiden menipu dirinya sendiri .
"Dalam gua Pawon di Padalarang [ sekitar 45 kilometer dari Gunung Padang ] , kami menemukan beberapa tulang manusia dan alat-alat yang terbuat dari tulang sekitar 9500 tahun yang lalu , atau sekitar 7000 SM . Jadi , jika pada 7000 SM teknologi kami hanya memproduksi alat-alat dari tulang , bagaimana bisa orang-orang dari 20.000 SM memperoleh teknologi untuk membangun piramida ?" tanya arkeolog tersebut.