Quote Originally Posted by MoonCying View Post
Hukum riba ini kan utk menjaga kita dari pemikiran bodo, misalnya meminjam uang yg besar tanpa berpikir resiko, untung ruginya, dan prospek kedepannya. Seperti orang belanja dgn kartu kredit tanpa tau bagaimana nanti membayarnya. Jangan sampe kita hidup hanya utk membayar hutang, tertekan, sampe orang2 terdekat ikut terbebani. Maka dari itu muslim dituntut berpikir keras ketika akan berhutang utk bisa lolos dari bebannya riba. Bagaimanapun orang rakus itu berkeliaran di dunia tanpa bisa dicegah. Jadi berhati2...

>IMHO, mungkin begini. (Sekedar contoh soal, tidak ditujukan ke siapapun)

Sisa gaji setelah dipotong cicilan utang masih cukup buat beli pulsa internet, beli bensin, sesekali makan enak & beli gadget atau baju atau hobi = bukan riba.

Cicilan utang kelewat besar. Menjadikan diri terdesak kebutuhan sehari-hari. Yg mengakibatkan lunturnya iman di hati. Kehilangan izzah (kehormatan diri). Terjerumus jadi pegawai korup = riba.

***

Ndak ngasih bagi hasil : bisa boleh, bisa juga unfair. Tergantung, untuk bantu sesama yg kesulitan ataukah untuk pengembangan usaha.

Pinjam ke bank : bagi q, termasuk perkara yg meragukan ntah haram atau boleh.

***

As we shall soon discover that Riba (Usury)happens to be one of the most difficult subjects for the last 1400 years, for Muslims as well as for the Muslim Scholars. Hence, I appeal to my readers to read the entire article, understand the various issues with an open mind and then make their own decisions...

***

Terjemahannya: mohon gunakan pikiran & hati masing-masing. Karena di akhirat nanti (bila akhirat ada) kita akan bertanggung jawab atas pilihan & tindakan masing-masing.Manusia terlahir dg berkat masing-masing. Ada yg terlahir kaya, sehingga dia bisa bebas dari berurusan dg bank & malah jadi "pemodal mudharabah yang syar’i".Tapi yaa mungkin ada yg sekedar aset atau Slip Gaji untuk sarana pinjam ke bank pun tak ada.Wallahu a'lam.
errrr....
ini buat menjawab contoh kasus saya bukan ya?
kalau kasus saya, tentu saja sudah dipikirkan masak2.
ini hutang produktif. bukan konsumtif.
saya juga pakai pikiran yang waras meminjam maksimal 30% dari penghasilan per bulan (penghasilan saya sendiri lho)
jadi risiko juga sudah dipikirkan karena namanya usaha pasti ada risikonya.
intinya kalau bukan hutang produktif saya juga ga bakal mau hutang.

jadi pertanyaan saya sebenarnya, untuk hitang produktif macam ini apakah solusi pinjam di bank dengan bunga ini termasuk riba dan merugikan orang lain?